Polisi (4) Aiptu Jailani, Polisi Langka Penilang Istri Sendiri

Reporter : Edy
Senin, 19 Januari 2015 19:26
Polisi (4) Aiptu Jailani, Polisi Langka Penilang Istri Sendiri
Tak kenal kompromi saat bertugas. Istri sendiri hingga perwira polisi pernah merasakan salah satu dari ribuan surat tilang yang pernah diterbitkannya.

Dream - Hari belum terang tanah. Kumandang azan subuh baru saja lewat, di Ahad itu. Di rumah sederhana dalam sebuah gang, Rahmawati sedang berkemas. Istri polisi lalu lintas itu menyisipkan dompetnya ke dalam tas belanja yang tergantung di sepeda motor.

Dari balik pagar rumahnya di Gang 6D, Jalan Jaksa  Agung Suprapto, Gresik, Jawa Timur, Rahmawati mengeluarkan motornya dengan senyap. Dia berusaha tidak membangunkan dua anaknya yang masih terlelap. “ Belanja ke pasar sebentar, pulang sebelum anak-anak bangun,” begitu pikirnya.

Di mulut gang, baru Rahmawati menyalakan mesin motor menuju pasar di Simpang Lima Gresik. Setiba di pasar, pembeli sudah ramai. Mumpung anak-anak libur sekolah, dia ingin memasak agak istimewa.

Terlalu asyik belanja Rahmawati lupa hari mulai terang. Bergegas dia keluar pasar dan memacu motornya pulang. Sial baginya, jarum jam sudah menunjuk angka tujuh. Setiap hari Ahad, jalan Jaksa Agung yang menuju rumahnya ada larangan kendaraan bermotor melintas. Car free day itu berlaku selama dua jam sejak pukul 06.00 WIB.

Rahmawati panik, khawatir anak-anaknya sudah bangun sementara dia belum sampai rumah. Sementara suaminya pun sedang bertugas pagi itu. Celingak-celinguk, dia mencari jalan alternatif melewati lorong-lorong kecil di belakang Jalan Jaksa Agung Suprapto, menuju rumahnya.

Rahmawati mengarahkan motornya ke sebuah lorong. Saat hendak masuk ke mulut gang, dua polisi lalu lintas yang berjaga mengenalinya. Mereka segera menghampiri istri Aiptu Jailani, sesama anggota polantas di kota itu. Kedua polisi itu faham kesulitan yang sedang dihadapi Rahmawati.

“ Sudah, tak usah lewat gang,” kata salah seorang polisi. Mereka mempersilakan Rahmawati lewat jalan raya itu. Menimbang saran itu, Rahmawati pun mengucap terimakasih dan menjalankan motornya menuju rumah.

Terang saja, semua mata memandang ke arah satu-satunya motor yang melintas itu. Meskipun motor itu berjalan pelan dan menyisir di tepian jalan. Masyarakat yang tengah berolahraga di jalan itu bertanya-tanya. Petugas polantas yang dilewati tak menghiraukan, karena mereka sangat mengenal pengendara motor tersebut.

Baru beberapa ratus meter motor itu melintas, mendadak seorang polantas menghentikannya. Lho…? Rahmawati kaget, lalu menatap wajah sang polisi. Ternyata polisi itu adalah Aiptu Jailani, suaminya sendiri. Tak hanya dinasehati karena melanggar lalu lintas, sang suami juga menerbitkan surat tilang untuk istrinya sendiri.  

“ Untungnya istri mau mengerti dan memahami tindakan saya,” kata Aiptu Jailani tersenyum geli saat menceritakan kejadian itu kepada reporter merdeka.com, Moch. Ardiansyah.

Cerita tentang polisi yang menilang istrinya sendiri, segera tersebar di kota santri itu. Obrolan menyebar di warung-warung kopi. Jadi banyolan, tapi juga muncul rasa hormat kepada Pak Polisi Jaelani.

Berita itu segera terekspos di media massa. Komunitas Forum Film Jambi tertarik dan membuat film pendek dengan judul “ Kisah Nyata Polisi Menilang Istrinya.” Sejak diunggah ke jejaring video sosial Youtube akhir Mei 2914 lalu, film itu telah ditonton lebih dari 800 ribu kali!

Sebelum peristiwa...

1 dari 2 halaman

Menilang Anggota KPK

Sebelum peristiwa menilang istri sendiri itu, nama Aiptu Jailani sudah dikenal di kalangan masyarakat kota Gresik. Ia dikenal sebagai polisi kebal suap. Tak peduli petinggi polisi, TNI, hingga anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pernah ditilangnya.

Pada suatu kesempatan, Aiptu Jailani melihat sebuah mobil menerobos lampu merah. Ia pun mengejar. " Saat mobil saya hentikan, si pengemudi keluar dan menyodorkan uang Rp 50 ribu kepada saya," ungkap Jailani.

Mendapat iming-iming uang, bapak dari Nilam Ayu Wulandari (15) dan Muhamad Karim (13) itu menolak dan menanyakan identitas sang pengemudi. Ditolak pak polisi, pengemudi malah mengeluarkan tanda anggota KPK dan mengajak 'damai.'

" Saya cuma peduli cara mengemudinya. Dia bisa membahayakan orang lain dan dirinya sendiri," kata Jailani tanpa menyebut nama si pengemudi sambil memperagakan cara anggota KPK itu memperlihatkan identitasnya. Dia sendiri tak tahu apakah anggota KPK itu hanya ingin menguji dirinya. Ia memutuskan tetap menilang anggota KPK itu.

Pada kesempatan lain, Jailani pernah menilang Perwira dari Polda Jawa Timur yang tinggal di Gresik. Kejadiannya, pada suatu pagi dia melihat sebuah mobil parkir di jalan protokol depan rumah. Masalahnya, di jalan itu terdapat rambu P coret atau Dilarang Parkir.

Jaelani segera mengetuk rumah, meminta surat-surat mobilnya dan menilang mobil itu. Terang saja pemilik mobil, sekaligus rumah, plus berpangkat perwira itu marah besar. “ Saya ini dari Polda loh Dik! Saya bisa saja meminta Kapolres memberi sanksi ke kamu,” ancam sang perwira.

Perwira itu salah! Dia sedang menghadapi Jaelani, polisi yang kondang paling adil. Tetap saja dia jelaskan bahwa mobil sang perwira itu melanggar. Akhirnya sang perwira Polda Jawa Timur itu menyerah.

Jailani, abdi negara yang sudah 24 tahun berseragam cokelat itu memang tersohor. Sebut saja namanya, berbagai cerita bakal meluncur dari mulut para penikmat kopi di Kota Gresik. “ Oh polisi itu, satu-satunya polisi paling adil di Gresik,” kata Suradi, seorang pengunjung di warung kopi di Jalan Kartini, Gresik, ketika ditanya soal Aiptu Jailani.

Wahyudi, penikmat kopi lainnya menambahkan, Jailani lebih dikenal ketimbang Kapolresnya. Tak terkecuali anak-anak sekolah dasar. " Dulu, waktu Kapolresnya AKBP M Iqbal, sempat geregetan sama Jailani,” kata Wahyudi.

Saat itu Kepolisian Gresik menggelar acara dialog antara Kapolres dengan anak-anak SD. Ketika anak-anak itu ditanya, siapa nama Kapolres Gresik? “ Anak-anak itu serempak menjawab : Pak Jailani!”  cerita Wahyudi sambil terbahak. Dan kabarnya usai acara, Jailani mendapat teguran dari Bapak Kapolres.

Aiptu Jailani membenarkan tentang teguran Kapolres itu. “ Jailani, kamu saja jadi Kapolres gantikan saya. Masa kamu lebih dikenal daripada saya,” kata Jailani menirukan kalimat komandannya saat itu.

Siapa Aiptu Jailani...

2 dari 2 halaman

Keluarkan Ribuan Surat Tilang

Siapa Aiptu Jailani ini? Polisi ini lahir di Jombang, 10 Agustus 1969. Ia bukan berasal dari keluarga polisi atau militer. Ayah ibunya, Mustamin dan Jaitun, petani biasa. Tapi ia mengaku pengaruh terbesar justru datang dari ibunya.

Kedisiplinan lahir karena ajaran disiplin sang Ibu. Sampai-sampai meletakkan sandal saja  harus berjajar rapi. “ Saya jadi tahu kalau sandal berserakan, pasti sedang ada tamu. Juga kalau baju kotor tidak ditaruh di keranjang cucian, meski sampai dua minggu baju itu tidak bakal pernah dicuci,” katanya.

Sejak kelas lima SD, anak tunggal ini sudah memakai jam tangan. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi untuk memastikan waktu untuk belajar, saat salat, hingga mengerjakan tugas rumah. “ Arloji itu mengajarkan dan mengingatkan saya betapa berharganya waktu,” katanya.

Tamat pendidikan menengah, Jailani mendaftar sebagai anggota polisi di Polda Jawa Timur pada 1990. Tugas pertama, dia dikirim ke Papua. Di sana dia mengenyam pendidikan Sekolah Polisi Negara (SPN). Bertugas di Datasemen Markas Polda Papua, dia sempat menjadi ajudan rumah tangga Kapolda Papua, Kolonel Sulaiman Hadi.

Delapan tahun kemudian dia dimutasi ke Polda Jawa Timur. " Semua gaji saya tiap bulan, saya serahkan ke istri. Saya cuma dijatah Rp 200 ribu untuk uang saku," katanya tanpa menyebut nominal gaji yang diterima.

Meski begitu, Aiptu Jailani, anggota Satlantas Polres Gresik, tak tergoda menambah uang sakunya dari hasil “ 86” alias uang damai pelanggar lalu lintas. Bagi Polantas yang kini berusia 46 tahun itu, aturan tetap harus ditegakkan agar esok lebih baik dari hari ini.

Bagi Jailani salah satu pengakuan yang diterimanya ketika tiga tahun lalu mendapat ucapan selamat dari Dirlantas Polda Jawa Timur. Ucapan itu atas prestasinya meraih kredit poin tertinggi karena menerbitkan 2.400 surat tilang yang dia tandatangani dalam setahun. " Saya hanya menjalankan tugas," katanya merendah.

Kejujuran Aiptu Jailani menjadi bukti masih ada polisi di Indonesia yang anti suap. Mantan Presiden (Alm.) Abdurrahman Wahid yang juga berasal dari Jombang pernah bercanda dengan menyebut hanya ada tiga polisi yang tak mempan disuap di Indonesia: Jenderal Polisi Hoegeng, patung polisi, dan polisi tidur.  

Jika Gus Dur masih ada di antara kita, mungkin dia perlu menambahkan satu nama lagi: Aiptu Jailani.

 

Baca juga:

Kisah Para Polisi Jujur Jenderal Polisi Jujur Itu Bernama Hoegeng Bripda Taufiq, Polisi yang Tinggal di Kandang Sapi

Beri Komentar