Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

Perawatan Antibodi Covid-19 AstraZeneca Gagal di Fase Ketiga

Reporter : Mutia Nugraheni
Rabu, 16 Juni 2021 10:48
Perawatan Antibodi Covid-19 AstraZeneca Gagal di Fase Ketiga
Uji coba fase 3 dari pengobatan AZD7442 menemukan bahwa zat tersebut tidak secara signifikan lebih efektif daripada plasebo

Dream - Bukan hanya vaksin, AstraZeneca juga mengembangkan terapi obat untuk Covid-19. Sayangnya pengobatan antibodi Covid-19 AstraZeneca gagal memenuhi target utamanya dalam uji coba terbaru.

Uji coba fase 3 dari pengobatan AZD7442 menemukan bahwa zat tersebut tidak secara signifikan lebih efektif daripada plasebo. Dari 1.121 peserta yang telah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi, 23 yang menggunakan obat tersebut menunjukkan gejala Covid-19, dibandingkan dengan 17 pada plasebo.

Hasil AZD7442 lebih menggembirakan ketika obat itu diberikan kepada pasien yang belum dites positif terkena virus, yaitu mengurangi risiko kondisi lebih parah hingga 73 persen.

“ Meskipun uji coba ini tidak memenuhi titik akhir utama terhadap penyakit simtomatik, kami didorong oleh perlindungan yang terlihat pada peserta PCR-negatif setelah pengobatan dengan AZD7442,” kata Mene Pangalos, wakil presiden eksekutif penelitian dan pengembangan biofarmasi di AstraZeneca, dikutip dari Financial Times.

 

1 dari 6 halaman

Perawatan ini dalam beberapa uji coba tahap akhir dengan 9.000 peserta gabungan. Myron Levin, seorang profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Colorado, dan peneliti utama dalam percobaan tersebut, mengatakan percobaan lain yang disebut Provent akan memberikan lebih banyak data tentang populasi pasien ini.

“ Sementara upaya vaksinasi Covid-19 telah berhasil, masih ada kebutuhan yang signifikan untuk pilihan pencegahan dan pengobatan untuk populasi tertentu, termasuk mereka yang tidak dapat divaksinasi atau mereka yang mungkin memiliki respons yang tidak memadai terhadap vaksinasi,” kata Levin.

Perawatan antibodi dari perusahaan seperti Regeneron dan Eli Lilly telah digunakan untuk meningkatkan respons kekebalan pasien dengan Covid-19. Mantan Presiden AS Donald Trump termasuk di antara penerima perawatan Regeneron.

2 dari 6 halaman

WHO: Vaksinasi Covid-19 Indonesia Tercepat se-Asia Tenggara

Dream - Perwakilan WHO menyatakan Indonesia merupakan negara tercepat se-Asia Tenggara dalam melakukan vaksinasi Covid-19. Pasokan vaksin dalam negeri juga dinilai cukup aman.

Immunization Officer WHO Indonesia, Olivi Silalahi, mengatakan, Indonesia cukup beruntung karena pemerintah berhasil mengamankan pasokan vaksin lebih dini. Ditambah lagi, vaksinasi dilakukan dengan gebyar cukup besar.

" Didukung oleh Presiden kita yang terus monitoring pelaksanaan vaksinasi dan juga Bapak Menteri Kesehatan," ujar Olivi dalam dialog virtual disiarkan kanal FMB9ID_IKP.

Dibandingkan negara-negara lain yang masuk cakupan WHO South-East Asia Regional Office (SEARO), kata Olivi, Indonesia di urutan kedua negara dengan penduduk terbanyak sudah menerima vaksinasi. Urutan pertama ditempati India.

Olivi menerangkan untuk ukuran negara yang belum memproduksi sendiri vaksin Covid-19, Indonesia sudah cukup maju dalam melaksanakan vaksinasi. Meski begitu, masih ada tangangan yang dihadapi Indonesia.

