Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Cerita Para WNI Terjebak Lockdown Corona di Negeri Orang

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Rabu, 22 April 2020 14:01
Cerita Para WNI Terjebak Lockdown Corona di Negeri Orang
Mereka merasakan betul bagaimana suasana yang terjadi

Dream - Virus corona telah menyebar nyaris di seluruh negara di dunia. Tak hanya penduduk lokal, banyak warga negara Indonesia yang berada di luar negeri terjebak karena lockdown dan merasakan kengerian akibat virus Corona Covid-19 ini. Tidak sedikit dari WNI tersebut yang khawatir akan kesehatan mereka.

Selain memikirkan kesehatan diri sendiri, mereka juga memikirkan keadaan keluarga di Indonesia sambil berharap tak ada pengalaman buruk dirasakan seperti yang mereka alami.

Ada lebih dari 780 ribu kasus Covid-19 yang sudah dikonfirmasi di Amerika Serikat, dengan penularan tertinggi terjadi di kota New York, yang menjadi pusat bisnis dan hiburan.

Sementara di Eropa, Spanyol, Italia, dan Prancis menjadi tiga negara dengan kasus tertinggi dengan total kematian di tiga negara ini sudah mencapai lebih dari 60 ribu orang.

Inilah beberapa kisah WNI yang berada diluar negeri yang saat ini masih berjuang melawan pandemi Corona Covid-19, dikutip dari ABC Australia.

1 dari 4 halaman

Pengalaman di Amerika Serikat

Amerika Serikat kini menjadi negara dengan kasus Covid-19 tertinggi di dunia. Ada lebih dari 780 orang yang dinyatakan positif, 42 ribu pasien meninggal dunia dan setengahnya berdomisili di New York City.

Tingginya angka kasus positif corona di New York City membuat pasangan asal Indonesia, Hendy Bernandi dan Istrinya, Caroline Ronauli merasa khawatir akan kesehatannya.

Pasangan ini telah menetap di dekat kota New York selama lebih dari dua tahun. Mereka tinggal di kawasan Forest Hills di Queens, sekitar 20 menit dari pusat kota New York.

Bersyukur kawasan tempat mereka tinggal bukanlah kawasan yang dinyatakan sebagai 'hot spot', tidak sepeti Bronx ataupun Broklyn. Warga sekitar tempat pasangan ini tinggal juga mematuhi peraturan pemerintah dengan melakukan 'physical distancing'.

Inilah yang membuat Hendy, Olin dan Hayzel, anak mereka, merasakan atmosfer positif ditengah wabah corona yang melanda New York City.

Hayzel kini duduk di bangku kelas 6 SD, sudah lebih dari sebulan pembelajaran dilakukan secara daring. Semua kebutuhan seperti ipad dan laptop telah disediakan oleh Kementerian Pendidikan Amerika Serikat.

Tidak hanya peralatan sekolah, jatah makan murid di kantin sekolah sebanyak tiga kali pun tetap diberikan. Orang tua bisa mengambil jatah makan anak antara pukul 8 hingga pukul 1 siang.

" Mungkin karena ini sekolah publik ada anak-anak dari keluarga yang tidak mampu, pemberian makanan ini masih terus dilakukan pihak sekolah," Olin menjelaskan.

Kekhawatiran Olin lebih tertunju ke sang suami, Hendy. Hendy bekerja di salah satu bank BUMN Indonesia di New York, sehingga ia tetap harus ke kantor satu kali dalam seminggu.

" Setiap mau keluar rumah, saya ingatkan, jangan lupa pakai ini-itu, semprot disinfektan. Begitu balik [ke rumah] juga jaket dicopot dulu, disemprot-semprot lagi, mandi dulu, baru makan," kata Olin kepada Hellena Souisa dari ABC Indonesia.

Sementara untuk mengatasi kebosanan di rumah karena kondisi 'pause' di New York, Hendy dan Olin melakukan banyak kegiatan, termasuk yang mereka tidak pernah lakukan sebelumnya.

" (Karena) enggak tahu lagi mau ngapain, kami bertiga senam di depan televisi dengan panduan YouTube ... kami ber-zumba bertiga dengan baju olahraga lengkap," tutur Olin, yang mengaku sebelumnya ia tidak suka berolahraga.

Seiring pemberitaan yang mengerikan tentang situasi New York, Hendy dan Olin harus sering menenangkan orang tua dan keluarga di Indonesia yang mengkhawatirkan keadaaan mereka.

Selain itu, karena tinggal di negeri orang, Hendy dan Olin kerap bersilatuhrahmi dengan sesama muslim asal Indonesia, terutama jelang bulan Ramadhan dan saat lebaran nanti.

Kini mereka juga merisaukan potensi meningkatnya tindakan kriminalitas di New York, karena naiknya jumlah pengangguran.

Akhir pekan kemarin, ribuan warga Amerika Serikat turun ke jalan melakukan unjuk rasa dengan tuntutan segera dibukanya kembali pusat-pusat dan kegiatan ekonomi, karena mereka telah merasakan dampaknya.

 

2 dari 4 halaman

WNI di Italia

Virus corona telah memakan korban meninggal dunia sebanyak 23.000 dari 178.000 kasus positif corona hingga akhir pekan kemarin (19/4/20).

Marlina Cardioli, asal Bandung atau yang biasa disapa Inna, sudah tinggal di Italia selama 10 tahun. Ia tinggal di kota Verona, Italia Utara.

Inna bercerita, keluarganya telah tinggal dirumah sejak awal Maret lalu.

" Benar-benar seperti mimpi rasanya, karena awalnya kita melihat apa yang terjadi di Wuhan, tapi kini di rumah sendiri, di negara yang kita tinggali," kata Inna kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

Sejak pertama kali pemberlakuan lockdown di Italia, Inna mengatakan perekonomian nasional menjadi kacau. Banyak aktivitas bisnis yang berhenti, hanya supermarket dan apotek saja yang dapat dikunjungi warga.

Kekhawatiran akan virus corona semakin Inna rasakan saat melihat berita di media.

" Benar-benar mempengaruhi secara psikologis, akhirnya kami memutuskan untuk tidak melihat TV lagi dan pernah tiga minggu tidak mengecek sosial media," ujarnya.

Inna kemudian menghabiskan waktunya untuk melakukan hal-hal positif agar tidak stres.

" Sekarang kesibukan malah bertambah, suami juga bekerja dari rumah, kita lebih menyibukkan diri dengan memasak dan beres-beres rumah," kata Inna.

Memasuki awal April, keadaan di Italia 'sedikit tenang' menurut Inna. Hal ini karena laporan jumlah pasien di perawatan intensif kian menurun.

Namun kini yang menjadi kekhawatiran adalah kondisi keluarga di Indonesia melihat berita kasus covid-19 yang kian bertambah tiap harinya.

" Jujur aku lebih takut karena jumlah penduduknya lebih banyak, di Italia warga yang sudah di-swab [salah satu metode tes virus corona] lebih dari satu juta orang, tapi di Indonesia masih kurang," ujar Inna.

" Saya juga melihat temen-temen masih bisa pergi untuk treatment (perawatan kecantikan), suntik vitamin C, padahalnya harusnya jangan dulu ketemu siapa-siapa, termasuk keluarga sendiri demi menyelematkan orang lain."

" Ini jangan dianggap masalah yang sepele, karena di Italia kita sudah mengalaminya," ujarnya mengingatkan pentingnya untuk diam di rumah.

 

3 dari 4 halaman

Frustasi di Inggris

Maria Main sudah tinggal di Inggris selama 15 tahun dan kini sudah berkeluarga.

Dalam percakapannya dengan ABC Indonesia, Maria dan Suaminya sama-sama sudah tertular virus corona dengan situasi yang berbeda.

" Tiga minggu yang lalu, [Rabu, 18 Maret 2020] Nick merasa tidak enak badan disertai demam dan suhu badan tinggi semalaman sampai Kamis pagi," kata Maria.

Dua hari kemudian, Maria yang merasakan gejala-gejala virus corona seperti suhu badan meningkat, pegal linu di bagian rahang, kaki, tangan, sakit kepala dan batuk kering.

