Kebangkitan Dinasti Marcos, Hidup di Bawah Kediktaktoran Marcos

Reporter : Edy Haryadi
Senin, 23 Mei 2022 13:19
Kebangkitan Dinasti Marcos, Hidup di Bawah Kediktaktoran Marcos
Rezim itu tumbang oleh revolusi rakyat tanpa kekerasan.

Dream – Jutaan orang tumpah ruah dalam demonstrasi besar-besaran di Epifanio de los Santos Avenue atau EDSA, di Metro Manila, selama tanggal 20 sampai 25 Februari 1986. Ini merupakan aksi massa besar-besaran memprotes kecurangan Pemilu Presiden (Pilpres) Filipina yang digelar dua pekan sebelumnya.

Pada Pilpres yang digelar 7 Februari 1986, Komisi Pemilihan Umum Filpina (Comelec) menyatakan Ferdinand Marcos sebagai pemenang. Penghitungan akhir Comelec mengklaim Marcos menang dengan 10.807.197 suara melawan 9.291.761 suara untuk Corazon “ Corry” Aquino. Cory Aquino adalah janda Benigno Aquino, senator yang dibunuh saat mendarat di Bandara Manila tanggal 21 Agutus 1983 oleh militer suruhan Marcos.

Di sisi lain, penghitungan suara oleh pengawas pemilu independen National Citizens' Movement for Free Elections (Namfrel), menunjukkan sebaliknya. Aquino dinyatakan menang dengan 7.502.601 suara melawan 6.787.556 suara Marcos.

Protes kecurangan itu memuncak dengan aksi mogok 35 teknisi komputer Comelec. Aksi ini sebagai protes atas klaim pemilu resmi yang sudah dimanipulasi untuk menguntungkan Ferdinand Marcos. Pada 13 Februari 1986, Konferensi Waligereja Filipina (CBCP) mengeluarkan pernyataan yang mengutuk hasil pilpres itu sebagai penipuan.

Namun Comelec tetap berkeras. Mereka tetap mengumumkan Ferdinand Marcos sebagai pemenang. Akibatnya sekitar satu juta orang berkumpul di Quirino Grandstand di Luneta Park, Manila, untuk memprotes pengumuman Comelec itu. Pemimpin oposisi dan kandidat presiden Corazon Aquino pun menyerukan pembangkangan sipil nasional.

Demonstrasi yang terjadi  di ruas jalan EDSA itu menurut arsip Philippine Daily Inquirer adalah lanjutan demonstrasi besar-besaran memprotes kecurangan pemilu. Jumlah demonstran saat itu diperkirakan mencapai dua juta orang. Kebanyakan mengenakan pakaian berwarna kuning, warna partai Aquino. Massa dipimpin oleh pemimpin Katolik Kota Manila, Kardinal Jamie Sin.

Jutaan massa memenuhi EDSA© Wkipedia

(Jutaan massa memenuhi EDSA/Wkipedia)

Massa rakyat yang hadir di EDSA juga bertujuan untuk melindungi tentara pemberontak yang turut menolak hasil pemilu. Para tentara itu bermarkas di Kamp Crame yang berlokasi di EDSA. Mereka adalah Menteri Pertahanan Juan Ponce Enrile, Jenderal Fidel V. Ramos dan Letnan Kolonel Gregorio " Gringo" Honasan yang memimpin Reformasi Gerakan Angkatan Bersenjata (RAM).  

Para tentara tersebut mendapat perlindungan dari rakyat saat mereka menyatakan pemberontakan pada Marcos, karena hasil Pilpres yang dinilai curang. Tentara pro Marcos di bawah komando Jenderal Fabian Ver tak bisa menyerbu markas tentara pemberontak di EDSA, karena tank-tank mereka dihadang oleh biarawati dan jutaan massa. Sehingga mereka tak bisa menyentuh tentara pemberontak.

Biarawati memblokade tentara di EDSA© OneNews PH

(Biarawati memblokade tentara di EDSA/ OneNews PH)

Akibat gelombang protes yang berlangsung tiga hari itu, membuat Amerika Serikat mencabut dukungan politik pada Marcos.  

Saat menelepon ke Washington pada pukul lima pagi tanggal 25 Februari 1986,  Presiden Marcos bertanya kepada Senator AS Paul Laxalt: Apakah dia harus mengundurkan diri?

Jawaban Laxalt: “ Saya pikir Anda harus memotong, dan memotong dengan rapi. Waktunya telah tiba."

Pada pukul 8 pagi di hari yang sama, Corazon Aquino datang ke Club Filipino, San Juan, untuk menghadiri pelantikannya sebagai Presiden Filipina terpilih.

Pada pukul 10.46, Corazon Aquino resmi dilantik sebagai Presiden oleh Senior Associate Justice Claudio Teehankee, dan Salvador Laurel sebagai Wakil Presiden oleh Justice Vicente Abad Santos, di Club Filipino di San Juan.

Corry Aquino saat dilantik sebagai presiden 25 Februari 1986© Ayala Museum

(Corry Aquino saat dilantik sebagai presiden 25 Februari 1986. Ayala Museum)

Usai dilantik, Aquino langsung menunjuk Enrile sebagai Menteri Pertahanan dan Ramos sebagai Kepala Staf Tentara Filipina (AFP).

Malamnya, pada pukul 21.05 Marcos dan keluarganya meninggalkan Istana Malacañang menuju Pangkalan Udara Clark. Dari sana Marcos dan keluarga pergi ke Hawai, Amerika.

Saat berita hengkangnya  Marcos dan keluarga sampai ke masyarakat, jutaan orang yang berkumpul di EDSA bergembira. Mereka bersorak-sorak karena kepergian Marcos ke luar negeri memicu berakhirnya revolusi rakyat melalui people power secara damai.

Sebagai penutup, massa pro Aquino juga menerobos masuk ke gerbang Istana Malacanang menjelang tengah malam. Mereka menemukan  3.000 koleksi sepatu mahal Imelda Marcos dan barang-barang berharga yang tak sempat dibawa. Mereka hanya mendapat sedikit perlawanan dari tentara yang berjaga.

Revolusi rakyat Filipina pun berakhir. Rezim Ferdinand Marcos berakhir tragis. Terusir dari negerinya sendiri.

***

Dalam dua dekade memerintah Filipina, gaji resmi kepresidenan Marcos menurut ABC hampir mencapai U$ 10.000 atau Rp 146 juta per tahun. Istrinya Imelda Marcos, mantan ratu kecantikan, mendapat gaji lebih rendah sebagai menteri di pemerintahannya.

Namun pada saat Ferdinand Marcos digulingkan pada tahun 1986 oleh massa yang marah, " suami-istri diktator" ini, demikian sebutan massa, telah mengumpulkan jumlah kekayaan yang mengejutkan.

Koleksi sepatu Imelda Marcos yang terkenal — diperkirakan hampir 3.000 pasang— tetap menjadi simbol paling terkenal dari pameran super mewah  pasangan itu. Sepatunya ini pun bukan sembarang merek. Imelda  menyukai merek-merek sepatu mewah Eropa, seperti Christian Dior dan Gucci.

Koleksi sepatu Imelda Marcos© San Diego Union Tribune

(Koleksi ribuan sepatu mahal Imelda Marcos/San Diego Union Tribune)

Imelda Marcos pernah bekerja di Bank Sentral Filipina. Pada tahun 1953, ia mengikuti kontes kecantikan Miss Manila tetapi tidak menang. Dia bertemu Marcos pada tahun berikutnya di Kongres Filipina. Saat itu, Marcos sudah menjadi anggota parlemen. Sebelas hari kemudian, mereka menikah.

Setelah Marcos terpilih sebagai Presiden pada tahun 1965, Imelda menjadi terkenal karena pengeluarannya yang selangit sebagai Ibu Negara Filipina.

Dalam satu perjalanan ke luar negeri pada tahun 1983, ia tampaknya menghabiskan U$ 9,5 juta atau Rp 139 miliar dalam 90 hari, termasuk U$ 14.150 atau Rp 207 juta untuk membeli seprai, U$ 58.000 atau Rp 851 juta untuk piring saji perak murni dan U$ 611.000 atau Rp 8,9 miliar untuk permata dari Cartier.

Dalam film dokumenter Netflix baru-baru ini tentang kisah hidupnya, Imelda Marcos mengatakan pengeluaran seperti itu sangat penting agar dia bisa menjadi pasangan yang sempurna, seorang first lady.

" Saya harus berdandan dan mempercantik diri karena orang miskin selalu mencari bintang di kegelapan malam," jelasnya.

Koleksi sepatu Imelda biar bagaimana pun lebih kecil dibandingkan dengan miliaran dolar yang dikorupsi Marcos selama menjabat. Uang itu  disimpan di rekening bank rahasia di seluruh dunia atau dihabiskan untuk real estat, perhiasan, karya seni, dan saham kelas atas.

Keluarga Marcos telah melakukan salah satu pencurian uang terbesar yang pernah ada, yakni diperkirakan sebesar U$ 10 miliar atau Rp 146 triliun dari kas negara untuk mendanai gaya hidup mewah mereka.

Diktator ini diketahui telah menjarah segala sesuatu mulai dari bantuan luar negeri hingga pinjaman Bank Dunia, memaksa pengambilalihan langsung perusahaan-perusahaan besar dan meminta suap untuk kontrak pemerintah yang menguntungkan.

Lebih dari tiga dekade setelah kejadian mereka dipaksa pergi dan mengasingkan diri di Hawaii, sebagian besar kekayaan tersembunyi ini masih belum ditemukan atau masih menjadi subjek proses pengadilan yang telah berlarut-larut selama bertahun-tahun.

***

Selama 21  tahun pemerintahannya, Ferdinand Marcos juga terkenal karena korupsi, pemborosan dan kebrutalannya.

Menurut Amnesty International ada 107.200 korban pelanggaran hak asasi manusia di bawah rezim Marcos. Sebagian besar dari mereka dibunuh, disiksa, dan dipenjarakan oleh rezim Marcos. Amnesty International mengatakan, setidaknya 3.200 orang tak bersalah telah tewas.

Saat Marcos dan keluarganya hidup mewah dari hasil korupsi uang negara, ekonomi Filipina mandek. Jurang pendapatan antara kaya dan miskin membengkak, dan ribuan lawan politik disiksa atau dibunuh.

Pada tahun 1972, ketika batas masa jabatan keduanya hampir berakhir, Marcos mengumumkan darurat militer. Ia kemudian mengeluarkan amandemen konstitusi untuk memungkinkan dia tetap berkuasa tanpa batas waktu.

Pengumuman Darurat Militer oleh Marcos© Official Gazette

(Pengumuman Darurat Militer oleh Marcos/Official Gazette)

Pada tahun 1983, senator Benigno " Ninoy" Aquino, saingan politik lama Marcos, ditembak mati oleh militer suruhan Marcos di landasan Bandara Manila, tepat saat dia kembali dari pengasingannya selama bertahun-tahun. Senator ini sering mengkritisi pemerintahan Marcos yang korup.

Pembunuhannya memicu gelombang protes yang akhirnya memuncak dalam Revolusi Kekuatan Rakyat yang didukung oleh militer. Gerakan ini memaksa Marcos lengser dari kekuasaan tiga tahun dan mendorong janda Corazon Aquino naik ke kursi kepresidenan.

Presiden AS Ronald Reagan, lalu mendesak Marcos untuk mundur dan meninggalkan negara itu. Reagan menjamin  memberikan suaka pada Marcos dan keluarga di AS jika dia setuju.

Melihat gerombolan pengunjuk rasa yang marah berkumpul di luar Istana Malacañang, keluarga Marcos pun lantas melarikan diri dari Manila. Bahkan, dalam keadaan kacau terusir dari negerinya sendiri, keluarga Marcos masih sempat membawa jutaan dolar barang berharga, termasuk uang tunai, permata, emas dan barang seni langka.

