Malu dan Sesal SBY Pernah Beri Jabatan ke Moeldoko, Minta Ampun kepada Tuhan

Reporter : Sugiono
Sabtu, 6 Maret 2021 09:22
Malu dan Sesal SBY Pernah Beri Jabatan ke Moeldoko, Minta Ampun kepada Tuhan
Begini ungkapkan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

Dream - Terpilihnya Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat melalui Kongres Luar Biasa (KLB) benar-benar jadi pukulan telak bagi mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pria yang sekarang menjadi Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu merasa menyesal dan meminta maaf lantaran pernah memberikan jabatan kepada Moeldoko sebagai Panglima TNI ketika menjadi Presiden RI.

SBY menilai Moeldoko yang saat ini menjabat Staf Kepresidenan itu telah mengkudeta kepemimpinan putranya, Agus Harimurti Yudhoyono, sebagai Ketua Umum Partai Demokrat yang sah.

1 dari 6 halaman

Moeldoko Bikin Malu Perwira dan Prajurit TNI

Menurut SBY, Moeldoko telah melakukan perebutan kepemimpinan yang tidak terpuji dan jauh dari sikap kesatria.

" Sebuah perebutan kepemimpinan yang tidak terpuji dan jauh sikap ksatria dan nilai moral," ujar SBY dalam konferensi pers, Jumat, 5 Maret 2021.

Selain itu, Moeldoko juga dianggap telah membuat malu kepada perwira dan prajurit yang pernah bertugas di TNI.

" Hanya mendatangkan malu bagi perwira dan prajurit yang pernah bertugas di jajaran TNI," imbuh SBY.

2 dari 6 halaman

Merasa Malu dan Minta Ampun Kepada Tuhan

Rasa malu tersebut dirasakan oleh SBY juga. Dia merasa bersalah pernah memberikan jabatan kepada Moeldoko. Dia kemudian memohon ampun kepada Tuhan karena kesalahannya itu.

" Termasuk rasa malu dan rasa bersalah saya yang dulu beberapa kali memberikan kepercayaan dan jabatan kepadanya. Saya mohon ampun kehadirat Allah SWT tuhan yang maha kuasa atas kesalahan saya itu," pungkasnya.

Sumber: Merdeka.com

3 dari 6 halaman

AHY Tuding Lingkaran Dalam Jokowi Ingin Rebut Demokrat, Moeldoko Buka Suara

Dream - Partai Demokrat tengah dilanda ketegangan internal yang dipicu munculnya isu perebutan kursi kepemimpinan. Sejumlah pihak menuding ada orang di dalam lingkaran Presiden Joko Widodo yang berusaha merebut kursi Ketua Umum partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono tersebut.

Tudingan tersebut diarahkan kepada Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko. Hal ini dipicu adanya pertemuan sejumlah elite Demokrat dengan Moeldoko.

Moeldoko langsung menanggapi tudingan tersebut. Dia meminta masalah internal Demokrat tidak perlu melibatkan Jokowi.

" Jangan dikit-dikit Istana, dalam hal ini saya mengingatkan, sekali lagi jangan dikit-dikit Istana, jangan ganggu Bapak Jokowi dalam hal ini," ujar Moeldoko dalam konferensi pers.

4 dari 6 halaman

Moeldoko menegaskan banyak isu yang tidak ada hubungannya dengan Jokowi. Hal itu cukup menjadi urusan staf kepresidenan.

" Banyak orang berbondong-bondong datang ke Istana dan ke rumah ini, tanpa saya tahu tujuan jelasnya, semua datang curhat tentang situasi yang terjadi, saya diamkan saja," kata Moeldoko.

Selanjutnya, Moeldoko prihatin dengan merebaknya isu kudeta di lingkungan Partai Demokrat. Dia menganggap isu tersebut beredar tanpa kejelasan.

" Saya sarankan menjadi seorang pemimpin adalah seorang pemimpin yang kuat, jangan mudah baperan, jangan mudah terombang-ambing, dan seterusnya, dan yang namanya kudeta ya pasti dari dalam masa iya dari luar," kata dia.

Laporan: Josephine Widya

5 dari 6 halaman

Sebut KLB Demokrat Ilegal, AHY: Ada Mantan Kader Tiba-Tiba Pakai Jaket Biru

Dream - Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurty Yudhoyono, secara tegas menyatakan Konferensi Luar Biasa yang digelar di Deli Serdang, Sumatera Utara adalah ilegal. Dia mengklaim kepemimpinannya mendapatkan mandat yang sah dari para kader.

" Saya berdiri di sini karena telah mendapatkan amanah dari seluruh kader yang telah mereka gunakan dan berikan dalam kongres kelima pada 15 Maret 2020 lalu, kongres yang sah, yang demokratis dan juga sudah disahkan oleh negara, oleh Pemerintah, oleh Kemenkumham," ujar AHY dalam konferensi pers.

AHY menuding KLB yang digelar sejumlah mantan kader partainya didasari niat dan dilakukan dengan cara-cara buruk. Dia menyatakan KLB tersebut tidak berdasarkan pada konstitusi partai.

" Artinya, KLB tersebut tidak memiliki dasar hukum partai yang sah," kata dia.

6 dari 6 halaman

AHY juga menyatakan para peserta KLB adalah mereka yang tidak memiliki suara sah. Kebanyakan adalah mantan kader yang sudah dipecat.

" Ada juga mantan kader yang sudah lama tidak aktif lagi, bahkan sudah pindah partai, tiba-tiba kembali mengenakan jaket biru Demokrat. seolah-olah mereka kader aktif, seolah-olah mereka kader yang memiliki suara yang sah," kata dia.

Dia pun mengklaim memegang janji kesetiaan dari seluruh DPD dan DPC yang sah. Selain itu, sebanyak 93 persen pemilik suara sah di Partai Demokrat berada di tempatnya masing-masing, tidak menghadiri KLB.

" Siapapun yang membawa surat kuasa DPD dan DPC, itu adalah palsu, itu ilegal, dan tentu akan kita lakukan langkah-langkah hukum terhadap itu," kata dia.

Beri Komentar