Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Graphene, Bahan Dari Minyak Sayur Ini Diklaim 200 Kali Lebih Kuat Dari Baja (australiaplus.com)
Dream - Para ilmuwan dari Lembaga Peneliti Utama Australia, CSIRO, menemukan bahan yang diklaim 200 kali lebih kuat dari baja. Bahan itu terbuat dari minyak sayur, diberi nama Graphene.
Graphene dibuat dari serangkaian lapisan karbon dan sangat ringan. Bahan ini juga diklaim mampu menjadi penghantar listrik lebih bagus dibandingkan tembaga.
Dengan kualitas tersebut, graphene dapat digunakan sebagai bahan elektronik, sel tenaga surya, hingga di dunia kedokteran. Tetapi, graphene sangat sulit dibuat dan mahal, kecuali di laboratorium.
Selama ini, graphene dibuat dengan teknologi panas tinggi dan penggunaan bahan yang mahal seperti metal alami dan gas mudah meledak.
Saat ini, para ilmuwan Australia berhasil merinci cara membuat graphene dari bahan yang murah dan mudah didapat. Bahan itu adalah minyak kedelai.
Penemuan tersebut diterbitkan di jurnal Nature Communications. Mereka menyebut penemuan ini dapat membuka peluang pembuatan graphene dengan biaya murah.
Graphene dibuat dengan cara memanaskan minyak kedelai pada tabung selama 30 menit. Setelah itu, minyak diurai dalam blok pencetak karbon di selembar lapisan berbahan nikel.
Lapisan itu didinginkan dan disebarkan agar terbentuk lapisan graphene dengan luas 5 sentimeter kali 2 sentimeter. Sementara ketebalannya ditetapkan 1 nanometer, sekitar 80 ribu kali lebih tipis dibandingkan rambut manusia.
Salah satu peneliti, Dr Zhao Jun Han, mengatakan, proses yang mereka kerjakan lebih cepat dan efisien dalam penggunaan energi ketimbang metode lainnya.
"Metode lain memerlukan waktu beberapa jam untuk memompa tabung, membuat film, dan mendinginkannya," kata Zhao.
Zhao mengatakan proses mereka bisa menekan ongkos produksi 10 kali lebih sedikit. "Kami percaya proses ini bisa secara signifikan menurunkan ongkos membuat film graphene." ucap dia.
"Ini bisa digunakan untuk pelbagai hal yang sebelumnya tidak dimungkinkan karena biaya yang mahal membuat film graphene," lanjut Zhao.
Meski demikian, apakah graphene dapat diproduksi secara massal?
Pakar Graphene dari Universitas Wollongong, Profesor David Officer, mengatakan, penggunaan minyak kedelai sebagai sumber karbon murah merupakan langkah maju. Langkah ini akan mendapat perhatian dunia sains.
"Potensinya besar sekali," kata Officer.
Tetapi, dia masih meragukan apakah proses ini dapat dijalankan dalam skala besar. "Misalnya memasukkan minyak ke dalam tabung panas dan membuat film selebar satu meter," ucap dia.
Saat ini, pembuatan graphene dalam skala besar masih menjadi masalah. Para ilmuwan terus berupaya menemukan cara yang tepat.
Sejauh ini, graphene yang berhasil dibuat masih sebesar kartu kredit.
Sementara itu, Zhao megatakan, CSIRO tengah meneliti bagaimana menerapkan film graphene sebagai pengganti membran penyaring air. Selain itu, untuk menggantikan bahan mahal seperti emas dan platinum.
"Kami juga berpikir menggunakan graphene ini untuk bahan penyimpan energi seperti baterai dan superkapasitor. Film ini juga digunakan sebagai perantara aliran energi yang efisien," kata Zhao.
Sumber: ABC Australia Plus.
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya


Sering Minum Boba? Ini 5 Dampaknya bagi Tubuh, dari Gula Darah hingga Asupan Antioksidan

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking