Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012
Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi
Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
(Foto: Planet.merdeka.com)
Dream - Toleransi beragama tercermin jelas dalam kisah guru berhijab satu ini. Banyak orang penasaran bahkan mungkin mencibir lantaran ia bersedia mengajar di sekolah Katolik, padahal dirinya seorang muslimah. Namun pengakuannya berhasil membungkam pendapat orang.
Adalah Martina Puspita (25 tahun), yang kini mengajar di sebuah SMA Katolik di Banyuwangi, Jawa Timur. Diakuinya bahwa saat ini ia menjadi salah satu tenaga pengajar di SMA Katolik Hikmah Mandala dari Yayasan Karmel Keuskupan Malang. Martina adalah guru Bahasa Indonesia.
Kunjungi juga alkitab online di Merdeka.com.
Martina pun bercerita awal mula ia mendapat kesempatan untuk mengajar di sana. Ternyata Martina sebelumnya telah menamatkan pendidikan TK hingga SMA-nya di sekolah tersebut.
Ayahnya adalah seorang sopir keuskupan Malang yang ada di Banyuwangi selama berpuluh-puluh tahun. Martina sengaja disekolahkan ayahnya di sana.
Martina menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang Islam dari lahir. Ayah dan ibunya juga Islam dan benar-benar berasal dari latar belakang keluarga Islam. Namun hal itu tidak menjadi masalah baginya untuk menamatkan pendidikannya di sekolah Katolik.
Usai lulus SMA tahun 2011, Martina dibiayai secara pribadi oleh kepala sekolah SMA Katolik Hikmah Mandala, Romo Tiburtius Catur Wibawa, untuk berkuliah. Martina pun berkuliah di Universitas Jember, Jurusan Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia.
© Dream
Memasuki semester ketiga, Martina memantapkan hari untuk menggunakan jilbab. Saat sedang menuntaskan skripsinya pada tahun 2015, Martina ditawari Romo Catur untuk membantu mengajar di SMA yang menjadi almamaternya tersebut. Martina sempat berkata pada Romo Catur bahwa dirinya kini berhijab. Namun balasan Romo Catur ternyata di luar dugaan.
Romo Catur mengatakan bahwa itu bukan jadi masalah. Silakan berjilbab, asalkan rapi. Martina pun menerima tawaran tersebut dan mulai mengajar di sana. Hingga tahun 2016 akhirnya ia pun lulus dan masih tetap mengajar di sekolah tersebut.
Curahan hati Martina, ia mengaku selama mengajar menggunakan hijab, tak ada masalah berarti yang dilaluinya. Ia bahkan diizinkan untuk salat pada waktunya dan telah disediakan ruangan tersendiri.
Martina tidak pernah diperlakukan berbeda selama mengajar. Justru ia memiliki kenangan tidak enak semasa kuliah. Pada saat teman-temannya tahu bahwa ia adalah lulusan SMA Katolik dan tidak berjilbab, teman-temannya menjauhinya. Banyak dari teman-temannya yang menganggap ia awalnya bukanlah seorang beragama Islam.
Romo Catur menambahkan, bahwa SMA Katolik Hikmah Mandala sudah seperti mini Indonesia baginya. Meski nama sekolah ini adalah SMA Katolik, namun guru-guru pengajarnya dari berbeda-beda latar belakang agama. Seperti Kristen, Hindu, dan Islam.
Kisah selengkapnya baca di sini.
(Sumber: planet.merdeka.com)
Advertisement

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun


Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi
