Kisah Kareem Abdul Jabar Mencari Islam (I)

Reporter : Syahid Latif
Senin, 20 Juli 2015 08:00
Kisah Kareem Abdul Jabar Mencari Islam (I)
Dia tak puas dijadikan bukti hidup dari penghapus mitos pria kulit hitam

Dream - Kareem Abdul-Jabbar, pemain basket terbesar sepanjang masa yang memiliki tinggi badan 2,18 meter, mengisahkan perjalanan hidupnya hingga sekarang menjadi seorang Muslim.Pria yang lahir 68 tahun yang lalu ini telah mengalami transisi dari Lew Alcindor menjadi Kareem Abdul-Jabbar.

Bagi Kareem, transisi itu bukan hanya sekadar perubahan nama selebrita saja, seperti Sean Combs hingga menjadi P. Diddy, tetapi juga transformasi hati, pikiran dan jiwa.

Bagi kebanyakan orang, berpindah dari satu agama ke agama lain adalah masalah pribadi. Namun bagi Abdul-Jabar yang sudah terkenal, keputusannya ini menjadi tontonan publik. Pro dan kontra pun bermuculan.

Ketika berpindah ke agama asing atau tidak populer, publik akan melancarkan kritik yang mempertanyakan kecerdasan, patriotisme dan kewarasan Anda.

" Tapi saya tahu, meskipun menjadi seorang Muslim lebih dari 40 tahun yang lalu, saya masih membela pilihan itu," kata Abdul Jabar seperti dikutip laman Saudigazette.

Dalam perjalanannya memeluk Islam, Abdul Jabar pertama kali diperkenalkan dengan Islam saat masih menjadi seorang mahasiswa di University of California, Los Angeles (UCLA). Meskipun tenar sebagai pemain basket AS, Abdul Jabar berusaha keras untuk menjaga kehidupan pribadi dari publik.

" Status selebrita membuat saya gugup dan tidak nyaman. Saya masih muda, jadi saya tidak bisa benar-benar memahami mengapa saya merasa begitu malu jika menjadi sorotan. Selama beberapa tahun berikutnya, saya mulai memahami dengan lebih baik," katanya.

Meski terkenal, Abdul Jabar justru merasa bagian yang menahannya adalah perasaan bahwa orang yang dipuja-puja masyarakat bukanlah pribadinya yang sebenarnya. Tidak hanya punya kecemasan masa transisi remaja biasa menjadi seorang pria, tapi saya juga bermain untuk salah satu tim basket perguruan tinggi terbaik di negeri ini di tengah usaha menjalani studi saya.

Cobaan menjadi berat karena Abdul Jabar adalah orang kulit hitam di Amerika pada tahun 1966 dan 1967. Itu adalah periode di mana kulit hitam menjadi sorotan di Amerika, khususnya ketika Black Panther Party didirikan, saat Thurgood Marshall diangkat sebagai Hakim Agung Afrika-Amerika pertama dan kerusuhan ras di Detroit yang mengakibatkan 43 tewas, 1.189 luka-luka dan 2.000 bangunan hancur.

" Saya menyadari bahwa Lew Alcindor yang disanjung banyak orang tidak seperti yang mereka bayangkan. Mereka ingin saya menjadi contoh bagi persamaan ras, poster boy bagi orang dari berbagai latar belakang - terlepas dari ras, agama atau ekonomi. Bagi mereka, saya adalah bukti hidup bahwa rasisme adalah sebuah mitos," kenangnya.

Namun Abdul Jabar mengaku dirinya tahu yang lebih baik dan dia tidak puas dengan statusnya saat itu. Besar di tahun 1960-an, pebasket yang tenar di klub LA Lakers ini tidak terjerumus ke dalam pandangan kulit putih tentang Afrika-Amerika saat itu.

" Masyarakat kulit putih melihat orang kulit hitam tidak lebih baik. Mereka adalah orang miskin tertindas yang membutuhkan bantuan orang kulit putih untuk mendapatkan hak mereka. Atau mereka adalah kelompok radikal pembuat onar yang ingin mengambil alih rumah kulit putih, termasuk pekerjaan dan anak-anak perempuannya," ujarnya

Sementara orang Afrika-Amerika baik bagi orang kulit putih adalah mereka yang terjun di dunia bisnis hiburan dan olahraga. Karena mereka bisa membuat senang semua orang. Tapi saya tahu kenyataan ini adalah sesuatu yang salah dan sesuatu itu harus berubah. " Saya hanya tidak tahu apa artinya bagi saya," kata Abdul Jabar.

Abdul Jabar yang khas dengan gaya lay-up kala bermain basket ini menceritakan kebangkitan pertamanya muncul ketika dirinya membaca ‘The Autobiography of Malcolm X’ saat masih menjadi mahasiswa baru.

" Saya terpesona oleh kisah Malcolm tentang bagaimana ia menyadari telah menjadi korban rasisme institusional yang telah memenjarakannya jauh sebelum ia mendarat di sebuah penjara yang sebenarnya. Itulah bagaimana saya merasa: dipenjara oleh citra yang seharusnya bukan saya," kenangnya.

Abdul Jabar menilai hal pertama yang dilakukan Malcolm adalah menyingkirkan agama yang diajarkan orang tuanya dan mempelajari Islam. Bagi Malcolm, agama yang diajarkan orang tuanya adalah dasar dari budaya kulit putih yang bertanggung jawab terhadap perbudakan orang kulit hitam dan mendukung rasisme yang meresap di masyarakat.

Transformasi Malcolm X dari penjara menjadi pemimpin politik akhirnya mengilhami Abdul Jabar untuk melihat lebih dekat pada pendidikan. Sekaligus memaksanya berpikir lebih dalam tentang identitasnya.

" Islam membantu Malcolm menemukan jati dirinya dan memberinya kekuatan tidak hanya untuk menghadapi permusuhan dari orang kulit hitam dan kulit putih tetapi juga untuk memperjuangkan keadilan sosial," ujar dia. " Saya pun mulai mempelajari Alquran."

Keputusan ini membuatny tenggelam dalam pemenuhan spiritual dengan belajar Islam dan bahasa Arab. Tapi pembelajaran tersebut tidak berjalan mulus. " Saya membuat kesalahan serius di sepanjang jalan. Lagipula mungkin jalan seperti ini tidak selamanya mulus; mungkin itu harus penuh dengan rintangan, jalan memutar untuk mengasah keyakinan seseorang," ujarnya. 

Mengapa Saya Memilih Islam.....>>>>>>

Beri Komentar
Steve Emmanuel Divonis 9 Tahun Penjara