Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Shutterstock
Dream - Sebagai upaya menghentikan laju penyebaran Covid-19, masyarakat diminta berdiam di rumah dan mengurangi kegiatan di luar rumah, termasuk berlibur. Padahal pekan ini banyak menjadi incaran masyarakat untuk liburan.
Kurangnya liburan sebagai kegiatan relaksasi juga membawa dampak bagi kesehatan psikologis di masa pandemi. Khususnya bagi para pelajar, pekerja dan orang tua.
" Dalam kehidupannya, manusia bekerja dan punya kegiatan. Ada kebutuhan yang juga harus dipenuhi yaitu liburan. Tapi sayangnya tidak bisa dilakukan di masa pandemi," kata Dra. A. Kasandra Putranto, Psikolog Klinis Forensik dalam sesi 'Jiwa Sehat, Libur Aman Covid-19' bersama BNPB Indonesia, Sabtu 31 Oktober 2020.
Menurut Kasandra, banyak pasien mengeluh karena mengalami cemas dan khawatir akibat tekanan sekolah atau pekerjaan, beban di rumah yang bertambah dan menurunnya penghasilan.
Data Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia mengungkapkan adanya penurunan permintaan konseling selama bulan Ramadhan (Mei-Juni) 2020. Tingkat stres terbukti menurun pada masa itu dengan berkurangnya aktivitas di bulan puasa.
" Namun memasuki akhir Juni hingga ke awal Juli, angka pasien mulai meningkat. Timbul keinginan untuk libur lebaran, tapi tidak bisa. Beberapa pasien lama jug kembali mengalami tekanan dan depresi," tutur Kasandra.

Hasrat untuk berlibur sebenarnya dapat diatasi. Menurut Kasandra, masyarakat harus mulai mengubah pola pikir terhadap kegiatan liburan. Ia menekankan bahwa konteks liburan terletak pada perubahan suasana, bukan perubahan tempat.
" Sebelumnya kita berpikir bahwa liburan itu harus berpindah tempat. Padahal jika kita bisa mendatangi liburannya, kita datangkan saja liburannya. Ciptakan suasana liburan di rumah," katanya.
Beberapa kegiatan liburan yang bisa dilakukan di rumah antara lain camping dan berkebun di halaman belakang. Selain itu, Kasandra juga menyarankan untuk mencari hobi baru yang dapat dijadikan sebagai penambah penghasilan.
" Apabila tidak harus keluar rumah dan mudik, lebih baik tidak usah. Harus ada perubahan mindset. Bisa coba kegiatan baru yang dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan. Yakini bahwa kita bisa mengatasi kondisi apapun, harus diiringi dengan tekad kuat untuk melakukan suatu kegiatan," tegasnya.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya