Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
Qantas (Shutterstock.com)
Dream - Tampaknya minat untuk jalan-jalan di tengah pandemi kembali tumbuh. Bahkan jalan-jalan yang sifatnya 'semu' saja, ternyata banyak diminati.
Sebut saja paket perjalanan tanpa tujuan yang ditawarkan sejumlah maskapai dunia. Sebagian besar ludes terjual dalam waktu relatif singkat.
Hal yang sama terjadi pada maskapai berbasis di Australia, Qantas. Maskapai ini menawarkan paket penerbangan ke mana-mana dan ludes hanya dalam waktu 10 menit setelah ditawarkan.
Layanan ini hanya tersedia untuk pelancong di Negeri Kangguru. Paket tersebut sudah lengkap dengan sarapan pagi mewah dan kesempatan untuk menyaksikan pemandangan wilayah Australia dari atas, dikutip dari Mirror.
Qantas mulai mengoperasikan paket penerbangan ke suatu tempat dalam waktu dekat. Rutenya dari Sidney menuju situs ikonik Uluru dengan 110 penumpang dan dilayani dengan Qantas 737.
Dalam penerbangan tersebut juga dilengkapi fasilitas menginap semalam di Ayers Rock Resort sebagai hotel utama. Juga di Sails in The Desert, hotel bintang lima.
Itu sudah termasuk makan malam dengan tiga menu yang bisa dinikmati di bawah temaram cahaya bintang. Tak hanya itu, ada workshop seni bersama penduduk asli, pertunjukan didgeridoo, dan pengamalan interpretatif bersama warga setempat mengenai langit malam.
Paket ini tersedia dalam tarif US$2.999 per orang untuk kelas ekonomi, setara Rp36,7 juta.
Chief Executive Qantas Group, Alan Joyce, mengatakan saat ini layanan Qantas dan Jetstar beroperasi di bawah 30 persen dari kapasitas domestik dalam kondisi normal. Tetapi, ad harapan kapasitas dapat bertambah hingga 50 persen seiring dengan pembatasan yang mulai dilonggarkan pemerintah.