" Karena saya punya latar belakang asma yang akut, kami langsung telepon ambulan, dan saya dijemput masuk ke rumah sakit," kata Maria.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter, dirinya tidak di tes virus corona. Ia hanya mendapat status 'suspected'.

Selain diberi antibiotik dan obat asma, ia diminta untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari dirumahnya dan berlaku juga untuk seluruh anggota keluarga.

Di antara anggota keluarga yang lain, Maria mengalami gejala paling berat seperti pernafasan yang semakin sulit akibat asma yang diderita serta kehilangan selera makan.

" Hari terberat itu ke-4, 5, dan 6. Saya hanya di tempat tidur saja, jalan cuma ke toilet, itupun sangat melelahkan."

" Hari ke-7, kalau pernafasan masih sulit, rencana mau telepon ambulans lagi. Puji Tuhan, semua gejala hilang hari itu, panas badan hilang, batuk hilang, dan paru-paru tidak kontraksi lagi."

Menurutnya, ia tertular ketika menggunakan kreta umum di London.

Sekarang Maria dan keluarganya tengah dalam proses pemulihan. Menurut dokter, proses pemulihan membutuhkan waktu lima hingga enam minggu.

" Sekarang minggu keempat semenjak gejala hari pertama, masih batuk-batuk, dan nafas pendek kalau banyak bergerak," ujarnya yang merasa lelah meski hanya berjalan 10 menit.

" Banyak teman-teman dan keluarga yang berminat mendengarkan kisah langsung, apalagi yang bisa sembuh, terutama karena berita-berita yang beredar dimedia sangat menakutkan," katanya yang mengaku sebagai salah seorang yang pertama sembuh dari COVID-19 di London.

 

4 dari 4 halaman

Alami Panik di Prancis

Rizal Halim, salah satu WNI yang sudah menetap di Paris sejak tahun 1994. Dirinya kini bekerja di bidang pemasaran internasional di salah satu pusat perbelanjaan fashion di kota Paris.

Dia sendiri bersyukur sejauh ini belum terpapar virus corona, tapi ia mengenal seorang teman asal Indonesia yang memiliki gejala seperti telah terpapar virus tersebut.

" Kawan saya perempuan, tinggal sendiri dan apartemennya berada di suburb cukup berjauhan dengan tempat tinggal saya , sehingga kami berbicara hanya lewat telpon."

" Dia mulai merasa panik, karena gejala batuk keringnya tidak sembuh, juga kehilangan daya penciuman. Badannya terasa lemah, linu dan suhu badan menaik sedikit," kata Rizal.

Rizal mengatakan temannya tersebut panik, karena saat itu ia belum memiliki persediaan makanan dan keperluan rumah tangga lainnya.

" Saat itu adalah awal dari karantina, sekitar tanggal 15 maret dimana pengumuman dari President Macron untuk lockdown merupakan sebuah kejutan bagi penduduk Prancis."

" Beruntung ada solidaritas dari tetangga-tetangganya yang membantu membeli keperluan makanan dan juga meminjamkan termometer."

Setelah lewat dari dua minggu, temannya berhasil mengatasi gejala Virus Corona baru.

" Sekarang dia sudah mempunyai nafsu makan, temperatur badan kembali normal dan daya penciumannya sudah mulai kembali."

Rizal sendiri sering merasa cemas dengan tingginya jumlah penularan virus corona tiap harinya. Ia juga resah memikirkan dirinya mungkin saja sudah tertular virus corona walaupun tidak memiliki gejala apapun, tapi ia khawatir menjadi rentan menularkan kepada orang lain.

" Selama lockdown, saya hanya keluar untuk membeli kebutuhan pokok dengan persiapan selalu memakai sarung tangan plastik dan membawa surat yang menyatakan alasan saya untuk keluar rumah."

Tanpa surat tersebut, ia mengatakan warga di Prancis bisa didenda sebesar 135 euro, atau lebih dari Rp 2,2 juta.

" Saya melakukan olah raga di dalam apartemen saya ... dengan terburu-buru juga membeli sepeda statis," ujarnya.

Sumber: Liputan6.com

Beri Komentar