Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dosen UAD Menjadi Penyintas Dalam Peristiwa Penembakan Masjid Di Selandia Baru (Liputan6.com/ Switzy Sabandar)
Dream - Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Irfan Yunianto, menjadi saksi peristiwa penembakan di Masjid Al Noor, Selandia Baru, Jumat 15 Maret 2019. Irfan mengaku trauma dengan serangan biadab tersebut.
Dalam konferensi video, Irfan mengaku datang ke Masjid Al Noor, Dean Ave, Christchurch, menggunakan sepeda. Dia ingat, masjid tidak seramai biasanya.
Dia berpikir mungkin masjid sedikit lengang dari baisanya karena seharian hujan. Jemaah tidak terlalu banyak dan ruangan sholat utama juga terlihat lengang.
Irfan awalnya ingin menuju ruang utama sholat. Tapi, dengan jaketnya yang basah, dia justru memilih untuk sholat di ruangan sholat kecil yang biasa digunakan untuk pertemuan di masjid.
" Waktu itu saya berpikir, mau meletakkan jaket basah, kalau di ruang utama akan mengganggu jemaah lain," kata Irfan, dikutip dari Liputan6.com, Selasa 19 Maret 2019.
Saat terjadi penembakan, kata Irfan, sejumlah jemaah yang panik keluar melalui pintu darurat yang ada di dekatnya. Pintu tersebut terhubung dengan tempat parkir kendaraan.
Di sekitarnya, dia melihat jemaah yang lari dan menyelamatkan diri melompat pagar setinggi dua meter.
Situasi mencekam itu membuatnya menghubungi supervisornya di University of Otago. " Saya juga menghubungi KBRI tetapi ternyata masih Jumatan, saya juga menghubungi teman yang ada di laboratorium, tujuannya supaya jangan ada yang mendekat ke daerah Masjid Al Noor," kata dia.
Meski tak mengalami luka-luka, peristiwa mencekaman itu membuat Irfan trauma. Dia merasa peristiwa itu masih terjadi dalam ingatannya.
Irfan mengatakan, telah mengunjungi rekannya yang terluka terkena tembakan. Dia juga sudah memulai aktivitas di kampus.
Dari peristiwa itu, dia mengatakan tidak ada lokasi yang aman di dunia. " Padahal Selandia Baru selama ini dianggap sebagai negara yang aman dari aksi semacam itu," ujar dia.
Sumber: Liputan6.com/Switzy Sabandar
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya