Walikota (3): Risma, Walikota dengan Jas Hujan Kuning

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 16 Februari 2015 18:48
Walikota (3): Risma, Walikota dengan Jas Hujan Kuning
Lokalisasi Dolly diberangusnya, keluarga korban Air Asia didampinginya. Risma, walikota berhijab yang selalu ada di tengah warga.

Dream - Ruang serba guna terminal 2 Bandara Internasional Juanda mendadak sesak, Selasa 30 Desember 2014. Beberapa pria-wanita beragam usia meriung di setiap sudutnya. Mereka tampak layu. Sebagian terlibat obrolan serius.

Mata mereka sesekali menyapu monitor TV yang terpasang di dinding ruangan. Sebentar duduk, sesekali berdiri. Cemas. Tak sabaran seperti orang salah tingkah.

Menjelang zuhur. Seisi ruang tersentak. Muncul tayangan di layar TV, Tim SAR menemukan serpihan pesawat dan jasad penumpang AirAsia QZ8501 terombang-ambing di lautan. Tangis keluarga pun pecah. 'Innalillahi wa inna ilaihi rojiun'.

Air mata mereka terkuras. Mereka saling berpelukan. Bergetar menahan emosi. Sampai-sampai, bersimpuh di lantai, dengan tangan masih saling berdekapan. Penantian itu berakhir tragis. Memilukan. Menggenaskan. Dan menyedihkan.

Di tengah tangis histeris itu, seorang wanita terlihat hilir-mudik. Mengenakan kerudung hitam, ia berusaha menenangkan keluarga para penumpang pesawat yang dilaporkan hilang pada Minggu, 28 Desember 2014.

Dia adalah Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. " Yang sabar ya Bu," kata Risma mengelus-elus pundak seorang perempuan, keluarga penumpang.

Di sudut ruang, seorang perempuan lain terkulai lemas. Ia tak mampu lagi menahan beban tubuh. Risma dengan cekatan turut memapah dan menyandarkannya di kursi.

Sejak pesawat AirAsia raib, Risma memang sudah berkantor di Bandara Juanda ini. Sebab, sebagian besar penumpang yang terbang menuju Singapura itu merupakan warga Surabaya, wilayah yang dia pimpin.

Ya begitulah Risma. Wanita setengah abad itu dikenal selalu dekat dengan warga, saat senang maupun susah. Tanpa rasa canggung.

Lihat saja, Risma begitu cekatannya turun tangan. Mulai dari mencari data warganya yang hilang bersama pesawat AirAsia QZ8501, bantu cairkan asuransi korban, hingga menjaga rumah keluarga korban yang ditinggal.

Selama tragedi itu Risma jarang pulang. Ia merelakan waktunya memantau warga yang mengalami musibah. Begitu pedulinya wanita pertama yang menjabat walikota Surbaya itu, membuat keluarga penumpang yang bukan berasal dari Surabaya, cemburu.

Risma tak mau berdebat soal itu. " Saya paham kondisi mereka. Makanya saya tidak banyak bicara, takut salah," kata Risma sambil tetap berupaya menerima protes dari warga non-Surabaya.

Meski ada suara sumbang menyebut apa yang dilakukan Risma cuma pencitraan. Bagi warga kota Pahlawan, itu bentuk tanggungjawab yang tak mereka sangka dari walikotanya.

Wanita kelahiran Kediri, 20 November 1961 tak ambil pusing soal 'pencintraan'. Risma justru menjawab dengan kerja nyata. Dunia pun mengakuinya....Cek halaman berikutnya!

1 dari 1 halaman

Dikira Polisi 'Cepek'

The City Mayors World Foundation tahun lalu menobatkan Risma menjadi salah satu walikota terbaik dunia. Sarjana Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu dinobatkan sebagai walikota terbaik di peringkat tiga dunia 2014.

Berada di posisi kedua, Walikota Calgari, Naheed Nenshi menyusul Daniel Termot yang menjadi orang nomor satu di Ghent.

Mengutip laporan Worldmayor, Risma yang terpilih menjadi Walikota Surabaya sejak 2010 memiliki semangat besar dalam mempromosikan kebijakan di bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan tak hanya lingkup nasional tapi juga dunia.
Risma juga dianggap berjasa mengubah Surabaya dengan kehadiran sejumlah ruang terbuka dan taman kota yang asri.

Saat ini tercatat sudah ada 11 taman besar di Surabaya dengan beragam tema. Beberapa diantaranya dilengkapi akses Wifi dan perpustakaan.

Risma bahkan sempat ngamuk besar ketika salah satu taman kota rusak akibat acara promosi bagi-bagi es krim gratis sebuah perusahaan. Ia menuntut perusahaan memperbaiki, jika tak mau Risma siap menempuh jalur hukum.

Bukan hanya taman, Risma juga dianggap berjasa besar dalam memperluas areal terbuka seperti di areal pemakaman. Langkahnya ini dianggap sukses mencegah munculnya banjir, masalah yang tak bisa diselesaikan Jakarta.

Dalam filosofinya, Risma mengajak aparatnya tak hanya bekerja untuk rakyat tapi juga harus berdampingan bersama rakyat. " Hal terpenting adalah sebuah kota harus menjadi rumah bagi penduduknya," ujarnya.

Dari pengalamannya, Risma mengakui pembangunan proyek bisa menyingkirkan penduduk yang ada di lokasi tersebut. Untuk itu, Walikota ini berusaha menyeimbangkan kebutuhan pembangunan dan program sosial.

Belum lama ini, Risma juga mengundang perhatian publik setelah memutuskan menutup Doli, pusat lokalisasi terbesar di Asia. Keputusan berani Risma sempat mendapat tentangan warga Doli. Dia bahkan mendapat ancaman akan dibunuh.

Risma tak gentar. Ia tidak gontai melangkah. " Saya enggak pernah takut, semua sudah diatur Tuhan," ujar Risma yang mengaku malu bila harus dikawal pengawal khusus pejabat.

Yang terbaru, Risma mengerahkan anggota Satuan Polisi Pamong Praja untuk melakukan sweeping beberapa supermarket yang menjual paket valentine day (hari kasih sayang) di 31 kecamatan di Surabaya.

Hasilnya, dia menemukan paket valentine berisi kondom, bir, dan cokelat di supermarket wilayah Surabaya Barat. Penjualan paket cokelat-kondom juga ditemukan di wilayah Surabaya Selatan.

Tak kenal kompromi. Risma langsung menutup usaha supermarket detik itu juga, karena terbukti tidak mempunyai izin usaha.

Risma juga dikenal suka ngantor dimana saja. Hanya dengan membawa meja dan kursi dia bertemu dan berada ditengah aktivitas warga. Wajar jika menemuinya termasuk gampang-gampang susah. Bahkan seringkali tidak terduga.

Sebuah peristiwa mengejutkan terjadi pertengahan tahun lalu. Saat itu Surabaya diguyur hujan lebat dan sejumlah jalanan tergenang banjir. Di tikungan jalan Gayungsari menuju Jalan Protokol Ahmad Yani, tampak seseorang memakai jas hujan kuning berdiri di tengah kemacetan ikut mengatur lalulintas agar kemacetan terurai.

Semula pengguna jalan menyangka orang itu adalah polisi ‘cepek’. Namun saat membuka jendela mobil, mereka pun terkejut. Pengatur jalan itu seorang wanita, dan dia adalah Walikota Surabaya, Tri Risma Harini.

Sebuah akun twitter @aslisuroboyo menulis : " Lek ono wong wedok nggawe jas udan kuning ngatur dalan jl.ahmad yani, payungono iku bu risma" (Kalau ada wanita memakai jas hujan kuning sedang mengatur jalan Ahmad Yani, tolong dipayungin itu Ibu Risma).

Ya, memang begitulah seorang Risma.

Beri Komentar
Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'