Matahari 'Retak' Sepanjang 120 Kali Pulau Jawa, Dampaknya?

Reporter : Maulana Kautsar
Minggu, 16 Juli 2017 13:02
Matahari 'Retak' Sepanjang 120 Kali Pulau Jawa, Dampaknya?
Radiasi yang ditimbukan suar matahari tidak akan berdampak pada manusia.

Dream - Lapisan Matahari menunjukkan fenomena yang tak biasa. Di permukaan Raja Siang itu tampak lubang atau retakan besar, yang diperkirakan memiliki panjang 120ribu kilometer atau 120 kali panjang Pulau Jawa.

Menurut Mirror, lubang yang ditangkap oleh Solar Dynamics Observatory milik NASA itu merupakan fenomena badai raksasa. Fenomena yang dilabeli NASA sebagai AR2665 itu dipercaya menghasilkan suar Matahari yang mampu melepaskan energi magnetik.

Ilmuwan mempercayai suar matahari ini mengirimkan radiasi tinggi ke tata surya. Akibat radiasi tinggi itu berpotensi merusak sinyal radio manusia untuk periode sesaat. Radiasi ini juga dipercaya berpengaruh pada jaringan listrik dan menyebabkan kekurangan listrik di beberapa tempat.

Radiasi yang berbahaya dari suar itu tidak akan memengaruhi manusia karena terhalang atmosfer Bumi. Tetapi, bila cukup intens, suar matahari mampu merusak sinyal GPS dan komunikasi bergerak.

" Kelompok bintik matahari baru terlihat saat matahari berrotasi dan tampaknya berkembang dengan cepat," demikian pernyataan NASA.

Bintik hitam itu, bisa saja menjadi sumber beberapa lidah matahari. Namun menurut NASA terlalu dini untuk memprediksi apa yang akan terjadi.

" Ini adalah bintik matahari pertama yang muncul setelah matahari bersih selama dua hari, dan ini adalah satu-satunya kelompok sunspot di matahari saat ini."

[crosslink_1]

1 dari 2 halaman

Penelitian Ilmiah: Bumi Segera Kiamat

Dream - Usia Bumi sudah semakin senja, kehidupan kian mendekati kiamat. Setidaknya, itulah yang diyakini para ilmuwan.

Hasil riset terbaru yang dimuat jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan tanda-tanda kehidupan di Bumi tengah menuju akhir.

Tim peneliti yang terdiri dari pakar ekologi Universitas Mexico City, Gerardo Ceballosa, dan pakar biologi lingkungan dari Universitas Stanford, Amerika Serikat, Paul Ehrlich dan Rodolfo Dirzo, mendapat temuan bahwa jumlah sumber daya alam semakin menipis karena kepadatan populasi penduduk dunia disertai gaya hidup berlebihan.

" Fakta-fakta tersebut merupakan indikator Bumi mendekati kiamatnya," tulis tim peneliti tersebut dalam artikel berjudul Biological Annihilation via The Ongoing Sixth Mass Extinction Signaled by Vertebrate Population Losses and Declines.

Ceballosa, Ehrlich, dan Dirzo, menganalisis 27.600 sampel yang terdiri dari spesies vertebrata, seperti mamalia, reptil, dan amfibi. Mereka mendapatkan temuan adanya penurunan jumlah spesies hingga 43 persen sejak 1993.

2 dari 2 halaman

Setiap Tahun 2 Spesies Punah

Jika kondisi ini terus dibiarkan, kata mereka, maka bukan tidak mungkin kehancuran Bumi terjadi lebih cepat. Artinya, kehidupan Bumi akan segera kiamat.

Tim peneliti ini juga menuliskan sepanjang milenium terakhir, banyak spesies di Bumi mengalami kepunahan lebih cepat dibandingkan dengan milenium sebelumnya.

Dalam seabad terakhir, rata-rata ada dua spesies makhuk vertebrata hilang dari Bumi setiap tahunnya. " Kepunahan massal sudah di depan mata," tulis mereka.

Tidak hanya itu, tim juga menunjukkan indikator kehidupan bumi yang beragam sedang terancam kiamat. Banyaknya spesies yang hilang dari Bumi memberikan efek kiamat pada ekosistem.

Sumber: pnas.org

Beri Komentar