Perjuangan Berat Penderita HIV-AIDS di Masa Pandemik

Reporter : Shania Suha Marwan
Selasa, 1 Desember 2020 08:33
Perjuangan Berat Penderita HIV-AIDS di Masa Pandemik
DKT Indonesia menggalakkan program #SayaBeraniMencegah untuk mengedukasi masyarakat tentang kesehatan reporoduksi

Dream - Data perkembangan HIV-AIDS di Indonesia tahun 2020 menyebutkan terdapat penemuan kasus HIV baru sebanyak 21.220 orang. Sebanyak 70 persen dari kasus HIV baru dialami masyarakat usia subur berumur 25-49 tahun.

Di tengah pandemi yang masih meresahkan dunia, orang dengan HIV-AIDS (ODHA) mengalami kesulitan untuk mengakses obat-obatan antiretroviral (ARV).

Menurut artikel ilmiah yang dirilis dalam Asia Pacific Journal of Public Health, pembatasan aturan perjalanan dalam negeri diberlakukan banyak negara membuat banyak ODHA yang kehilangan pekerjaan, terpaksa kembali ke daerah asal tempat tinggal masing-masing, dan terhenti terapi ARVnya.

Lockdown yang diberlakukan di India juga memberikan pengaruh karena negara tersebut menghentikan suplai ARV masuk ke Indonesia. Padahal Kementerian Kesehatan mendapatkan sebagian stok ARV dari India.

Apabila kelangkaan ARV tidak segera ditangani, akan berakibat terhadap sekitar sepuluh ribu ODHA terancam harus menghentikan terapi ARV mereka.

Tanpa ARV, ODHA akan lebih rentan terkena infeksi dan gangguan penyakit, salah satunya juga termasuk COVID-19.

Untuk mencegah penyebaran HIV di Indonesia, dibutuhkan kerjasama dari seluruh lapisan masyarakat demi mengakhiri epidemi ini pada tahun 2030, serta terwujudnya ‘Three Zeroes’.

DKT Indonesia sebagai organisasi pencegahan HIV-AIDS dan Keluarga Berencana terdepan di Indonesia yang membawahi merek Sutra, Fiesta, Supreme, dan Andalan Kontrasepsi terus melakukan edukasi terhadap masyarakat terkait dengan pentingnya kesehatan seksual reproduksi.

1 dari 4 halaman

#SayaBeraniMencegah

Dalam menyabut Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada 1 Desember 2020, DKT Indonesia mempersembahkan berbagai macam rangkaian aktivitas untuk mengedukasi masyarakat, dengan tema utama #SayaBeraniMencegah.

“ Tahun ini, kami berfokus kepada dua hal yaitu edukasi secara digital melalui serangkaian webinar untuk menjangkau populasi kunci dan juga peningkatan kesadaran via aktivitas di social media," ujar President Director DKT Indonesia, Juan Enrique Garcia, 30 November 2020.

" Mengingat realitanya, bertahan dengan HIV di masa pandemi sama sekali tidak mudah. Oleh karena itu, berbagai upaya pencegahan harus tetap dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan kita harus senantiasa memberi semangat dan dukungan bagi mereka yang hidup dengan HIV-AIDS,” jelasnya.

2 dari 4 halaman

Rangkaian aktivitas tersebut antara lain:

1. Tujuh rangkaian webinar yang menargetkan jangkauan lebih ke 3.500 masyarakat dan populasi kunci, yang terdiri dari:

  • Empat rangkaian webinar yang ditujukan untuk menjangkau masyarakat Papua. Seperti diketahui bahwa Papua merupakan provinsi nomor tiga terbanyak kasus HIV-AIDS di Indonesia. Simak webinar tersebut pada link youtube berikut: https://bit.ly/SelamatkanTanahPapuaDariHIV
  • Dua rangkaian webinar yang ditujukan untuk mengedukasi masyarakat umum terutama di wilayah Jawa dan Sumatera tentang pentingnya pencegahan HIV-AIDS.
  • Satu webinar yang ditujukan untuk anak muda di Indonesia melalui platform edukasi Berani Berencana yang dimiliki oleh DKT Indonesia.

2. Kompetisi video duet Tik-Tok #SayaBeraniMencegah yang menargetkan anak muda di Indonesia. Melalui kompetisi yang ada di digital media @HaloDKT ini, DKT Indonesia menargetkan dapat menjangkau 200ribu masyarakat melalui aktivitas ini.

3 dari 4 halaman

Berlaku juga buat Ibu dengan HIV

Ilustrasi© Shutterstock

Sementara itu, dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG selaku spesialis kandungan dari RS. Brawijaya Antasari menyebutkan bahwa Ibu dengan HIV harus tetap berkontrasepsi untuk merencanakan kehamilan dan/atau mencegah kehamilan tidak direncanakan khususnya di masa pandemi ini.

Sebelum menentukan pilihan metode kontrasepsi, Ibu dengan HIV harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk melihat status pengobatan ARVnya.

Penggunaan KB hormonal seperti Pil KB, KB Suntik, dan Implan bisa digunakan apabila Ibu dengan HIV masih dalam terapi ARV 2.

Sedangkan untuk penggunaan IUD non-hormonal dapat digunakan apabila tidak sedang dalam terapi ARV 3 pada saat pemasangannya. Dan kondom wajib digunakan pada setiap kali berhubungan seksual.

4 dari 4 halaman

ilustrasi© Shutterstock

Lebih lanjut, dr. Dinda menambahkan bahwa cara yang dapat diterapkan untuk mencegah penularan HIV adalah dengan abstinence (tidak berhubungan intim sama sekali), bersikap setia dengan satu pasangan, dan selalu menggunakan kondom bagi pasangan yang aktif secara seksual.

Join DKT Indonesia dalam upaya pencegahan HIV-AIDS dengan meramaikan hashtag #SayaBeraniMencegah dan sampaikan dukungan kalian untuk para ODHA melalui caption di media sosial dan tag atau mention @HaloDKT.

Beri Komentar