Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream- Pergerakan angka penderita Virus Corona semakin bertambah. Tercatat hingga Jumat sore 27 Maret 2020 jumlah positif Corona sebanyak 1.046 kasus.
Sedangkan, angka dunia menunjukkan 531.864 kasus di 199 Negara. Dengan jumlah angka yang relatif tinggi itu, berapa persentase angka yang disumbangkan oleh perokok?
Semakin banyak bukti menunjukkan, perokok berisiko lebih tinggi mengalami COVID-19 dibandingkan mereka yang tidak merokok.
Dilansir dari Forbes.com, satu studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine bulan Februari, mengamati 1.099 pasien di China dengan COVID-19.
Hasilnya, dari 173 pasien yang memiliki gejala parah, 16,9% di antaranya adalah perokok aktif dan 5,2% sebelumnya merokok.
Di antara pasien dengan gejala yang kurang parah, 11,8% adalah perokok saat ini dan 1,3% mantan perokok.
Lebih mengejutkan lagi, penelitian menunjukkan kelompok pasien yang masuk ke unit perawatan intensif akhirnya meninggal, 25,5% adalah perokok saat ini.
Dilansir dari brusselstimes.com, seorang dokter kesehatan masyarakat di Sekolah Kesehatan Masyarakat dan Komunitas Braun Universitas Hebrew menulis, dalam sebuah penelitian kecil terhadap sekitar 80 pasien korona, mereka yang merokok 14 kali lebih mungkin memiliki penyakit serius.
Di Cina, angka kematian lebih tinggi pria daripada wanita. Salah satu hipotesis adalah bahwa ini juga disebabkan oleh merokok. Sekitar 50 persen pria di Cina merokok, dibandingkan hanya 2% wanita.
Walaupun tidak ada bukti, perokok berisiko lebih tinggi tertular virus corona, penelitian menunjukkan perokok lebih rentan untuk mengalami komplikasi setelah terinfeksi, mengapa hal ini bisa terjadi?
Dikutip dari Hellosehat.com, Merokok membawa dampak buruk pada sistem kekebalan tubuh. Rokok mengandung berbagai zat kimia beracun, satu di antaranya adalah zat karsinogen yang dapat menyebabkan kanker serta karbon monoksida.

Kedua zat itu akan terhirup oleh saluran pernapasan dan kemudian memicu kerusakan organ.
Akibatnya, organ sistem jantung, pembuluh darah, dan fungsi pernapasan akan menurun. Sehingga, tubuh akan kesulitan melawan bakteri dan virus penyakit yang dihasilkan oleh lingkungan sekitar.
Hal ini dikarenakan organ tubuh vital harus mengatasi kerusakan organ dan berusaha melawan racun dari paparan asap rokok.
Oleh sebab itu, merokok dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi produksi antibodi pada manusia.
Akibatnya, perokok mungkin memiliki risiko yang cukup tinggi dalam mengembangkan gejala COVID-19 yang lebih parah, seperti pneumonia dibandingkan mereka yang tidak merokok.

Dengan atau tidak adanya virus Corona COVID-19 ini, aktivitas merokok dapat menyebabkan penggunanya mengalami kerusakan pada sistem pernapasan.
Jika ditambah dengan terjangkit virus yang juga menyerang pernapasan ini, kecil kemungkinan penderitanya akan sembuh.
Dilansir dari hellosehat.com, memaparkan bukti yang menunjukkan perokok cenderung memiliki risiko terkena dampak yang parah ketika terinfeksi COVID-19.
Asap rokok yang terpapar dalam paru-paru perokok juga menjadi faktor yang menyebabkan kondisi parah tersebut.
Paru-paru secara alami menghasilkan lendir. Akan tetapi, perokok menghasilkan lendir yang lebih banyak dan lebih tebal, sehingga paru-paru kesulitan membersihkan ledir tersebut.
Alhasil, lendir dapat menyumbat paru dan membuatnya lebih rentan terhadap infeksi virus dan bakteri.
Studi dari Chinese Medicine Journal yang dilansir Hellosehat.com mendiagnosis beberapa pasien Tiongkok dengan diagnosis pneumonia terkait COVID-19.

Hasilnya, perkembangan penyakit hingga menyebabkan kematian terjadi 14 kali lebih tinggi diantara kelompok perokok, dibandingkan mereka yang tidak merokok.
Maka dari itu, banyak ahli yang menyarankan para perokok untuk menghentikan kebiasaannya. Mengingat risiko mereka lebih tinggi menimbulkan kondisi yang parah jika terinfeksi virus corona COVID-19.

Dilansir dari brusselstimes.com, Dr. Anne Boucquiau, juru bicara pencegahan tembakau di Yayasan Melawan Kanker menerangkan, merokok merusak silia di paru-paru, yang berfungsi dengan baik untuk menghilangkan debu, bakteri, virus, dan lendir.
Setelah silia ini terkena asap, mereka menjadi lumpuh atau rusak dan kita kehilangan mekanisme perlindungan yang penting.
Namun, setelah beberapa hari tanpa merokok, “ mekanisme perlindungan silia akan mulai memperbaiki dirinya sendiri dan Anda akan dapat memulihkan diri dengan lebih baik jika terjadi infeksi. Itu sudah menjadi argumen yang kuat untuk berhenti merokok," terangnya.
Jadi, orang yang berhenti merokok bahkan untuk waktu yang singkat, melihat adanya peningkatan kesehatan paru-paru dengan cukup cepat.
Setelah mengetahui perokok cenderung berisiko lebih tinggi mengalami COVID-19 yang lebih parah, dibandingkan dengan yang bukan perokok, menunjukkan sekarang adalah waktu yang sangat baik bagi kalian untuk mencoba berhenti atau menguranginya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya