CONNECT WITH US!

Negara Anti Perayaan Valentine, Ketahuan Akibatnya Fatal!

Reporter : Maulana Kautsar | Rabu, 14 Februari 2018 10:01
Penolakan Terhadap Perayaan Hari Valentine (Foto: Istimewa)
Dari menggunakan pengintai, hingga harga mawar yang meroket.

Dream - Warna merah muda dan merah mawar terpampang di iklan laman jual beli terkemuka di Indonesia. Logo ikonik hati dan mawar menambah desain.

Memasuki Februari, desain serba `cinta` muncul. Penyedia laman jual beli memanfaatkan momen Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang yang jatuh pada tanggal 14 Februari untuk memberikan promo menarik.

Tetapi, meski kerap muncul sebagai iklan, Hari Kasih Sayang kerap diidentikan dengan tindakan-tindakan asusila. Beberapa daerah bahkan membuat imbauan untuk melarang perayaan Hari Kasih Sayang.

Pada 2018 ini, Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali menjadi sosok yang disorot. Sebab, Mawardi mengeluarkan surat larangan perayaan Valentine Day atau Hari Kasih Sayang pada 14 Februari. Dia menilai perayaan itu bertentangan dengan syariat Islam.

Aturan tersebut tertuang dalam intruksi Bupati Nomor 451/882/2018 tentang Imbauan Larangan Perayaan Hari Valentine Day. Dalam surat itu tertera bahwa Hari Kasih Sayang merupakan " budaya yang bertentangan dengan syariat Islam dan UU Nomor 44 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh."

Pada 2017 lalu, sejumlah wilayah semisal Kota Depok, Jawa Barat juga membuat larangan serupa. Tiga daerah lain di Jawa Barat tercatat juga menerapkan aturan serupa, semisal Kota Bogor, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kabupaten Ciamis.

Penolakan serupa juga terjadi di beberapa negara. Salah satunya Malaysia. Dilaporkan BBC Internasional, 80 siswa di Malaysia diamankan polisi moral karena merayakan Hari Kasih Sayang pada 2014.

Sementara itu, hotel kelas melati di Selangor dan Kuala lumpur di razia untuk menghindari perzinaan.

Di Malaysia pelarangan perayaan Hari Kasih Sayang telah muncul sejak 2005. Di masa itu, Majelis Ulama Malaysia mengeluarkan fatwa pelarangan perayaan Hari Kasih Sayang.

Pakistan dan India dilaporkan juga menerapkan larangan serupa.

Pelarangan perayaan Hari Kasih Sayang di Pakistan muncul pasca terjadinya bentrokan di sebuah universitas di Peshawar pada 2014.

Mahasiswa liberal merayakan Hari Kasih Sayang dengan balon dan kue warna merah. Kelompok lain tak terima karena perayaan tersebut " tidak Islami" .

Terjadi perkelahian dan lemparan batu diantara dua kelompok tersebut.

Sementara itu penolakan Hari Valentine di India muncul karena nilai-nilai Barat yang melekat dari perayaan itu. Dilaporkan The Time of India, pimpinan Partai Hindu Mahasabha, Chandra Prakash mengatakan, " Kami tak menolak cinta, namun jika pasangan saling mencintai mereka harus menikah."

Kelompok lain mengatakan bahwa merayakan asmara akan mendorong kehamilan remaja dan sebaliknya mendorong orang India untuk membuang gagasan asmara antara anak laki-laki dan anak perempuan.

Pelarangan dengan alasan budaya Barat yang melekat, juga muncul di Iran. Pemerintah berusaha membubarkan perayaan Hari Kasih Sayang dengan misi " kebiasaan Barat yang harus gugur" .

Economist bahkan menyebut toko-toko harus menggunakan pengintai untuk menghindari razia Hari Kasih Sayang.

Di Arab Saudi, pelarangan Hari Kasih Sayang diikuti hukuman yang berat. Agustus 2014, lima warga Arab Saudi didakwa penjara 39 tahun serta masing-masing mendapat 4.500 cambukan.

Lima orang laki-laki tersebut ditemukan berdansa dengan enam perempuan di saat Hari Valentine. Selain itu polisi syariah menyita mawar merah dan alkohol.

Dilaporkan CNBC, pelarangan perayaan Hari Kasih Sayang membuat mawar merah harus dijual di pasar gelap. Harganya pun meroket tajam.

(Sah)

Novel Baswedan pulang, ingin segera kembali bertugas