5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Tentara China (Shutterstock.com)
Dream - Perlombaan senjata militer dunia tidak pernah berhenti. Negara-negara maju terus berinovasi menciptakan senjata paling mutakhir.
Terbaru, Amerika Serikat mengklaim China telah membawa teknologi pada tingkat yang sama sekali baru. Negeri Tirai Bambu itu disebut tengah membuat senjata yang mampu " melumpuhkan dan mengendalikan" pikiran tentara musuh.
Menurut laman Daily Star, Presiden Joe Biden telah memberikan sanksi kepada akademi Ilmu Kedokteran Militer China, bersama sebelas lembaga penelitian yang berafiliasi pada pengembangan senjata itu karena menggunakan " bioteknologi" yang mencakup " persenjataan pengontrol otak" .
Memang belum ada rincian spesifik bagaimana senjata itu bekerja, namun sebuah sumber mengklaim bahwa China tidak ingin " menghancurkan tubuh" tentara musuh, melainkan " menyerang keinginan musuh untuk melawan" dengan melumpuhkan dan mengendalikan mereka.
Klaim itu berasal dari dokumen yang diperoleh Departemen Perdagangan Amerika pada 2019. Dukumen itu kemudian dibocorkan ke Washington Times.
Laporan tersebut menyatakan bahwa para ilmuwan China sedang berupaya untuk mengambil kendali atas " lingkup kesadaran manusia" yang menyebabkan otak menjadi target utama penyerangan dan pertahanan senjata konsep baru.
Laporan tersebut diterbitkan di surat kabar resmi militer China, PLA Daily, yang juga mengklaim bahwa negara itu menggabungkan empat bidang teknologi utama, yaitu nano, bio, informasi, dan kognisi.
Laporan tersebut menyatakan: " Penggabungan manusia-mesin di masa depan akan berkisar pada kontes otak."
" Kedua belah pihak akan menggunakan berbagai jenis teknologi kontrol otak dan desain yang efektif untuk fokus mengambil alih cara berpikir dan kesadaran musuh, dan bahkan secara langsung campur tangan dalam pemikiran para pemimpin dan staf musuh, dan dengan itu menghasilkan perang untuk mengendalikan kesadaran dan pemikiran."
Ada dua laporan lain, yang juga menjelaskan salah satu cara yang mungkin untuk mencapai metode pengendalian pikiran dengan menggunakan peralatan yang dapat dipakai untuk " merangsang atau memanipulasi" aktivitas listrik otak.
AS mengumumkan sanksi, mengklaim bahwa itu karena kebijakan baru China yang " bertentangan dengan keamanan nasional dan kebijakan luar negeri AS."
Sanksi itu juga diterapkan pada sejumlah badan, di antaranya Institute of Radiation and Radiation Medicine, the Institute of Basic Medicine, serta the Institute of Hygiene and Environmental Medicine.
Kemudian juga the Military Veterinary Research Institute yang dianggap sebagai upaya China untuk menguji teknologi pada hewan terlebih dahulu.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?