" Tantangan dalam menjangkau kelompok-kelompok yang memang rentang apabila terkena Covid-19, akan menjadi kasus yang berat dan bahkan kematian," kata dia.

 

3 dari 6 halaman

Sistem Kesehatan Siap

Olivi mengatakan Indonesia punya banyak pengalaman vaksinasi rutin. Secara umum, sistem kesehatan di Indonesia sudah siap melaksanakan vaksinasi dalam skala besar.

" Namun, seperti yang sudah kita bahas, keterbatasan vaksin menjadi tantangan di seluruh negara termasuk Indonesia," kata dia.

Lebih lanjut, Olivi mengingatkan vaksinasi hanya salah satu cara mencegah pandemi Covid-19. Dia kembali mengingatkan masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan.

" 3M, 3T tetap harus dikuatkan karena ini saling melengkapo, tidak bisa ada satu dan dua, tetapi harus bisa dilakukan bersama-sama," ucap Olivi.

4 dari 6 halaman

Syarat dan Cara Vaksinasi Covid-19 untuk Warga Umur 18 Tahun di Jakarta

Dream - Pemprov DKI Jakarta telah membuka penyelenggaraan vaksinasi Covid-19 untuk masyarakat ibukota yang berusia minimal 18 tahun ke atas. Kepala Bidang Penanganan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dwi Oktavia mengatakan vaksinasi hanya dapat diberikan kepada masyarakat yang berdomisili di Ibu Kota.

" Cukup membawa KTP atau surat domisili dari RT atau RW setempat. Kemudian tinggal datang aja ke tempat layanan vaksinasi," katanya dikutip dari merdeka.com, Kamis 10 Juni 2021.

Tempat vaksinasi yang disediakan adalah fasilitas kesehatan yang ada seperti Puskesmas dan  sentra vaksinasi yang telah ditetapkan oleh Dinkes DKI seperti Gedung Olahraga (GOR) atau sekolahan.

Seperti halnya dalam unggahan di akun instagram Puskesmas Pancoran disebutkan bila sentra vaksinasi ada di SMA Percik dan GOR Pengadegan.

Dalam unggahan tersebut juga disebutkan waktu vaksinasi untuk setiap warga berdasarkan kelurahannya. Misal untuk warga Kelurahan Pancoran mulai pukul 08.00-09.00 WIB.

5 dari 6 halaman

Pakai Vaksin AstraZeneca

Sebelumnya, Juru Bicara Vaksinasi dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menyatakan untuk vaksinasi untuk masyarakat umum 18 tahun ke atas baru akan dilakukan di DKI Jakarta.

" Iya baru DKI dulu. Di DKI Jakarta, sudah mulai dan pakai AstraZeneca di awal ini," kata Nadia saat dihubungi Liputan6.com, Rabu, 9 Juni 2021. 

Kementerian Kesehatan secara resmi telah menyetujui pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk usia 18 tahun ke atas di DKI Jakarta. Hal tersebut berdasarkan Surat edaran dari Kemenkes Nomor SR.02.04/II/1496/2021 mengenai Tanggapan atas permohonan persetujuan pelaksanaan vaksinasi di Provinsi DKI Jakarta .

6 dari 6 halaman

Dalam surat tersebut, dinyatakan bahwa hingga 6 Juni 2021, jumlah positif Covid-19 di Provinsi DKI Jakarta sebesar 435.135 kasus (bertambah 1.019) dengan kasus aktif sebanyak 11.516 (2,6 persen).

Lalu untuk kasus kematian sebanyak 7.438 kasus (bertambah 15 orang), dimana 35 persen kasus positif aktif dengan gejala sedang sampai dengan kritis membutuhkan perawatan rumah sakit.

" Persentase kasus positif di Provinsi DKI Jakarta selama satu pekan terakhir sebesar 7,62 persen (lebih dari 5 persen). Hal ini menunjukkan bahwa transmisi penularan penyakit di Provinsi DKI Jakarta masih cukup tinggi," tulis pernyataan tersebut.

Sumber: merdeka.com

Beri Komentar