Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi
Dream - Gempa ukuran 7,2 skala richter (SR) melanda wilayah Papua pada pagi tadi. Gempa tersebut terjadi sekitar 4 detik.
"Pusat gempa di darat pada kedalaman 49 kilometer (km). Gempa tidak berpotensi tsunami," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulis, Selasa, 28 Juli 2015.
Mengutip data dari Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Sutopo mengatakan posisi pusat gempa berada sejauh 75 km arah tenggara Mamberamo Raya, 81 km arah timur laut Tolikara, dan 99 km arah Barat Laut Mamberamo Tengah.
Meski gempa berlangsung dalam waktu relatif singkat, hal itu tetap membuat masyarakat panik. Menurut Sutopo, masyarakat hingga berhamburan keluar rumah saat gempa terjadi.
"Belum ada laporan kerusakan bangunan dan korban jiwa," kata dia.
Selanjutnya, Sutopo mengatakan saat ini proses pendataan dampak gempa sedang berjalan. Medan yang sulit dijangkau serta terbatasnya akses mempersulit proses pemantauan.
"BPBD Provinsi Papua masih berkoordinasi dengan BPBD dan aparat setempat. Pendataan masih dilakukan," ungkap Sutopo.
Selanjutnya, terang Sutopo, getaran gempa ini juga dirasakan hingga area Jayapura II-III MMI, Sarmi IV MMI, Wamena III MMI, Sentani II-III, dan Biak II-III. Tetapi, getaran yang sampai di area ini tergolong rendah.
Provinsi Papua terdiri dari beberapa provinsi yang masuk kategori rawan gempa seperti Kabupaten Yapen, Waropen, Jayapura, dan Mamberamo. Di wilayah ini terdapat sesar aktif yaitu Sesar Yapen yang aktif bergerak sepanjang 2-5 cm per tahun serta Sesar Memberamo. Kawasan ini pernah dilanda gempa besar dengan kekuatan 7,9 SR pada 1926 dan 8,1 SR pada 1971.
"Daerah Indonesia bagian Timur rawan gempa dan tsunami. Namun terbatasnya riset mengenai gempa dan tsunami, juga infrastruktur kebencanaan di daerah ini menyebabkan belum dapat ditemukenali karakteristik gempa dan tsunami," ungkap Sutopo. (Ism)
Advertisement

Berawal dari Penyakit Misterius dan Mayat Membusuk, Begini Sejarah Mitos Vampir yang Mendunia

3 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari Sebelum Olahraga, Menurut Ahli Gizi

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

Sering Minum Boba? Ini 5 Dampaknya bagi Tubuh, dari Gula Darah hingga Asupan Antioksidan

Cuma 10 Menit Olahraga Sehari Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak, Ini Temuan Peneliti

Deforestasi Amazon Brasil Turun ke Level Terendah, Ini 5 Pelajaran yang Bisa Ditiru Indonesia

Mengapa Ada Pusar Bodong dan Pusar Masuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya