Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Pemimpin Sekaligus Pengajar Pendidikan Agama Islam Di Pesantren Ash Shalahudin, Asep Marwan. (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)
Dream - Sosok Asep Marwan barangkali akan sulit ditemui di zaman serba perhitungan ini. Sebagai pemimpin Pesantren Ash Shalahudin, Kampung Bojongtangkal, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, dia berjuang tanpa digaji untuk mengurus dan mendidik santri-santri yang notabene yatim dan dhuafa.
" Selama mengajar di pesantren tidak ada gaji. Jangankan dapat gaji, justru kami memikirkan bagaimana agar santri bisa makan agar bisa berkegiatan," kata Asep, Rabu 4 Desember 2019.
Saat ini pesantren yang dikelola Asep terdapat 57 santri dengan berbagai jenjang usia. Mereka bersekolah formal SMP dan SMA. Total, tenaga pengajar di pesantren ini berjumlah sembilan orang.
Para pengajar ini punya pekerjaan sambilan, semisal menjadi buruh bangunan, berjualan, atau bekerja di bidang lain.
Untuk memenuhi kebutuhan penghuninya, pesantren ini mengandalkan sumbangan dari para donatur. Pengelola pesantren juga rutin berjualan produk kerupuk lele.
Hasil penjualan kerupuk lele akan digunakan sebagai uang tambahan operasional pesantren. Asep menuturkan, kegiatan keagamaan dengan kewirausahaan sejalan dengan cita-cita ayahnya yang juga pendiri ponpes.
" Cita-cita almarhum adalah ingin menghidupi pesantren tanpa harus meminta-minta. Kebutuhan makan santri karena mereka tidak mampu harus kita penuhi. Maka dari itu, saya selain mengajar Alqur'an juga mengajarkan kewirausahaan," ujar dia.
Kisah Asep Marwan yang mendedikasikan dirinya sebagai guru di pesantren membuat organisasi kemanusiaan global Aksi Cepat Tanggap (ACT) tergerak. Mereka memberikan bantuan berupa bantuan tunai melalui program Sahabat Guru Indonesia.
" ACT memberikan santunan hidup kepada mereka dengan uang tunai Rp500 ribu setiap bulan selama satu tahun," kata Branch Manager ACT Jawa Barat Renno I Mahmoeddin.
Selain Asep, ada 10 guru atau tenaga pengajar lain yang menerima bantuan langsung itu. Mereka adalah guru honorer di sekolah formal maupun tenaga pengajar sukarela di pesantren dan madrasah.
Menurut Renno, di Jawa Barat terdapat sekitar 185 guru honorer yang kondisinya prasejahtera. Mereka digaji jauh di bawah upah minimum regional (UMR). Tidak sedikit di antara mereka yang bergaji di bawah Rp300 ribu dan tak jarang penghasilan mereka tidak menutupi kebutuhan sehari-hari.
" Saat ini kita akan berikan untuk 25 guru dulu, 10 orang ini simbolisnya. Tidak menutup kemungkinan 185 guru prasejahtera akan menerima bantuan ini," kata dia.
Sumber: Liputan6.com/Huyogo Simbolon
Advertisement
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?