Diperkirakan ada 300 peti yang dimuat ke dalam dua pesawat Angkatan Udara AS yang membawa anggota keluarga Marcos dan kroni mereka ke Hawaii. Ini belum termasuk sertifikat deposito bank dan akta untuk berbagai kepemilikan properti di luar negeri.

Presiden Corazon Aquino tak berdiam diri atas kaburnya Marcos dengan membawa harta bejibun. Salah satu tindakan paling awal dari pemerintahan baru Corazon Aquino saat berkuasa adalah membentuk Komisi Presidensial untuk Pemerintahan yang Baik (PCGG). Komisi ini bertugas melacak dan memulangkan miliaran  dolar uang  negara yang hilang di era Marcos.

Pada tahun 1986, sewaktu Marco berangkat ke pengasingan, Bank Dunia memerkirakan kekayaan Marcos mencapai U$ 13,5 miliar atau Rp 198 triliun, sedangkan pendapatan rata-rata orang Filipina biasa hanya U$ 1.017 atau Rp 14,9 juta per tahun!

Pengacara pemerintah meluncurkan tuntutan hukum pertama yang tak terhitung jumlahnya untuk menyita perhiasan, lukisan, real estat, dan ratusan juta dolar yang disembunyikan di rekening asing milik Marcos.

Tapi itu bukan tugas yang sederhana. Pasangan korup ini memiliki waktu 21 tahun untuk menyedot dana dari pundi-pundi negara Filipina dan menyembunyikannya di seluruh dunia, sebagian besar melalui perusahaan cangkang  atau dengan nama palsu.

Pada tahun 1968, Ferdinand Marcos diketahui membuka rekening pertama untuk dirinya dan Imelda di Credit Suisse Bank, menggunakan nama William Saunders untuk dirinya dan Jane Ryan untuk istrinya.

Salah satu keberhasilan terbesar PCGG adalah mendapatkan kembali U$ 927 juta atau Rp 13,6 triliun tunai dari bank-bank Swiss.

Dalam langkah bersejarah, Swiss membekukan aset Marcos setelah pejabat bank diberitahu bahwa pasangan itu telah menyetor lebih dari U$ 271 juta atau Rp 3,9 triliun hanya beberapa minggu setelah mereka melarikan diri ke Hawaii.

Diperkirakan hampir sepertiga dari kekayaan haram Marcos telah berhasil diambil kembali, kata mantan Kepala PCGG Ruben Carranza. Beberapa melalui litigasi dan yang diserahkan. Meski demikian,  masih menyisakan aset senilai U$ 9,5 miliar atau Rp 139 trilun yang belum ditemukan dan dikembalikan ke Filipina.

Jadi pekerjaan rumah masih panjang untuk mengembalikan harta ini. Sayangnya, dengan naiknya Ferdinand " Bongbong" Marcos Jr ke kursi kepresidenan,  pelacakan ini sepertinya akan terhenti.

***

Getirnya pula, lebih dari 36 tahun setelah Ferdinand Marcos digulingkan dan keluarganya melarikan diri ke pengasingan, ternyata tidak ada satu orang pun yang dipenjara karena kekayaan yang diperoleh secara ilegal.

Keluarga itu malah diizinkan untuk kembali ke Filipina pada tahun 1991, setelah kematian diktator Marcos.

Imelda Marcos didakwa dengan sekitar 60 tuntutan pidana dan perdata, termasuk korupsi dan penggelapan pajak. Dia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman antara sembilan dan 12 tahun penjara, tetapi Mahkamah Agung kemudian membatalkan keputusannya.

Imelda dua kali mencalonkan diri sebagai calon presiden. Pada pemilihan yang kedua kali, ia berhasil mencalonkan diri sebagai anggota Kongres Filipina.

Sampai hari ini, Imelda Marcos tetap tidak menyesal atas apa yang dia dan suaminya lakukan. Pada tahun 1998, ini kata-kata dia yang terkenal: “ Kami praktis memiliki segalanya di Filipina."

Itulah cerita Marcos dan keluarga. Keluarga yang tak pernah dihukum dan tak pernah meminta maaf atas kesalahannya. Dan, kini kembali berkuasa. (eha)

Beri Komentar