Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Penyakit di masa tua pada umumnya didapat sejak masih berusia muda. Ada banyak penyakit yang tidak diketahui gejalanya dan berisiko menyebabkan penyakit lainnya di kemudian hari. Misalnya diabetes yang berujung pada penyakit ginjal dan gangguan saraf.

Jangan lupa lakukan aktivitas fisik untuk mencegah pengeroposan tulang dan berkurangnya massa otot. " Kita sekarang masuk ke dalam kategori aging society karena jumlah lansia mencapai 9,9 persen. Ini akan meningkat terus. Belum lagi nanti ditambah masalah psikologis yang menyebakan lansia harus bergantung pada penduduk produktif," tuturnya.

Dream - Masalah yang banyak dialami oleh lansia adalah demensia. Kondisi ini merupakan sindrom penurunan fungsi otak, seperti berkurangnya daya ingat dan kemampuan berpikir.
Pemicu utama demensia adalah pertambahan usia. Di usia lanjut, terjadi kerusakan pada sel saraf otak di bagian tertentu.
Kerusakan itu menimbulkan efek yang berbeda. Tergantung di bagian mana kerusakan terjadi. Namun pada umumnya, penderita demensia mengalami perubahan suasana dan perilaku.
Jika lansia hanya pikun masih tidak berbahaya. Namun jika disertai gangguan perilaku, bisa jadi masalah.
" Tanda seperti suka menuduh orang, tidak cocok dengan menantu. Hati-hati dia sudah ada gangguan perilaku," kata Siti Setiati, dokter spesialis geriatri di gedung Kemenkes RI, Jakarta, kemarin.
Gejala demensia ditunjukkan dengan gangguan kognitif seperti sulit mengingat, konsentrasi menurun dan kesulitan berkata-kata.
Sementara gangguan psikologis meliputi gelisah, merasa ketakutan, gangguan perilaku dan emosi hingga berhalusinasi.

Pada kasus akut, kondisi tubuh penderita demensia sudah kesulitan melakukan aktivitas (renta) atau menurunnya fungsi anggota tubuh. Seperti mengompol, napsu makan berkurang hingga kelumpuhan di salah satu sisi tubuh.
Demensia tak lepas dari penyakit degeneratif yang kerap dialami oleh lansia atau orang berumur 60 tahun ke atas.
" Penyakit seperti kencing manis dan hipertensi bisa berujung pada demensia. Sekarang trennya lebih kepada penyakit kronik dan degeneratif," ujarnya.
Aktivitas fisik dan asupan nutrisi merupakan upaya yang dapat dilakukan guna mencegah demensia. Lansia tetap dianjurkan rutin berolahraga, misalnya dengan jalan kaki atau berenang.
Jangan lewatkan asupan protein dan kalsium untuk mencegah pengeroposan tulang dan pengurangan massa otot.
" Penglihatan dan pendengaran harus dijaga agar mereka tetap dapat membaca, mendengar dan berpikir. Hati-hati kalau lansia sudah tidak mau ngapa-ngapain, bisa jadi dia sudah demensia," kata Siti.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya