Penelitian: Banyak Remaja Perempuan Tidak Mengganti Pembalut di Sekolah Karena Malu

Reporter : Ferdike Yunuri Nadya
Selasa, 9 Agustus 2022 06:12
Penelitian: Banyak Remaja Perempuan Tidak Mengganti Pembalut di Sekolah Karena Malu
Banyak yang merasa tidak nyaman akan menstruasi ini, ditambah stigma tentang menstruasi yang membuat wanita terkadang mengumpat kala memegang pembalut atau khawatir jika 'tembus'

Dream - Menstruasi adalah hal lumrah yang dialami wanita setiap bulan ketika usianya sudah menginjak baligh. Sering juga disebut dengan istilah batang bulan, menstruasi berawal sejak masa remaja hingga wanita memasuki usia Lanjut Usia (Lansia).

Sebagai suatu siklus dalam tubuhnya, menstruasi begitu lekat dan harusnya menjadi sebuah kebanggaan bagi seorang wanita.

Namun sayangnya. masih banyak wanita yang merasa tidak nyaman akan menstruasi ini. Rasa tidak nyaman ini seperti terlihat ketika seorang wanita berusaha menyembunyikan kondisinya tengah datang bulan atau buru-buru memasukkan pembalut ke dalam tas.

Shutterstock© Shutterstock

Rasa malu ini tak lepas dari masih adanya stigma mengenai menstruasi di tengah masyarakat Indonesia. Tidak jarang anggapan `kotor` selama menstruasi menjadi momok bagi perempuan Indonesia.

Tanpa disadari penggunaan kata `datang bulan` atau `sedang dapat` makin memperkuat persepsi yang salah tentang menstruasi sebagai hal wajar untuk seorang wanita. 

1 dari 3 halaman

Masih Banyak Perempuan yang Malu

Nicole Jizhar, Co-Founder platform edukasi menstruasi Nona Woman mengutip laporan dari penelitian UNICEF Indonesia menyampaikan hanya sebagian perempuan yang rutin mengganti pembalut setelah 8 jam penggunaan.

Yang lebih memprihatinkan adalah hampir semua remaja perempuan yang terlibat dalam penelitian tidak mengganti pembalut mereka selama di sekolah karena merasa malu.

Tangkapan Layar Ferdike Yunuri Nadya/ Dream© Tangkapan Layar Ferdike Yunuri Nadya/ Dream

" Kini sudah waktunya untuk angkat bicara dan tidak berdiam diri atau merasa malu dengan menstruasi,"  jelas Nicole yang berharap bisa mengajak seluruh perempuan Indonesia memulai revolusi sekaligus lantang berbincara mengenai menstruasi dalam konferensi virtual Nona, baru-baru ini.

2 dari 3 halaman

Ubah Stigma Soal Menstruasi

Senada dengan Nicole, aktris Hannah Al Rashuid juga merasakan pengalaman capek menghadapi stigma soal menstruasi. Dia mengajak kalangan wanita untuk bersama-sama menghilangkan rasa malu ketika tengah mengalami menstruasi.

" Tidak perlu lagi umpetin pembalut, ditenteng saja. Enggak apa-apa kok, orang harus terbiasa melihat itu. Toh kita memperlihatkan pads yang bersih, bukan berdarah," jelasnya. 

Istimewa© Istimewa

" Menstruasi adalah sesuatu yang biasa dan dialami sebagian besar wanita. Jangan sampai ada jijik atau risih," tambah Hannah.

3 dari 3 halaman

Waktunya Revolusi Menstruasi

Usaha untuk mengedukasi perempuan untuk menghapus stigma soal menstruasi itulah yang gencar disuarakan Nona Woman karena imbasnya yang mempengaruhi kulitas hidup perempuan Indonesia. 

Edukasi tentang kesehatan reproduktif juga harus lebih luas agar bisa dipahami banyak orang.

Upaya tersebut dilakukan Nona Woman dengan mengkampanyekan #RevolusiMenstruasi untuk menghadirkan  pengalaman menstruasi yang lebih sehat serta mendobrak stigma yang ada di masyarakat.

Istimewa© Istimewa

Di balik kampanye #RevolusiMenstruasi ini, Nona juga meluncurkan Nona Organic Pads dari bahan natural, organik, vegan dan cruelty-free.

Beri Komentar