Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Diffuser Ruangan (Foto: Shutterstock)
Dream - Virus covid-19 virus hingga saat ini terus menghantui kehidupan di seluruh dunia. Penularan virus yang melalui droplet (percikan liur) mengaharuskan semua orang untuk menjaga jarak sosial dengan cara berdiam diri di rumah.
Muncul banyak obat yang diklaim bisa jadi penangkal virus yang berasal dari Wuhan ini. Salah satu yang kini juga dicari banyak orang karena dipercaya bisa menangkal Covid-19 adalah pembersih udara.
Baik berupa humidifier, purifier atau pun diffuser. Penasaran apakah alat pembersih udara ini bisa mematikan virus corona? Ternyata tidak sesederhana itu. Pembersih udara fungsinya adalah membantu meningkatkan kualitas udara secara keseluruhan di rumah.
Alat ini sangat bermanfaat bagi orang yang memiliki gangguan pernapasan dan masalah alergi, tetapi filter standar pembersih udara tidak dapat menangkap atau memblokir virus atau bakteri.

Jika pun bisa menyaring virus, kemungkinan akan bertahan di permukaannya untuk beberapa waktu. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pembersih udara tidak dapat memberikan banyak bantuan agar terhindar dari virus corona.
Corona virus dapat berpindah dari kontak langsung dan bersentuhan dengan permukaan yang terkontaminasi. Hingga saat ini, cara terbaik untuk terhindar dari Covid-19 adalah dengan cuci tangan pakai sabun, menjaga jarak fisik dan selalu menggunakan masker saat keluar rumah.
Laporan Cindy Azari/ Sumber: MissKyra
Dream – Selain paru-paru, Covid-19 ternyata juga menyerang jantung. Di Korea Selatan dilaporkan terdapat kasus penyakit jantung yang disebabkan olef infeksi Covid-19.
Menurut World of Buzz, laporan ini menunjukkan bahwa virus yang menginfeksi seseorang dikhawatirkan dapat menyebabkan komplikasi yang lebih luas daripada hanya sekedar gangguan pernapasan.

Proses infeksi tersebut dapat digambarkan, reseptor virus corona tidak hanya ditemukan di paru-paru saja, namun juga di bagian ginjal, saluran pencernaan, dan juga jantung.
Dokter Kim Woo-joo dari Rumah Sakit Universitas Korea di Guro mengatakan, itulah mengapa Covid-19 menyebabkan peradangan pada organ lain selain paru-paru.
Kasus tersebut menimpa seorang wanita berusia 21 tahun dari Daegu. Awalnya ia tidak memiliki riwayat penyakit peradangan pada jantung. Namun akibat dia terinfeksi Covid-19, ia mengalami peradagangan pada jantung.
Daegu adalah kota yang terinfeksi paling parah di Korea Selatan dengan jumlah 64% dari total jumlah infeksi di Korea Selatan.
Sementara pasien wanita itu pada awalnya hanya menunjukkan gejala berupa batuk, sakit tenggorokan, demam dan diare. Lalu ia mulai mengalami kesulitan bernapas yang sangat parah dan harus dibawa ke Rumah Sakit Dongsan University Keimyung, dan hanya tiga hari dia sudah terdiagnosis dengan Covid-19.
Dokter Kim In-cheol, ahli jantung yang menangani pasien wanita itu, menginformasikan gambar MRI, X-Ray dan CT scan menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Tanda-tanda itu berupa infeksi jelas di paru-paru dan jantung.
“ Scan pada dadanya menunjukkan pembengkakan jantung dan infeksi virus pada paru-parunya, seperti warna keruhnya kacang tanah,” ungkapnya.
Ia menambahkan kemampuan jantungnya untuk memompa darah sudah terganggu dan dia harus dirawat selama satu bulan di RS. Bahkan seperempat dari waktu itu dihabiskan di ruang ICU.
Ahli jantung tersebut menyebut meski wanita itu sudah pulih, namun kerusakan jantung akibat virus dapat terbukti bertahan lama. Sayangnya, gadis muda ini hanyalah satu dari banyak kasus yang menunjukkan gejala kerusakan jantung serupa.
Menurut dokter Kim In-cheol, hampir setengah dari pasien yang terinfeksi parah dirawat di RS menunjukkan gejala masalah jantung akibat infeksi virus corona Covid-19. Kasusnya bahkan dilaporkan lebih tinggi.
Kerusakan jantung pada pasien dideteksi menggunakan metode yang sangat sensitif seperti tingkat pemindaian protein, yang dikenal sebagai troponin, dalam darah biomarker dari cedera miokard.
“ Orang-orang dengan kondisi jantung berada pada peningkatan risiko infeksi Covid-19 yang lebih parah,” jelas Dokter Kim In-cheol.
Dokter spesialis penyakit menular, dr. Kim Woo-joo, mengatakan, dalam kasus terparah, seorang pasien meninggal karena kegagalan sistem multi organ, tidak hanya paru-paru tapi juga menyerang jantung, ginjal dan sistem pencernaan.
Meski demikian gejala Covid-19 sebagian besar hadir dalam sistem pernapasan dan masih belum jelas apakah virus ini lebih membahayakan ke organ jantung.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam