Niat Mulia Ubah Pengungsi Negara Konflik Jadi Pebisnis

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 15 Februari 2019 20:02
Niat Mulia Ubah Pengungsi Negara Konflik Jadi Pebisnis
Seorang pengungsi asal Somalia mengaku bahagia di sembut di Indonesia namun mengakui sulit mendapatkan pekerjaan

Dream - Tiga organisasi, Dompet Dhuafa, United Nations High Commisioner for Refugees (UNHCR), International Labour Organization (ILO), dan Universitas Atma Jaya menjalin kerja sama untuk untuk membangkitkan ekonomi pengungsi dari berbagai negara konflik. Puluhan pengungsi itu mengikuti Training Progam of Indonesian Enterpreneurs and Refugees.

Setelah menjalani pelatihan sejak September 2018, puluhan pengungsi itu berhasil diwisuda pada Kamis, 14 Februari 2019.

Deputi ILO Jakarta, Michiko Miyamoto berharap program tersebut dapat meningkatkan kompetensi dan pengetahuan yang dimiliki para pengungsi.

" Dengan adanya kerjasama program ini baik UNHCR, ILO, Dompet Dhuafa dan Universitas Atma Jaya dapat membangkitkan ekonomi sehingga setiap individu pengungsi akan mendapatkan hasil dari pola kerjasama yang sudah dibangun," kata Michiko, dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 15 Februari 2019.

Perwakilan UNHCR Indonesia, Thomas Vargas, mengatakan, para pengungsi negara konflik, memiliki potensi besar dan banyak keterampilan. Program dari empat lembaga itu dapat membantu para pengungsi mempraktikan kemampuan yang mereka miliki.

“ Jadi program ini menyatukan mereka untuk mengetahui apa itu bisnis, dan mudah-mudahan bisa memulai bisnis untuk ide apa pun yang mereka miliki,” ucap Vargas.

Salah seorang pengungsi dari Somalia yang turut serta dalam program ini, Zakaria, mengaku bersyukur dapat menyelesaikan pelatihan. Dia mengaku mendapat banyak ilmu bisnis.

“ Alhamdulillah, saya mendapatkan kesempatan untuk ikut serta dalam progam ini. Saya dapat banyak sekali ilmu. Setelah ini, saya ingin membuka usaha saya sendiri," kata Zakaria.

Zakaria mengatakan, sampai ke Indonesia karena di negaranya penuh dengan peperangan. Ayahnya terbunuh karena konflik itu.

" Empat tahun yang lalu saya putuskan untuk pergi ke Indonesia. Disini orang-orang sangat baik dan terbuka. Hanya saja saya tidak bisa bekerja disini, jadi saya kesulitan mendapatkan penghasilan,” ujar dia.

Bukan hanya Zakaria, masih banyak pengungsi yang bernasib sama dengannya di Indonesia. Selama 2017, ada sekitar 14.000 pengungsi lintas negara di Indonesia.

Banyak pengungsi itu datang dari negara konflik seperti Somalia, Afganistan, dan lain lain. Kebijakan internasional mengharuskan mereka memiliki beberapa keterbatasan, salah satunya tidak adanya akses mendapatkan pekerjaan. 

Progam pelatihan wirausaha tersebut menjadi harapan bagi peserta yang kebanyakan pengungsi muda dari berbagai negara mendapatkan pekerjaan di Indonesia. Dengan terselesaikanya progam ini, diharapkan akan adanya keserasian antara masyarakat lokal dan pengungsi dalam hal pengentasan kemiskinan.(Sah)

Beri Komentar
Bukan Pertama Kali, Ini Deretan Kebrutalan Anjing Milik Bima Aryo