Buktikan Komitmen, Dompet Dhuafa Lanjutkan Program Kemanusiaan

Reporter : Dwi Ratih
Rabu, 12 Desember 2018 13:15
Buktikan Komitmen, Dompet Dhuafa Lanjutkan Program Kemanusiaan
Pada fase mitigasi Dompet Dhuafa tetap bekerja dengan membuat kampung tanggap bencana.

Dream - Masih teringat beberapa waktu lalu, Indonesia begitu dihujani bencana silih berganti. Tak hanya kota yang porak-poranda, korban jiwa pun tak terhitung banyaknya. Dari gempa bumi, tsunami, hingga likuifaksi melanda Indonesia.

Lombok dan Sulawesi Tengah yang begitu indah bentang alamnya, menjadi dua wilayah di Indonesia yang paling parah dampak bencananya. Bahkan, di Kabupaten Donggal dan Sigi, nyaris sejumlah desa luluh-lantak tak sersisa.

Melihat kondisi tersebut, sesuai prosedur, tim relawan Dompet Dhuafa langsung terjun dalam respon bencana. Seperti contohnya pada bencana di Sulawesi Tengah, belum genap 24 jam, tepatnya pada 29 September 2018, tim Dompet Dhuafa melalui tiga daerah, yaitu Gorontalo, Balikpapan dan Makassar, langsung terjun ikut mengevakuasi korban dan melakukan asesement atas kebutuhan warga terdampak bencana.

 Dompet Dhuafa

“ Sesuai prosedur kami, tim respon setiap ada bencana, dalam waktu 24 jam, sebisa mungkin langsung merapat ke lokasi kejadian. Bantuan dasar dan respon evakuasi menjadi bekal utama. Dari situlah, baru kita gulirkan program pendukungnya,” terang Bambang Suherman, selaku Direktur Resource Mobilization Dompet Dhuafa.

Sebulan setelahnya, saat pemerintah mencabut masa tanggap darurat, Dompet Dhuafa tak lantas lepas tangan. Pendirian Rumah Sementara (RUMTARA) bagi warga pengungsi digalakan, ratusan unit terbangun beserta fasilitas MCK.

Klinik kesehatan di tengah kondisi pengungsian yang penuh teror penyakit didirikan, lengkap dengan dokter dan perawat. Tempat ibadah berupa mushala dan masjid dibangun, lengkap dengan Da’i sebagai nutrisi rohani para pengungsi.

 Dompet Dhuafa

Kini masuk di bulan kedua, kondisi sosial geografis sudah mulai stabil. Namun warga masih kebingungan dengan kegiatan yang akan dilakukan. Tapi tak perlu khawatir, atas dukungan para donatur, Dompet Dhuafa masih bertahan di Palu, Sigi, dan Donggala.

Dengan semangat Humanesia, Kebaikan Kuatkan Kita, Dompet Dhuafa terus menggulirkan progam bagi warga terdampak. Mereka yang biasa bertani, diberikan alat berladang. Kemudian yang biasa berdagang, dibina dan diberikan modal.

Kurang lebih, itu alur singkat fase demi fase skema respon lembaga sosial kemanusian Dompet Dhuafa, dalam merespon bencana di Indonsia. Dompet Dhuafa memang dikenal luas berkat responnya terhadap peristiwa dan bencana di Indonesia.

Di 2018, sudah terjadi puluhan bencana alam di Indonesia baik itu gempa bumi, banjir, erupsi gunung berapi dll. Satu hal yang sama, setiap ada bencana, Dompet Dhuafa selalu terlihat hadir membantu.

 Dompet Dhuafa

“ Jika ada bencana maka Dompet Dhuafa akan terlibat dalam pengelolaan bencana tersebut, baik di fase awal maupun fase-fase selanjutnya. Terlebih seperti sekarang ini, bulan kemanusiaan telah tiba, saatnya kita perkuat dengan kebaikan bagi sesama, bersama Humanesia,” jelas Bambang.

Dalam respon bencana, Dompet Dhuafa membagi tiga fase. Pertama, fase tanggap darurat dengan terjunnya tim respon untuk mengelola penanganan cepat dan membantu para korban.

Fase awal turun dengan empat tema besar, makanan, kesehatan, proteksi (hunian) dan sanitasi penyiapan perangkat-perangkat kebutuhan mck dan lain-lainnya.

Fase kedua, yaitu fase recovery. Dompet Dhuafa punya tujuan untuk mempercepat normalisasi kehidupan, agar setiap keluarga secara pragmatis memiliki hunian yang memungkingkan untuk menyelesaikan permasalahan secara bersama.

Sekolah sementara juga menjadi konsen Dompet Dhuafa, semakin cepat anak-anak sekolah, maka semakin cepat rilis trauma yang dihadapi. Bencana merubah ritme anak-anak.

 Dompet Dhuafa

Fase ketiga adalah normalisasi atau fase rekonstruksi. Maka Dompet Dhuafa masuk melalui pemberdayaan reguler. Basis yang sudah diintervensi fase recovery, diperkuat dan diperluas dengan aktivasi bisnis-bisnis masyarakat yang sempat terhenti karena bencana.

Kemudian setelah fase-fase tersebut selesai, pada fase mitigasi Dompet Dhuafa tetap bekerja dengan membuat kampung tanggap bencana. Dalam satu kawasan dibuatkan peta dan penunjuk arah seperti jalur evakuasi aman bagi warga.

Bahkan Dompet Dhuafa mempertahankan kearifan lokal, sebagai modal dalam menjadikan kampung sadar bencana. Sebagaimana yang terjadi di desa-desa di Jawa Barat dan Jawa Tengah, mereka biasa menggunakan alat kentongan, maka kami juga meneruskan itu. Jadi tim Dompet Dhuafa tidak mengubah apa yang sudah masyarakat pahami.

Beri Komentar
Sandiaga Uno Akan Berantas Stunting Berdasar Pengalaman Pribadi