Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ilustrasi
Dream - Virus Covid-19 varian delta kini tengah mendominasi di Indonesia. Penularannya yang begitu cepat membuat kasus melonjak drastis hingga membuat fasilitas kesehatan kewalahan.
Belum juga terselesaikan dengan baik, Komite darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa ada varian Covid-19 yang baru dan lebih berbahaya. Diperkirakan akan menyebar ke seluruh dunia.
Kondisi tersebut membuat akan sangat sulit untuk menghentikan pandemi, seperti dikutip dari laman France24. Kabar dari WHO ini tentu saja jadi berita buruk.
" Pandemi belum selesai," komite WHO memperingatkan dalam sebuah pernyataan Kamis 15 Juli, setelah pertemuan sehari sebelumnya.
Ketua komite darurat WHO, Didier Houssin mengakui bahwa " tren baru-baru ini mengkhawatirkan" . Untuk saat ini, empat varian terkait COVID-19 mendominasi gambaran pandemi global: Alpha, Beta, Gamma dan terutama varian Delta yang menyebar cepat.
Komite memperingatkan bahwa yang lebih buruk bisa terjadi di depan, menunjuk pada " kemungkinan kuat munculnya dan penyebaran global varian baru yang mungkin lebih berbahaya, bahkan lebih menantang untuk dikendalikan."
" Pandemi tetap menjadi tantangan secara global dengan banyak negara-negara menavigasi tuntutan kesehatan, ekonomi dan sosial yang berbeda," kata Didier.
Ia juga mengungkap kalau negara-negara dengan akses terbatas ke vaksin bakal mengalami gelombang infeksi baru. " Melihat erosi kepercayaan publik meningkatnya kesulitan ekonomi, dan dalam beberapa kasus, meningkatkan kerusuhan sosial," ungkapnya.
Kepala Unit di bagian Imunisasi WHO, Dr Ann Lindstrand, buka suara soal kebijakan pemerintah Indonesia yang menjual belikan vaksin Gotong Royong. Ia mengkritik soal kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, demikian disampaikan dalam publikasi wawancara Lindstrand di situs resmi who.int, Kamis, 15 Juli 2021.
" Penting bagi setiap warga negara memiliki kemungkinan yang sama untuk mendapatkan akses apapun. Termasuk pembayaran (vaksin) yang akan menimbulkan masalah etika dan akses khususnya selama pandemi," ujar Lindstrand.
Selain itu ada dosis COVAX yang disampaikan melalui kerjasama dengan badan UNICEF, WHO, dan badan lain. Tentu saja mereka memiliki akses vaksin gratis untuk tiap negara.
" Yang penting di sini adalah bahwa setiap orang memiliki hak dan harus memiliki akses ke vaksin secara setara terlepas dari masalah keuangan," kata Lindstrand.
Laporan Teddy Tri/ Sumber: Liputan6.com
Dream - Seluruh negara masih berkutat dengan virus SARS-CoV-2 atau virus Corona penyebab COVID-19. Indonesia saat ini sedang dibanjiri varian delta yang diketahui penularannya memang lebih cepat.
Belum selesai sampai di situ, ternyata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja memasukkan satu lagi varian SARS-CoV-2/virus Corona penyebab COVID-19 ke dalam variants of interest, yaitu varian Lambda.
Dikutip dari laman resmi WHO, virus Corona varian Lambda memiliki nama ilmiah C.37, dan pertama kali diidentifikasi di Peru pada Desember 2020.
Menurut WHO, isolat SARS-CoV-2 dapat dimasukkan dalam VOI jika (dibandingkan isolat referensi) genomnya memiliki mutasi dengan implikasi fenotipik yang telah ditetapkan atau diduga, dan salah satu dari:
- Telah diidentifikasi menyebabkan beberapa penularan komunitas/beberapa kasus/klaster COVID-19, atau telah terdeteksi di banyak negara, atau
- Dinyatakan sebagai VOI oleh WHO yang berkonsultasi dengan WHO SARS-CoV-2 Virus Evolution Working Group.
Secara keseluruhan sudah ada 7 variants of interest (VOI) COVID-19 yang dilaporkan oleh WHO. Selain Lambda, varian yang masuk kategori VOI lainnya adalah Epsilon, Zeta, Eta, Theta, Iota, dan Kappa.
Sementara, untuk varian virus corona COVID-19 yang masuk ke dalam variants of concerns (VOC) hingga sejauh ini adalah Alpha, Beta, Gamma, dan Delta.
Sampai pada pertengahan Juni 2021, dari laporan Xinhua, WHO mengungkap bahwa varian Lambda sudah diidentifikasi di 29 negara, terutama di wilayah Amerika Selatan.
Varian Lambda dimasukkan ke dalam VOI karena adanya peningkatan prevalensi di Amerika Selatan.
Sejak April 2021, Lambda dikabarkan telah menyebar di Peru, di mana 81 persen kasus COVID-19 terkait dengan varian ini. WHO menyebutkan, garis keturunan Lambda memiliki mutasi yang dapat mungkin bisa meningkatkan penularan atau memperkuat ketahanan virus terhadap antibodi.
Sayangnya menurut WHO, bukti mengenai dua hal tersebut masih sangat terbatas. Sehingga diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami varian Lambda dengan lebih baik.
Sementara, dikutip dari laman pemerintah Inggris, gov.uk, Public Health England (PHE) menemukan ada enam kasus varian Lambda yang ditemukan di Inggris, dan semuanya terkait dengan perjalanan ke luar negeri.
" Saat ini tidak ada bukti bahwa varian ini menyebabkan penyakit yang lebih parah atau membuat vaksin yang saat ini digunakan menjadi kurang efektif," tulis PHE pada 25 Juni 2021 lalu.
Laporan Giovani Dio/ Sumber: Liputan6.com
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya