Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Ilustrasi/Shutterstock
Dream – Industri fesyen cukup banyak menyumbang limbah pada lingkungan. Oleh karena itu, semua pelaku bisnis fesyen diharapkan menerapkan konsep “ sustainable”.
“ Seperti yang diketahui, fashion jadi penyumbang limbah ke dua setelah minyak, saya sebagai pelaku dan pengguna dan produk fashion merasa bertanggung jawab untuk menghasilkan produk yang bisa lebih ramah lingkungan dan nantinya bisa mengurangi dampak pencemaran lingkungan,” tutur Ali Charisma pada konferensi pers 'Sustainability & Charity Event' Ali Charisma, Kamis 18 Februari 2021.
Dalam hal ini, konsep terus dibangun dan diregenerasi agar semakin meluas dan besar, supaya lingkungan di bumi ini tetap dapat terus terjaga.
Konsep sustainable fasionable sendiri, memiliki tiga elemen yang tidak bisa dipisahkan, yaitu people, planet, dan profit. Sehingga pembuatannya tidak hanya memikirkan lingkungan tetapi tetap akan memikirkan sisi pengguna serta profit untuk para pembisnis.
Beberapa cara penerapan sustainable fashion pada industri fesyen yang sudah mulai dilakukan di beberapa sekolah fesyen Indonesia, di antaranya adalah:

Perubahan tren fesyen yang sangat cepat, kuantitas prduksi yang tinggi, dan harga produk yang semakin lama semakin rendah yang memengaruhi jadi penyebab industri fesyen menyumbang limbah kedua terbanyak dan terus bertambah.
Menyadari hal tersebut, beberapa sekolah fesyen sudah mulai memberikan edukasi mengenai pentingnya menggunakan bahan-bahan alami dalam pembuatan produk.
“ Harus selalu mengedukasi mahasiswa tentang konsep dan praktik sustainable fashion, karena betapa pentingnya generasi muda untuk menyadari dan melakukan sesuatu, supaya masa dengan bumi dan umat mendatang akan lebih baik,” tutur Marini Yunita Tanzil ketua program studi FPD Universitas Ciputra di kesempatan yang sama.
Setiap tahun, desainer baru muncul untuk membuat produk fesyen baru. Bertambahnya desainer juga membuat limbah yang dihasilkan bertambah, sehingga diperlukannya recycle atau pemakaian kembali bahan-bahan yang dapat dipakai untuk pembuatan suatu produk fesyen.
“ ESMOD pertama memulai dengan recycle, kemudian me-reduce semua penggunaan submition yang dari tadinya kertas jadi pakai online, lalu melakukan partnership dengan perusahaan yang memakai bahan-bahan alami atau recycle fiber,” ujar Chika Herningtias Event Manager ESMOD Jakarta pada kesempatan sama.
Zero Waste Pattern
Hal ini dilakukan pada pembuatan produk fesyen baru, menghasilkan produk dengan seminimal mungkin limbah yang dihasilkan. Misalnya dengan bahan-bahan alami, seperti cat warna alami, memakai bahan natural fiber dan sebagainya.
“ Banyak mahasiswa kami yang sudah mengeksplorasi bahan alternatif jadi bahan pengganti, mislanya bahan sintetik, bahan pengganti plastik dengan bio-plastik yang 100 persen memakai material alami dan tidak akan merugikan lingkungan nantinya,” tutur Marini.
Merekonstuksi barang yang sudah lama tidak terpakai atau terjual, diberika 'soul' baru agar dapat disukai masyarakat kembali.
Sehingga barang yang tadinya hanya dipajang di toko, dapat terjual atau terpakai dan menumbuhkan banyak minat pembeli, jadi tidak terbuang sia-sia.

“ ESMOD beberapa barang kemudian kita rekonstruksi, yang bahkan kompetisi tahunan kita membawa konsep ini dan banyak sekali yang ikut berpartisipasi, terutama dari non fashion background, mereka punya ide yang luar biasa untuk merekontruksi baju-baju yang mereka punya,” tutur Chika.
“ Mahasiswa kami melakukan teknik upcycling dengan memakai sampah-sampah plastik yang sudah dieksplorasi untuk menciptakan barang baru sehingga memperpanjang lifestainable dari produk tersebut,” tutup Marini.
Laporan: Josephine Widya
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya