Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Vaksinasi
Dream - Salah satu penyakit yang kembali mengintai di penghujung 2017 adalah difteri. Penyakit mematikan itu pada umumnya menyerang anak-anak. Namun tak menutup kemungkinan bagi orang dewasa untuk dapat terjangkit difteri.
Difteri berasal dari bakteri corynebacterium yang bersifat racun. Penyakit ini dapat menyerang setiap orang dengan daya tahan tubuh yang rendah, serta tak memiliki perlindungan sama sekali melalui vaksinasi.
"Penyakit difteri mulai bergeser dari anak menuju dewasa. Terutama dengan banyaknya orang dewasa yang tidak tahu bagaimana riwayat imunisasinya," ujar Iris Rengganis, dokter spesialis penyakit dalam saat ditemui dalam seminar kesehatan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Salemba, Jakarta Pusat, kemarin.
Iris menekankan, orang dewasa sebaiknya ikut melakukan booster vaksin. Berbeda dengan anak-anak, orang dewasa di atas usia 18 tahun tidak dapat melakukan vaksinasi melalui program gratis pemerintah Outbreak Response Immunization (ORI).
Untuk mendapat vaksin difteri memang harus dilakukan mandiri di rumah sakit atau pelayanan kesehatan terdekat.
"Bagi orang dewasa tidak gratis, namun tetap harus melakukan vaksinasi sebanyak tiga kali secara berulang (booster), karena vaksinasi difteri tidak dapat menyebabkan kekebalan seumur hidup seperti penyakit lain, contohnya campak," ujarnya.
Vaksinasi bagi orang dewasa yang belum pernah mendapat anti DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus) dilakukan dalam rentang waktu bulan ke-0, 1 dan 6.
Selanjutnya dilakukan booster selama 10 tahun sekali. Sementara bagi yang sudah pernah mendapat anti DPT, hanya perlu melakukan booster saja.
Jenis vaksin yang digunakan tentunya berbeda dari vaksin untuk anak. Apabila anak di bawah usia 18 tahun mendapat anti DPT, orang dewasa hanya perlu mendapat vaksin Td (Tetanus dan difteri). Hal ini dilakukan karena orang dewasa hanya memerlukan dosis yang lebih sedikit.
"Semakin bertambah usia orang, maka efek samping reaksi lokal dari vaksin difteri semakin besar. Makanya diganti memakai Td yang dosisnya lebih rendah. Tidak akan terjangkit selama mendapat vaksinasi," ungkap dr Iris.
(ism, Laporan Annisa Mutiara)
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya



Sering Minum Boba? Ini 5 Dampaknya bagi Tubuh, dari Gula Darah hingga Asupan Antioksidan