Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Ibrahim Abdul Rahim, Penjual Nasi Briyani Sangat Murah (Asia One)
Dream - Nasi Briyani merupakan salah satu menu khas jika berkunjung ke Malaysia. Meskipun sebenarnya menu ini diadaptasi dari India.
Umumnya, satu piring Nasi Briyani di Malaysia dijual paling murah seharga 3 ringgit, setara Rp10 ribu. Tetapi, harga ini tidak berlaku di kedai makan Baen Cafe di Jalan Pondok Upeh, Balik Pulau, Pulau Pinang, Malaysia.
Kedai ini menyediakan sepiring Nasi Briyani dengan harga sangat murah. Hanya dengan 10 sen, setara Rp350 saja, sepiring Nasi Briyani bisa disantap.
Pemilik kedai, Ibrahim Abdul Rahim, 37 tahun, mengakui harga makanan yang dijualnya memang terlampau murah. Dia punya alasan sendiri mengapa mematok harga serendah itu.
" Saya hanya ingin makanan saya bisa dijangkau semua orang," kata Ibrahim, dikutip dari Asia One.
Pria ini meyakini orang yang makan di luar rumah laik mendapatkan makanan yang memuaskan. Serasa di rumah sendiri.
" Jadi harapan saya adalah mereka tidak pernah merasa terbebani ketika membayar makanan yang sudah disantap," kata dia.
Ibrahim juga menyediakan sejumlah pelengkap makanan seperti lauk dan sebagainya. Meski begitu, dia menjamin harganya jauh di bawah harga pasar.
Contohnya, sepotong ayam dia jual dengan harga 3,5 ringgit, setara Rp12 ribu dan kari kepala ikan baramundi seharga 5 ringgit, setara Rp17 ribu. Harga-harta tersebut cenderung lebih murah dibandingkan kedai makan lainnya.
Dalam sehari, Ibrahim mengaku memiliki pelanggan sekitar 400 orang. Dia membuka kedainya mulai pukul 9 pagi hingga 4 sore waktu setempat.
" Kebanyakan pelanggan saya adalah para buruh dengan pendapatan rendah dan para pelajar, dan kedai saya selalu penuh saat makan siang," kata Ibrahim.
Tiap hari, Ibrahim menyiapkan dua termos besar Nasi Briyani. Dia juga menyediakan Nasi Tomat dengan harga sama dan selalu habis.
" Jika sampai kehabisan, saya langsung memasak lagi," kata dia.
Usaha yang dijalankan Ibrahim ini merupakan warisan dari ayahnya dan sudah berjalan selama 15 tahun. Dia sempat berdagang di sebuah kios sebelum pindah di dekat kampus Perguruan Tinggi Mara pada Mei tahun lalu.
" Selama tiga tahun sebelum saya di sini, saya biasa memberikan nasi gratis. Tetapi, kebanyakan pelanggan merasa malu jika tidak membayar. Jadi saya beri harga 10 sen saja tiap piring," kata dia.
Salah satu pelanggan, Abdul Majid, terkesan dengan hidangan yang tersedia di Baen Cafe. Sebab, harganya lebih murah 50 persen dari kedai makan lainnya.
" Makanan harapan, (kualitasnya) benar-benar di atas rata-rata. Ini sangat cocok dengan para pengunjung yang akrab dengan masakan gaya kampung Melayu," ucap Abdul.
Advertisement
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?