Din Syamsuddin Kampanye `Islam Indonesia` di Jepang

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 5 November 2015 16:16
Din Syamsuddin Kampanye `Islam Indonesia` di Jepang
Islam di nusantara berwatak damai, moderat, terbuka, toleran, dan anti kekerasan. Sifat itu terbentuk karena Islam masuk secara damai dan latar sosial budaya masyarakat Indonesia yang cinta damai.

Dream - Islam di Indonesia memiliki watak berbeda dari negeri lain, termasuk Timur Tengah. Islam di nusantara berwatak damai, moderat, terbuka, toleran, dan anti kekerasan. Sifat itu terbentuk karena Islam masuk secara damai dan latar sosial budaya masyarakat Indonesia yang cinta damai.

Demikian disampaikan oleh Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin, di Markas Sasakawa Peace Foundation, Tokyo, Rabu 4 November 2015.

“ Namun akhir-akhir ini, suasana demikian sedikit berubaha dengan adanya ketegangan, bahkan konflik, antar kelompok umat beragama, seperti terjadi terakhir di Tolikara, Singkil, dan Manokwari,” tutur Din dalam ceramah bertajuk “ Masalah, Tantangan, dan Masa Depan Islam di Indonesia”.

Menurut Din, munculnya pertentangan itu disebabkan adanya pergeseran tata nilai yang dianut sebagian masyarakat, sejalan dengan modernisasi, globalisasi, dan liberalisasi yang melanda Indonesia sejak satu dua dasawarsa terakhir.

Din mengatakan radikalisme keagamaan yang muncul di Indonesia didorong oleh faktor keagamaan dan faktor-faktor non-agama. Radikalisme karena faktor keagamaan terjadi karena mengambil bentuk pemahaman yang salah akibat penafsiran sempit teks-teks Kitab Suci dengan mengabaikan misi utama Islam untuk kerahmatan dan kesemestaan.

“ Dan yang ke dua berupa ketdakadilan sosial, ekonomi, dan politik, yang sering menjadi faktor picu kekerasan dan sikap radikal dan agama menjadi faktor pembenar sikap tersebut,” tambah Din, yang berpidato di hadapan ratusan tokoh dari berbagai kalangan itu.

Ceramah mantan Ketua Umum Muhammaddiyah itu mendapat sambutan antusias. Banyak audiens mengajukan pertanyaan, terutama tentang ISIS. Din menegaskan, ideologi dan perilaku ISIS tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang menekankan kasih sayang dan perdamaian. “ ISIS bukan gerakan Islam, tapi gerakan politik yang menyalahgunakan Islam untuk tujuan politik.”

Din berkunjung ke Jepang selama delapan hari. Dia mengagumi masyarakat Jepang yang dinilainya mengamalkan nilai-nilai Islam seperti kebersihan, kejujuran, kedisiplinan, penghargaan akan waktu, dan kerja keras. Dengan ceramah itu, Din berharap masyarakat Jepang memahami tentang Islam di Indonesia. (Ism) 

Beri Komentar