Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin
Dream - Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin meminta Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) merespons berkembangnya isu radikalisme dan intoleransi. Untuk menangkal radikalisme dan intoleransi, kata dia, PTKIN harus lebih sering menggaungkan paham moderat.
" Paham moderasi harus lebih digaungkan. Sehingga dapat mengisi wacana publik dengan harapan tidak hanya kesadaran yang tumbuh, tapi juga bisa diamalkan di tengah-tengah kehidupan bersama kita di Indonesia yang beragama dan majemuk," kata Lukman Hakim Saifuddin di Hotel Sofyan, Jakarta Pusat, Selasa, 24 Januari 2017.
Rencananya, PTKIN akan mematangkan rancangan aksi untuk mengantisipasi radikalisme dan toleransi. " Masing-masing PTKIN akan terikat dengan (program aksi) yang sudah mereka rumuskan," ujar dia.
Sementara itu, Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama Amsal Bakhtiar mengatakan, tanpa adanya intoleransi dan moderasi maka kesatuan Republik Indonesia yang nyata tidak bisa diwujudkan.
Jika nantinya Indonesia terpecah belah, maka ada negara lain yang diuntungkan. Amsal mencontohkan, kondisi Indonesia saat ini seperti negara Yugoslavia yang terpecah-belah.
Amsal menjelaskan saat ini tidak kurang ada 702 perguruan tinggi Islam di Indonesia, terdiri dari 56 negeri dan 662 perguruan tinggi Islam swasta. Dia menilai, jumlah tersebut sangat strategis dalam merajut NKRI dan merawatnya.
" Jadi salah satunya kita memberikan wawasan mengenai kebangsaan, kebhinekaan, kepada dosen dan mahasiswa, kalau mau KKN terjun ke masyarakat juga dibekali terlebih dahulu, soal pendidikan kewarganegaraan juga ada di SKS, Menwa yang sudah dilatih juga nanti bisa dikirim ke daerah," ujar Amsal. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun