Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dream - Selama empat hari, hubungan Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) semakin tegang. Korut mencoba memanaskan situasi dengan unjuk kekuatan mengerahkan puluhan kapal selam dan melibatkan unit artilerinya.
Korsel punya cara unik membalas tindakan Korut. Bukan dengan adu kekuatan militer, Korsel memasang pengeras suara berkekuatan tinggi dan memutar lagu-lagu K-Pop di wilayah perbatasan.
Korsel memang tengah berusaha menghancurkan semangat tentara pihak seterunya dengan musik pop. Korsel juga memutar siaran radio dengan pelbagai konten seperti diskusi bersama para pembelot serta laporan pelanggaran HAM di Korut.
Taktik Korsel tersebut ternyata efektif. Korut marah dengan tindakan Korsel itu.
Penggunaan pengeras suara saat perang urat syaraf mungkin tampak aneh bagi dunia lainnya, tetapi Korsel tahu yang 'terbaik' untuk tetangganya.
Menurut Justin Hastings dari University of Sydney, jika ada satu hal yang paling dibenci Korut, itu adalah informasi, dalam bentuk apapun, dari dunia luar.
Dosen Hubungan Internasional dan Perbandingan Politik ini mengatakan kepada news.com.au, Korut lebih takut warganya tergoda oleh budaya populer tidak hanya dari Korsel tetapi juga Barat. Terlebih lagi pada para tentaranya.
"Ini bukan permainan perang," katanya. "Satu hal yang benar-benar dibenci Korut adalah, dan ini mengejutkan saya awalnya, taktik yang melibatkan pengiriman informasi tentang dunia luar ke Korut," kata Hastings.
Hastings menambahkan, meski tidak membunuh siapa pun, namun taktik mengirim pesan ke tentara Korut ini benar-benar mengganggu. Selain pengeras suara, balon yang diisi pesan dan dilepas melalui perbatasan juga taktik yang sangat tidak disukai Korut.
Selama dua minggu terakhir Korsel telah menyiarkan radio Voice of Freedom melintasi perbatasan. Melalui pengeras suara, Seoul mendesak Pyongyang untuk minta maaf atas peristiwa terlukanya dua prajurit Korsel oleh ranjau yang dipasang Korut di perbatasan.
Korut menolak dan malah membalas dengan pamer kekuatan militer di laut dan darat. Aksi ini dibalas Korsel dengan bantuan Amerika Serikat menerbangkan dua pesawat tempur di perbatasan. Hal ini membuat pemimpin Korut Kim Jong-un memerintahkan tentaranya untuk siaga perang.
Akibat situasi tersebut, PBB turun tangan untuk menengahi dengan meminta dua negara itu menyelesaikan sengketa melalui jalur diplomasi. Setelah melakukan pembicaraan selama 40 jam, keduanya sepakat berkompromi pada Selasa kemarin.
Korsel mematikan pengeras suara propaganda dan Korut 'menyatakan penyesalan' atas ledakan ranjau di perbatasan.
Sumber: news.com.au
Advertisement

Berawal dari Penyakit Misterius dan Mayat Membusuk, Begini Sejarah Mitos Vampir yang Mendunia

3 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari Sebelum Olahraga, Menurut Ahli Gizi

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

Sering Minum Boba? Ini 5 Dampaknya bagi Tubuh, dari Gula Darah hingga Asupan Antioksidan

Mengapa Ada Pusar Bodong dan Pusar Masuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Mau Nonton Grand Final AXIS Nation Cup 2026? Ini Cara Daftar dan Datang ke Istora Senayan

Sambut Tren Warna 2027, JOTUN Hadirkan 24 Warna dalam Koleksi JOURNEYS