BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
Kondisi Di Jerusalem
Dream - Israel melarang para pejabat Malaysia ke Ramallah, Palestina. Pelarangan itu muncul sehubungan dengan pernyataan antisemitik Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad.
Menurut laman The Jerusalem Post, akibat pelarangan itu, Malaysia membuka " Kedutaan Besar untuk Palestina" di Amman, Yordania.
Langkah Israel ini dianggap sebagai terobosan kebijakan terhadap negara-negara Muslim yang tidak memiliki hubungan resmi dengan Israel.
" Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad telah memimpin kebijakan anti-Israel dan antisemit ekstremis, termasuk melarang delegasi atletik Israel memasuki negaranya, tidak mengizinkan warga negara Malaysia masuk ke Israel, dan mendeklarasikan permusuhan dengan nada antisemit," kata Kementerian Luar Negeri Israel.
" Perilaku seperti itu tidak memungkinkan Malaysia menginjak wilayah Isreal," ujar Kementerian Luar Negeri Israel.
Mahathir telah menyebut orang-orang Yahudi " berhidung kait," dan mengatakan bahwa " orang-orang Yahudi memerintah dunia ini dengan kuasa. Mereka membuat orang lain bertarung dan mati untuk mereka.”
" Orang-orang Yahudi melakukan banyak hal yang salah," kata Perdana Menteri Malaysia yang berusia 93 tahun pada Juni 2019 di Universitas Cambridge.
Dalam pidato tersebut, Mahathir juga berandai bisa menyerang Israel.
Mahatir mengatakan dia " senang diberi label antisemitic" .
Tindakan anti-Israel Malaysia terlihat saat pemindahan perhelatan Paralimpiade 2020 karena menolak izin masuk atlet Israel. Tapi, Keputusan Kementerian Luar Negeri Israel tidak berlaku untuk wisatawan Malaysia.
Dream - Puluhan mahasiswa Universitas Harvad meninggalkan ruangan saat Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat (AS), Dani Dayan. Dayan sebenarnya diundang oleh Harvard untuk menjelaskan Strategi Hukum Pendudukan Israel.
Sebelum meninggalkan ruangan para mahasiswa menunjukkan papan bertuliskan " Pendudukan merupakan kejahatan perang" ketika mereka diam-diam meninggalkan ruangan.
Seorang mahasiswa Komite Solidaritas Palestina Universitas Harvard (HCPSC) mengatakan protes itu merupakan bagian dari kekeceawaan mereka.
" Saya kecewa Harvard Law School akan membiarkan propaganda semacam proyek kolonial untuk akumulasi perampasan dibingkai sebagai `hukum`," kata seorang mahasiswa HCPSC.
“ Ini tidak hanya aktivitas ilegal tetapi juga tidak jujur,” kata mahasiswa.
Mahasiswa tersebut menyebut, ada konsesus antara komunitas intenasional yang menyebut pendirian pemukiman Israel melanggar hukum internasional dan Konvesi Jenewa IV.
Usai berpidato, Dayan menyebut para pengunjuk rasa " sekelompok pecundang" dalam sebuah cuitan.
Dayan, adalah Konsul Jenderal Israel di New York. Dia aktif mengadvokasi pendirian dan pemeliharaan permukiman Israel di Tepi Barat. (mut)
100+ students at @Harvard_Law walk out on a talk hosting extremist settler leader, and current Consulate General of Israel in New York, Dani Dayon.
Dayon was left to speak to an almost empty room. pic.twitter.com/ZHx6tGkxnZ
— Hamzah Raza (@raza_hamzah) November 13, 2019
Dream - Kebrutalan tentara dan polisi Israel terhadap warga Palestina bukan hanya sekali dua kali saja kita dengar. Kekejaman itu tidak juga berhenti meski mendapat kutukan banyak orang dari sekujur Bumi.
Terbaru, sebuah video polisi wanita Israel membuat geger karena menembak pria Palestina dari belakang. Laman Metro.co.uk menyebut alasannya penembakan ini hanya untuk senang-senang belaka.
Menurut laman asal Inggris itu, peristiwa yang trekam dalam video tersebut terjadi sekitar satu setengah tahun silam. Dalam video itu terdengar polisi wanita itu mengusir pria nahas tersebut dengan menggunakan bahasa Arab.
" Pergi dari sini," demikian teriak polisi wanita itu.
Media Israel Channel 13, sebagaimana dikutip The National, menyiarkan rekaman tersebut. Menurut laporan media itu, pria Palestina ini diminta kembali ke Tepi Barat, tepi Yerusalem.
Pria itu pun menuruti perintah itu, berjalan sambil mengangkat kedua tangan. Namun sekitar 20 detik kemudian, salah satu polisi wanita Israel menembaknya dari belakang, dari jarak yang dekat.
Channel 13 menyebut polisi wanita itu menggunakan peluru karet untuk menembak pria Palestina itu. Pelor ini jamak digunakan untuk pengendalian kerusuhan, namun bisa menyebabkan kematian bila ditembakkan dari jarak dekat.
Juru Bicara Kepolisian Israel, Micky Rosenfeld, mengatakan bahwa pria Palestina yang tertembak tidak mengalami cidera serius.
Pengadilan, tambah Rosenfeld, juga telah membuka hasil penyidikan insiden ini. Petugas polisi wanita itu dikabarkan telah dipecat.
Bahkan, polisi lain yang juga terlibat dalam insiden itu telah turun pangkat.
Sejak insiden itu, otoritas Palestina telah curiga terhadap tindakan Israel dan mendesak PBB untuk segera mengambil tindakan.
Advertisement
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
