Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Puti Guntur Soekarno (Foto: Merdeka.com)
Dream - Rasa Haru tak bisa disembunyikan Puti Guntur Soekarno. Di depan warga Jalan Pandean, Kelurahan Peneleh, Surabaya, Jawa Timur calon wakil gubernur Jawa Timur itu terharu bisa kembali pulang kampung. Ke rumah kelahiran presiden pertama Ir Soekarno yang tak lain adalah kakeknya.
Berbusana merah bermotif hitam dan berbalut kerudung di kepala, Senin, 22 Januari 2017, Puti memang sedang melakukan napak tilas jejak Bung Karno di Surabaya. Tepat 6 Juni 1901, di sebuah rumah seluas 5 x 14 meter itu, sang putra fajar Soekarno lahir.
" Saya serasa pulang kampung. Saya bersyukur bisa datang ke ini, tempat kelahiran kakek saya," kata Puti terbata-bata, di sela isak tangis.
Puti mengatakan, pemilik rumah dan kampung Pandean harus bangga, karena dari rumah seluas 5 x 14 meter persegi itu lahir seorang tokoh besar, yang menjadi pemimpin Republik Indonesia di kemudian hari.

Isak haru yang dialami Puti membuat warga sempat terdiam. Kala seorang warga berteriak memberi semangat bagi cucu Proklamator tersebut. 'Ayo semangat!' teriak warga. Seketika Puti tergugah. Ia hentikan tangisnya. " Ya, kita harus semangat," kata Puti.
Menurut Puti, menjadi pemimpin adalah amanah yang sangat berat. Kisah Bung Karno menyemangatinya untuk bekerja optimal bagi Jatim.
" Inspirasi beliau Insya Allah selalu hadir dalam langkah-langkah kita semua," kata dosen tamu Kokushikan University Jepang, itu.
Perjalanan napak tilas Puti berlanjut ke sebuah rumah di Jalan Peneleh VII. Rumah itu milik seorang tokoh Sarekat Islam, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Di rumah itulah, Bung Karno melakoni masa remaja sebagai anak kost.

Menurut Puti, di tempat indekos itulah Bung Karno ditempa dengan tiga spirit sekaligus, yaitu keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan.
" Nasionalisme Indonesia sejak awal memang dilahirkan dari dimensi keagamaan yang mengatur nilai-nilai kemanusiaan, seperti keadilan sosial, menghargai perbedaan orang lain, dan mengedepankan musyawarah atau dialog," ujar Puti.
Ditambahkannya, di Surabaya Bung Karno mendapat tempaan pemikiran dan strategi merebut kemerdekaan dengan dibimbing tokoh Islam seperti HOS Tjokroaminoto.
" Di rumah Pak Tjokro, tempat indekos Bung Karno, saya membayangkan beliau berlatih pidato, berdiri, sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah penjajah,' katanya.
(Sah/Sumber: Merdeka.com)
Advertisement

Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor

Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym



5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol