Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
Masjid Vali-e-Asr (Foto: Fluid Motion Architects)
Dream - Pembangunan sebuah masjid umumnya disambut antusias oleh masyarakat. Tapi sebuah masjid di Iran justru memunculkan kontroversi usai dibangun.
Adalah Masjid Vali-e-Asr yang didesain oleh arsitek Iran Reza Daneshmir dan Catherine Spiridonoff. Terletak di dekat teater Teheran, masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur yang modern dan unik.
Salah satu wujud kemodernan dan keunikan masjid ini terlihat pada bentuk bangunannya yang tanpa kubah dan menara. Ya, tak seperti masjid kebanyakan, Masjid Vali-e-Asr dibangun tanpa menara dan kubah.

Menarik ya Sahabat Dream Travel? Tapi justru karena hal inilah Masjid Vali-e-Asr menuai kontroversi di kalangan masyarakat Iran.
Dikutip dari The Guardian, kelompok Islam garis keras di Iran menganggap jika bangunan tersebut disebut sebagai masjid. Bahkan salah satu media konservatif setempat pernah menuliskan bahwa masjid tersebut " dibuat cacat demi menghormati teater" . Desain post modern masjid tersebut dianggap menghina dan tak punya arti sama sekali.
Masjid Vali-e-Asr sendiri sebenarnya akan diresmikan pada pertengahan tahun lalu. Tapi, karena kontroversi yang muncul, pendanaan konstruksi masjid itu pun terpaksa dihentikan.
Sementara itu, menanggapi tudingan yang muncul dari kelompok garis keras, arsitek Vali-e-Asr justru mengatakan jika masjid itu mengambil inspirasi dari kitab suci umat Islam.
" Sumber terbesar kami untuk proyek ini adalah Alquran itu sendiri. Kami coba mendesain masjid dengan kesederhanaan, kesederhanaan dan niat baik, dan bukan masjid yang menyombongkan diri dari tingginya struktur bangunan," kata kedua arsitek.
" Kami ingin menciptakan interaksi antara masjid, yang punya esensi kultural, dan teater Kota Teheran. Kami ingin membuatnya sebagai proyek budaya yang harmonis dengan sekelilingnya - masjid harus merespon kebutuhan zaman," ujar mereka.
(Sumber: The Guardian)
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama
