Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi Paru-paru Pasien Covid-19 (Foto: Shutterstock)
Dream - Studi sebelumnya menemukan adanya gel cair pada paru-paru pasien Covid-19 yang parah atau yang meninggal akibat gagal napas.
Namun studi terbaru yang dilakukan Universitas Umea di Swedia telah menemukan kandungan dari gel cair yang misterius itu.
Penemuan oleh peneliti dari Universitas Umea ini memungkinkan dilakukannya terapi baru yang lebih efektif dalam mengobati pasien Covid-19.
" Sudah ada terapi yang bisa memperlambat produksi pembentukan gel atau memecahnya melalui enzim. Temuan kami juga dapat menjelaskan kenapa kortison terlihat berpengaruh pada COVID-19," kata Urban Hellman, peneliti dari Universitas Umea.
Sebelumnya, ketika pasien Covid-19 yang kritis dipindai, akan tampak bercak putih pada paru-paru mereka.
Selain itu, otopsi terhadap pasien Covid-19 yang meninggal menunjukkan bahwa paru-paru mereka dipenuhi cairan gel bening. Kondisi ini sangat mirip dengan paru-paru orang yang tenggelam.
Para peneliti sebelumnya tidak pernah tahu mengapa ada cairan gel bening pada pasien Covid-19 yang kritis atau mereka yang meninggal dunia.
Namun, akhirnya, sekelompok peneliti dari Universitas Umea yang tergabung dalam Translational Research Centre berhasil menemukan penyebabnya.
Menurut mereka, gel cair tersebut terdiri dari zat asam hialuronat yang merupakan polisakarida dalam kelompok glikosaminoglikan.
Kehadiran asam hialuronat merupakan hal normal dalam tubuh manusia, dengan berbagai fungsi yang berbeda. Tetapi asam hialuronat ini umumnya bertindak sebagai karakteristik yang berguna dalam jaringan ikat.
Asam hialuronat juga berguna dalam tahap awal penyembuhan luka, karena itu zat ini diproduksi secara sintetis dalam industri kecantikan, terutama dalam perawatan anti keriput.
Karena asam hialuronat dapat mengikat sejumlah besar air di jaringan molekulnya yang panjang, ia membentuk zat mirip gel.
Proses inilah yang memicu kerusakan di alveoli paru-paru pasien Covid-19 sehingga pasien membutuhkan perawatan ventilator dan, dalam kasus terburuk, meninggal karena gagal napas.
Saat ini, obat yang disebut Hymecromone digunakan untuk memperlambat produksi asam hialuronat pada penyakit lain seperti serangan kandung empedu.
Dalam sebuah penelitian di Inggris, data awal menunjukkan efek positif pada perawatan dengan obat kortison Dexamethasone pada pasien Covid-19 yang sakit parah.
" Sebelumnya diasumsikan bahwa hasil awal yang menjanjikan dikaitkan dengan sifat anti-inflamasi yang ada pada kortison secara umum.
" Namun, selain keyakinan tersebut, kortison ternyata juga dapat mengurangi produksi asam hialuronat, yang pada akhirnya dapat mengurangi jumlah cairan gel di paru-paru," kata Urban Hellman.
Sumber: EurekAlert.org
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam