Buku Islam Laris di Perancis Usai Tragedi Charlie Hebdo

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 6 April 2015 15:31
Buku Islam Laris di Perancis Usai Tragedi Charlie Hebdo
Persatuan toko buku Perancis mencatat kenaikan signifikan penjualan buku-buku Islam dalam kuartal pertama 2015, mencapai tiga kali lipat.

Dream - Tragedi penembakan ke kantor majalah satir Perancis, Charlie Hebdo, ternyata memicu tumbuhnya minat mempelajari Islam. Dalam beberapa bulan usai tragedi tersebut, buku-buku bertema Islam terjual laris, mirip dengan fenomena usai tragedi 11 September di Amerika Serikat.

Persatuan toko buku Perancis mencatat kenaikan penjualan buku-buku Islam. Dalam kuartal pertama tahun 2015, peningkatan angka penjualan buku-buku tersebut mencapai tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan ini juga dialami majalah filsafat 'Philosophie'. Ini lantaran majalah tersebut memiliki suplemen khusus yang membahas Alquran.

" Sekarang kenaikan penjualannya cenderung bertahan lebih lama karena Islam akan terus menimbulkan masalah geo-politik," ujar pemilik Penerbit Al Bouraq, Mansour, dikutip Dream.co.id dari dailymail.co.uk, Senin, 6 April 2015.

Al Bouraq merupakan penerbit yang fokus menerbitkan buku-buku Islam dan Timur Tengah. Penerbit ini mencatatkan peningkatan penjualan sebesar 30 persen usai tragedi Charlie Hebdo.

Meski demikian, Mansour mengingatkan orang-orang yang membaca Alquran tanpa 'ditemani' dan menarik kesimpulan sendiri tentang ayat-ayat suci tersebut. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari adanya kesalahan pemahaman dalam membaca ayat-ayat Alquran.

Saran ini menyusul munculnya kelompok militan ISIS yang telah mengklaim mewakili Islam. Padahal, pada praktiknya mereka begitu jauh dari ajaran Islam yang penuh damai.

Menurut penerbit Hebdo Livres, jumlah buku yang diterbitkan di Perancis tahun lalu dua kali lebih banyak yang didedikasikan untuk Islam daripada Kristen.

Pada pameran buku terbesar di Perancis pada bulan Maret lalu, buku yang paling laris adalah 'A Christian Reads The Koran' yang merupakan cetak ulang dari penerbit Le Cerf yang terbit pertama kali pada tahun 1984.

Peningkatan penjualan ini terjadi menyusul semakin banyaknya warga Perancis yang ingin memahami Islam. Selama ini, Islam selalu dipandang sebagai agama penyebar teror.

Pengetahuan ini diserap oleh sebagian warga Perancis tanpa merujuk pada sumber aslinya. Atas hal itu, mereka ingin mencari jawaban tentang asumsi tersebut dengan membacanya dari sumber utama ajaran Islam, Alquran.

" Seorang wanita Katolik datang untuk membeli salinan Alquran, karena dia ingin memahami sendiri apakah Islam adalah agama kekerasan atau bukan," kata Yvon Gilabert, pemilik kedai buku di Nantes.

Di samping itu, terdapat pula sebagian warga Perancis yang ingin mengetahui pelbagai interpretasi Islam terkait masalah sosial. Salah satunya mengenai ekstrimisme.

" Saya rasa kita perlu tahu bagaimana agama melihat ekstrimisme di masa lampau, agar kita dapat melihat sendiri tentang apa yang ditawarkan agama itu," ujar Patrice Besnard, pelanggan buku-buku agama di Paris.

 

Beri Komentar