Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Facebook selaku pemilik WhatsApp berinisiatif memperketat penggunaan fitur 'forward' di aplikasi percakapan tersebut. Langkah ini ditempuh untuk mencegah meluasnya sebaran hoaks seputar pandemi virus corona.
Pembaruan ini akan membuat pengguna mengalami kesulitan dalam meneruskan pesan yang sudah terlalu sering diteruskan di WhatsApp.
Dilaporkan The Guardian, jika pengguna menerima pesan yang sering di-forward setelah pembaruan, pengguna hanya dapat mengirimkan sebanyak satu kali ke satu obrolan.
Sepanjang merebaknya pandemi global Covid-19, telah terjadi perubahan pada bidang teknologi. WhatsApp berupaya melakukan perubahan dalam meredam kepanikan dengan penyebaran berita palsu.
Harian Star melaporkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menyebut fenomena ini sebagai " infodemik" . Yaitu maraknya peredaran informasi yang salah sehingga mendorong pemerintah dan otoritas lain untuk mendesak media sosial berbuat lebih banyak dalam memerangi masalah terkait.
Sebelum adanya pandemi virus corona, WhatsApp telah mengalami masalah mengenai persebaran berita hoaks dan informasi yang salah. Untuk mengatasi hal tersebut, pengguna hanya dapat meneruskan pesan ke maksimum lima individu atau grup percakapan sampai 20.
Tetapi, sekarang WhatsApp memperbarui perangkatnya dengan hanya dapat mengirimkan pesan ke satu obrolan sekaligus. WhatsApp yang memiliki lebih dari dua miliar pengguna di seluruh dunia, menyatakan dalam sebuah postingan blog mereka melakukan perubahan setelah mengamati " peningkatan signifikan" persebaran berita hoaks sejak awal awal krisis virus corona.
" Kami yakin sangat penting untuk melambarkan penyebaran dan mengambat pesan ini untuk menjaga agar WhatApp tetap jadi tempat percakapan personal," demikian pernyataan WhatsApp.
WhatsApp mengajak tiap orang untuk menandai pesan-pesan yang mencurigakan agar dapat dicek kebenaran isi beritanya.
WHO dan otoritas kesehatan nasional juga berbagi informasi terpercaya tentang pandemi corona menggunakan akun terverifikasi dengan akun otomatis.
Di Malaysia, penyebaran berita palsu atau hoaks dapat menerima hukuman dan pihak berwenang menanggapinya dengan serius.
Sumber: World of Buzz
Dream – Italia menempati posisi negara dengan kasus kematian akibat pandemi virus corona tertinggi di dunia. Mengutip data Johns Hopkins University, virus covid-19 telah menewaskan 13.915 orang di Italia.
Permasalahan di Italia semakin runyam karena masyarakat terpapar oleh beragam informasi tak benar dan hoaks yang makin tak terkendali.
Berita hoax tentang dugaan bahwa virus corona yang telah menewaskan belasan ribu jiwa tersebut diciptakan di sebuah laboratorium di Wuhan, China. Banyak spekulasi berseliweran di perpesanan WhatsApp. Spekulasi yang paling mengerikan adalah virus corona secara paten telah diciptakan, bahkan vaksinnya telah tersedia untuk dijual.
Menghadapi Facebook sebagai platform sosial media terbanyak di dunia itu meluncurkan sebuah layanan pengecekan fakta di Italia untuk memeriksa beredarnya hoax virus corona. Mengingat kematian yang tinggi di Italia dan juga banyak hoax yang beredar menambah kekhawatiran masyarakat Italia.
Nah, sebagai upaya baru untuk melawan konten-konten hoax, melansir dari The Star, Facebook menyediakan layanan pengecekan fakta yang dinamakan ‘Facta’ untuk menganalisis berita-berita yang berseliweran di WhatsApp, termasuk video, audio maupun foto.
Caranya adalah, pengguna mengirimkan konten ke ‘Facta’ melalui pesan WhatsApp untuk memeriksa apakah informasi itu fakta atau palsu. Mengapa hanya WhatsApp? Karena ini adalah platform paling popular di Italia.
Apalagi, lalu lintas di platform WhatsApp semakin melonjak akibat diberlakukannya lockdown oleh pemerintah Italia. Sehingga warga Italia menggunakan platform media sosial untuk tetap menjalin interaksi dengan saudara dan teman.
Memang sih, media sosial menjadi sarana efektif untuk menghilangkan kejenuhan ketika harus di rumah, sekaligus juga bisa untuk menjalin silaturahmi dengan orang lain. Bahkan juga efektif untuk berkoordinasi dengan teman sekantor maupun atasannya.
Akan tetapi siapa sangka bahwa platform chatting ini menjadi sarana penyebaran hoax tentang virus corona yang telah sengaja diciptakan oleh sebuah laboratorium. Maka dari itu, pihak WhatsApp pun berusaha mencari jalan keluarnya untuk mencegah penyebaran hoax tersebut.
Platform perpesanan yang memiliki 2 milyar pengguna di seluruh dunia itu akhirnya bekerjasama dengan Facebook untuk menghentikan platform yang digunakan untuk menyebarkan berita-berita palsu. Mengingat, berita hoax menjadi pembunuh yang tak kalah mengerikan dari virus corona.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya