Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
Ilustrasi (Foto: Capamaumere.com)
Dream - Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam mempromosikan pariwisatanya. Berbagai pemerintah kabupaten dan kota pun ikut berpartisipasi mendorong kunjungan wisatawan ke daerahnya.
Salah satunya Kabupaten Sikka yang menggelar acara Festival Teluk Maumere 2016 pada 17-21 Agustus mendatang. Tak hanya itu saja, pemerintah kabupaten secara aktif juga menggagas paket wisata Maumere yang menarik.
" Kita luncurkan paket wisata itinerary Maumere seharga Rp4,5 juta untuk pengalaman menginap selama 5 hari 4 malam," terang Bupati Sikka, Yoseph Ansar Rera.
Dalam paket tersebut, wisatawan akan dimanjakan oleh fasilitas menginap di hotel bintang empat Capa Resort. Selanjutnya akan dibawa untuk berkeliling ke berbagai destinasi seperti Museum Bikon Blewut, lalu berlanjut ke Pantai Waiara yang berada di kawasan Hotel Sea World Club untuk menikmati eksotisme matahari tenggelam di sela-sela perbukitan Kota Maumere.
Sedangkan bagi wisatawan yang ingin menyaksikan matahari terbit, dapat bergabung bersama rombongan menuju Bukit Nilo di hari kedua. Lokasinya berjarak sekitar 5 kilometer dari Maumere.
Kemudian mereka akan diajak untuk bersantai di kawasan pantai berpasir putih dengan terumbu karang nan indah di Pulau Pangabatang.
Tak berhenti sampai di sini, paket wisata ini juga akan memanjakan wisatawan dengan mengunjungi perkampungan nelayan Suku Bajo Wuring. Wisatawan dijamin penasaran untuk memotret dan mengeksplorasi rumah-rumah berbentuk panggung, yang bagian penyangganya terbuat dari bambu. Serta ditancapkan ke dasar tepian laut.
Selain berfungsi sebagai pondasi, ternyata bambu-bambu ini juga berguna sebagai penghubung setiap rumah ke jalan utama.
Menariknya lagi, wisatawan dapat menyaksikan kegiatan di kampung nelayan Wuring yang terlihat semakin semarak pada sore hari. Pasalnya, pada saat itu, para nelayan telah kembali dari melaut, sehingga mereka akan melakukan transaksi jual beli hasil lautnya.
Pada hari ketiga, wisatawan akan diajak untuk menjelajah Danau Kelimutu dan pegunungan di sekitarnya. Dilanjutkan dengan makan siang di desa adat Kaonara dan Ranggase.
Jika dilihat sekilas, rumah-rumah penduduk lokal terlihat berbentuk seperti payudara, yang memang mereka gunakan untuk melambangkan sebagai kesuburan dan kemakmuran masyarakat setempat. Dan sebelum pulang, peserta dapat berwisata belanja kain etnik hasil tenunan penduduk asli, Suku Lio.
Sedangkan pada hari terakhir, peserta akan diajak untuk mengunjungi daerah yang sangat unik. Di desa Watubeli ini, peserta dapat melihat proses pembuatan tenun yang dari awal hingga akhir proses pembuatannya dilakukan oleh perempuan semua.
Kemudian paket perjalanan akan berakhir di Tanjung Kajawulu yang berada di pesisir Maumere. Untuk menuju ke tempat ini dibutuhkan perjuangan untuk melalui jalan yang menikung, melintasi bukit-bukit savana dan pesisir pantai yang warna airnya menghijau layaknya cangkang kerang.
" Silahkan datang dan nikmati paket wisata yang kami luncurkan. Semoga wisman dan wisnus akan kembali tertarik datang ke Maumere," pungkas Yoseph saat ditemui di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat pada Selasa, 9 Agustus 2016.