Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Covid-19. (Source: Shutterstock)
Dream - Tidak hanya jumlah kasus, gejala Covid-19 juga terus bertambah. Dilansir oleh BBC, penelitian Zoe Covid Symptom yang dilakukan oleh Prof Tim Spector membuktikan bahwa flu pada orang berusia lebih muda bisa menjadi gejala varian Delta.
Meski terdengar tidak terlalu berat, kondisi tersebut perlu diperhatikan. Layanan Kesehatan Nasional Britania, NHS, menyatakan bahwa gejala klasik Covid-19 adalah batuk, demam, dan hilangnya indera perasa serta penciuman.
Berdasarkan data pemakai aplikasi Zoe Covid Symptom, gejala klasik tersebut sudah jarang dialami. " Sejak bulan Mei, kami memantau gejala dari pengguna aplikasi. Dan mereka tidak merasakan hal yang sama seperti sebelumnya," ungkapnya.
Gejala Covid-19 varian Delta meningkat. Sebelumnya, jenis virus tersebut muncul di India dan kini mendominasi hampir 90 persen kasus di Inggris.
Salah satu gejala yang berkurang drastis adalah kehilangan indera penciuman. Gejala yang lebih ringan ini cukup mengkhawatirkan.
Orang yang berusia muda bisa tetap beraktivitas tanpa mengetahui kondisi mereka sebenarnya. Jadi, lebih baik untuk melakukan tes Covid-19 terlebih dulu jika ingin beraktivitas di luar rumah.
Selain Delta, virus Covid-19 varian Alpha atau varian Inggris juga menimpa jutaan orang di negara itu sendiri.
Beberapa gejala yang kerap dirasakan adalah meriang, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, serta nyeri otot.
Walaupun Covid-19 memiliki gejala yang sudah diungkapkan, semua orang harus tetap berhati-hati, menjaga imunitas dan mencari tahu kondisi tubuh sebelum beraktivitas di luar ruangan.
Dream - Kasus Corona di dunia sudah tembus lebih dari 95 juta. Bahkan beberapa diantara kembali mencatat lonjakan kasus Covid-19. Namun, beberapa negara juga menunjukkan penurunan bahkan telah mencabut status emergency, salah satunya Slovenia.
Dikutip dari Euronews.com, Rabu 16 Juni 2021, status darurat Covid-19 di Slovenia telah berakhir sejak Selasa, 15 Juni 2021, setelah sebelumnya diberlakukan lockdown secara ketat selama 8 bulan lamanya. Dalam pernyataan Kementerian Kesehatan Slovenia, mencatat 112 kasus aktif dan dua kasus kematian.
Sekitar 45 persen penduduk dewasa di Slovenia juga sudah menerima vaksin Corona dosis pertama dan 32 persen lainnya sudah menerima dosis kedua. Hingga pada akhirnya, negara ini pun mencapai herd immunity (kekebalan komunal).
Meski herd immunity diklaim sudah terbentuk, pemerintah tetap memberlakukan protokol kesehatan ketat seperti memakai masker di dalam ruangan tempat umum serta menjaga jarak aman.
Sumber: euronews.com
Dream - Republik Kiribati tengah jadi perbincangan. Negara yang letaknya di kepulauan Samudera Pasifik dengan populasi 122.330 jiwa, dilaporkan tidak miliki kasus virus corona alias masih bersih dari Covid-19.
Penduduk Kiribati percaya kelapa merupakan makanan pokok yang diklaim sebagai kunci status bebas virus Covid-19 di sana.
" Kami menggunakan moimoto (kelapa) untuk bertahan melawan virus. Ini sangat kaya akan vitamin C dan vitamin A," kata seorang guru Sekolah Dasar di Tarawa, Rooti Tianaira, dilansir dari Mirror.co.uk, Selasa 12 Mei 2020.
Kata Rooti, nenek moyang mereka biasa makan kelapa parut yang dikenal karena rasanya khas tetapi memiliki khasiat memberi kesehatan untuk sarapan.
" Kami kuat, tanpa penyakit. Jadi sekarang, buah-buahan lokal ini digunakan sebagai obat untuk membangun sistem kekebalan tubuh. Sudah dijual di kios-kios pinggir jalan," jelasnya.
Meski jumlah pohon kelapa melebihi penduduknya, Rimon Rimon, seorang jurnalis setempat, mengaku baru mengetahui buah ini bisa digunakan sebagai obat melawan Covid-19.
Bukan hal aneh jika ada orang yang menjual kelapa. " Namun bisa mengatasi virus corona? Ini baru bagi saya," tegas Rimon.
Kemampuan moimoto adalah satu dari sekian rumor konyol dari negara bekas koloni Inggris itu.
" Kabar itu menjadi isu utama di sini. Karena baru belakangan ini orang mendapat akses ke internet, jadi mereka dibombardir dengan informasi," ujar dia.
Berdasarkan pengamatan Rimon, masyarakat di negara yang masuk kategori paling tidak berkembang itu (LDC) oleh PBB, masih tidak bisa membedakan mana kabar hoaks. Jadi, mereka menyebarkan apa yang menurut mereka benar.
Merebaknya informasi keliru ditambah dengan belum jelasnya regulasi pemerintah mengenai apa saja yang bisa dibagikan di media sosial.
Selama ini, masyarakat mengandalkan informasi mengenai wabah dari Kementerian Kesehatan dan Kantor Kepresidenan.
" Pemerintah perlu memerhatikan bagaimana rakyat memperoleh informasi, dan memperingatkan mereka bisa terkena masalah jika membagikan kabar ngawur" .(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya