Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Inti Bumi (Shutterstock)
Dream - Ahli geofisika dari Arizona State University menemukan dua gumpalan misterius di dalam perut bumi. Gumpalan ini disebut 100 kali lebih tinggi dari Gunung Everest.
Ahli geofisika dari Universitas Cambridge, Zhi Li, mengatakan, dua gumpalan itu terbuat dari proses termokimiawi, atau perubahan material dan zat-zat selama jutaan tahun silam. Ia menilai material dan zat-zat lain terkungkung oleh lapisan pelindung.
Sejauh ini, para ilmuwan masih belum mengetahui dari mana kedua struktur kolosal ini berasal. Zhi Li semakin merasa aneh karena keduanya memiliki ketinggian yang berbeda dan ini masih menjadi misteri yang harus dipecahkan.
Setelah menjalankan serangkaian simulasi, Zhi Li menduga gumpalan kurang padat cenderung labil berada di bawah benua Afrika dan di bawah Pasifik yang memiliki sifat lebih kuat. Sementara gumpalan yang berada di bawah Pasifik diakui lebih tinggi.
" Kami sekarang memiliki bukti kuat yang menunjukkan struktur internal mereka, ini adalah penemuan terbesar seismologi inti bumi," kata Zhi Li dikutip dari Mirror.
Gumpalan aneh di bawah Pasifik dan Afrika pertama kali ditemukan pada 1980. Dalam istilah ilmiah, 'superplumes' dikenal sebagai large low-shear-velocity provinces (LLSVPs).

" Perhitungan kami menemukan volume awal gumpalan tidak mempengaruhi ketinggiannya. Ketinggian gumpalan sebagian besar dikendalikan oleh seberapa padat dan viskositas mantel di sekitarnya," jelasnya.
Dibandingkan dengan LLSVP Pasifik, studi saat ini menemukan LLSVP Afrika membentang sekitar 1.000 kilometer dengan ketinggian 999 kilometer.
Sedangkan dalam pemodelan telah menemukan LLSVP Afrika membentang hingga 1.500 kilometer, dan mencapai ketinggian maksimum 800 kilometer.
Dalam percobaan laboratorium, baik gumpalan Afrika dan Pasifik tampak berosilasi naik dan turun melalui mantelnya. Para ahli berharap temuan ini bisa mengungkap awal mula bumi tercipta.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya