Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
Tim Deru UGM Menjelaskan Kondisi Di Agats, Papua (Foto: Humas UGM)
Dream - Tim Disaster Response Unit Universitas Gadjah Mada (Deru UGM) akhir Januari 2018 menjalani misi bantuan penanganan kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk dan campak di Agats, Kabupaten Asmat, Papua.
Perjalanan buruk mereka tempuh. Dikutip dari laman resmi UGM, sebelum akhirnya sampai ke Agats, mereka sempat terombang-ambing di laut lepas selama empat jam. Akibat kondisi buruk tersebut, tujuh orang tim Deru akhirnya memilih menginap di pulau tak berpenghuni.
Di pulau yang masih terdapat hutan bakau tersebut, tim UGM yang terdiri para dokter, perawat dan peneliti ini mendirikan tenda. Sebab, di sungai-sungai yang mereka susuri masih banyak buaya. Tentu demi alasan keamanan dan keselamatan.
Esok paginya, setelah cuaca dirasa sudah membaik, kapal nelayan yang mereka tumpangi akhirnya berangkat kembali menuju Agats. “ Terhitung kami menempuh 22 jam hingga sampai ke Agats,” kata Sekretaris Direktorat Pengabdian Masyarakat UGM, Rachmawan Budiarto.
Sesampainya di Agats, Jumat, 26 Januari 2018, tim Deru berpencar menangani KLB gizi buruk dan campak, serta memetakan persoalan lain yang dihadapi warga Suku Asmat.
Pemetaan tersebut dilakukan dalam rangka pengiriman mahasiswa KKN UGM dalam waktu dekat. Di Agats, ibukota Asmat, para perawat dan dokter anggota tim ikut serta membantu penanganan pasien anak yang terkena kurang gizi.

Sementara itu, peneliti dari Pusat Studi Energi juga melakukan pemasangan panel surya di puskesmas distrik Sawaerma. “ Untuk distrik terdekat saja bisa ditempuh dengan kapal cepat sekitar 50 menit,” katanya.
Selain persoalan infrastruktur, minimnya moda trasportasi dan jauhnya akses layanan kesehatan yang bisa dijangkau juga masih menjadi kendala.
Menurut Racmawan, dari 23 distrik, sementara ini hanya ada 16 yang memiliki puskesmas. Dari 16 tersebut, baru 5 puskesmas yang memiliki tenaga dokter.
Persoalan lain yang dipetakan oleh tim UGM, kata Rachmawan, yakni kondisi tempat tinggal warga Asmat yang mayoritas berada di daerah rawa dan menggunakan sumber air minum dari air hujan.
Salah satu anggota tim medis yang ikut dalam tim UGM, dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD, menuturkan anak-anak yang menjadi korban meningal akibat campak disebabkan karena menderita kurang gizi.
“ Kurang gizi menyebabkan infeksi campak dan infeksi lain, sebab saat kurang gizi akan menurunkan daya tahan tubuh,” kata dia.
Advertisement

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia



Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya