5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Ilustrasi (Foto: Orientaldaily.com.my)
Dream - Perjuangan para relawan dan tim medis Ketika epidemi Wuhan terus menyebar, para dokter dan profesional medis telah bekerja tanpa lelah mencari penyembuhan untuk penyakit mematikan itu.
Banyak yang telah mengorbankan tidur mereka, waktu bersama keluarga mereka - beberapa bahkan telah mengorbankan hidup.
Baru-baru ini, seorang dokter yang sedang melakukan uji laboratorium untuk menemukan obat wabah virus corona memperlihatkan kondisi tangannya yang merah dan bengkak disertai radang.
Tangannya mengalami kondisi mengerikan setelah menghabiskan lebih dari 12 jam sehari di laboratorium untuk mengumpulkan sampel virus yang sekarang mewabah di beberapa negara.
Dokter, yang dikenal sebagai Chen Jun, adalah wakil direktur Departemen Laboratorium di Rumah Sakit Paru Wuhan. Dia bekerja selama 19 tahun di sana.
Menurut Chen, tim laboratorium biasanya melakukan dua putaran pengujian sebanyak dua kali dalam sehari. Dalam setiap putaran membutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk menyelesaikannya.
Tetapi karena beratnya wabah virus corona, tim laboratorium harus bekerja selama 12 jam, hingga pukul 02:00 atau 03:00 pagi, setiap hari.
Karena berada sangat dekat dengan virus, Chen harus selalu berada dalam alat pelindung sepanjang waktu. Akibatnya, tangan Chen mulai berubah merah dan bengkak disertai radang akibat jarang kena udara.
Kondisi yang dialami oleh Chen dan rekan-rekannya itu dinamakan Erythema, yaitu terjadinya peradangan karena aliran darah di kapiler yang meningkat.
Chen mengungkapkan 27 dokter laboratorium dikirim pada awal Januari untuk memeriksa lebih dari 100-300 sampel virus untuk memilah setiap virus satu per satu.
Dia mengakui bahwa setelah bekerja untuk jangka waktu yang lama, keringat dari tangan akan membuat kulit mengalami iritasi karena terperangkap dalam sarung tangan karet kedap udara.
Akibatnya, dia dan rekan-rekannya berusaha mengatasi iritasi kulit dan peradangan secara terus menerus.
Mereka hanya beristirahat sebentar untuk mengobati dan membalut tangan sebelum kembali ke pekerjaan mereka yang menyiksa.
Kondisinya itu tidak menyurutkan semangat Chen dan rekan-rekannya untuk menemukan obat bagi virus corona.
Chen mengatakan setiap pengujian membutuhkan 10 langkah untuk diselesaikan. Meskipun melelahkan, penting baginya untuk tetap fokus selama proses berlangsung.
" Saya tidak boleh menyerah, karena masih banyak orang menunggu hasil ini. Saya harus bertahan," katanya.
Sumber: World of Buzz
Dream - Kasus virus Corona Wuhan (2019-nCoV) di kota Wuhan, Provinsi Hubei, mencapai 11.000 orang. Para staf kesehatan berusaha keras menangani menyebarnya virus ini.
Seorang perawat di Departemen Penyakit Terinfeksi di Rumah Sakit Anak Provinsi China, Hu Pei, 22 tahun, bekerja keras hingga wajah dan tangannya penuh tanda merah. Bahkan, tangannya tampak keriput dan pecah-pecah karena terpapar alkohol selama seharian.
Kondisi ini membuat punggung tangannya seperti kulit orang tua.
Dilaporkan China Press, Hu Pei lahir di 1998. Selama bertugas menjalani kegiatan, dia menggunakan pakaian dan sarung tangan selama sehari, dengan bedak talcum di dalam sarung tangannya.

" Aku bersiap untuk menjalani karantina setiap waktu," kata dia.
Dia mengatakan, ikut serta dalam misi itu sebagai bagian tanggung jawab generasi setelah 90-an.
" Faktanya, kami tidak takut, namun kami punya misi dan kami harus melakukan sesuatu. Kami muda dan takut tidak berpengalaman," ujar dia.
" Kadang ada rasa takut dan khawatir dalam hati dan keluargaku, tapi menggunakan masker, dan penutup wajah, baju pengaman tidak akan membuatku khawatir," ucap dia.
Kolega Hu Pei, Ning Bin berharap Hu Pei tidak lupa menggunakan krim dan sarung tangan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?