Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Cheryl Sudduth (pakistantimesusa.net)
Dream - Dikenal sebagai negara yang keras menyuarakan kesetaraan hak, Amerika Serikat justru menjadi salah satu negara yang kerap melakukan tindak diskriminasi kaum minoritas. Keterwakilan kaum minoritas dalam parlemen merupakan salah satu cara untuk memperjuangkan kesetaraan di negeri pimpinan Barack Obama itu.
Hal inilah yang tengah berupaya diperjuangkan oleh Cheryl Sudduth. Perempuan muslim kedua yang juga kandidat untuk merebut kursi Kongres AS. Namanya muncul sebagai salah satu kandidat yang mewakili 11 distrik di California yang terdiri dari sejumlah negara bagian di Contra Costa Country.
Diwartakan Al-arabiya, Sabtu 9 Mei 2014, Sudduth dinilai sebagai sosok demokratis yang tepat. Apalagi, Sudduth banyak mendapat dukungan dari perempuan, komunitas muslim, dan masyarakat keturunan Afrika-Amerika (Afro Amerika). Sebelum resmi menduduki jabatan sebagai anggota kongres, dia telah menghabiskan seumur hidupnya untuk memberikan advokasi bagi sejumlah kalangan yang membutuhkan.
Penyandang cacat termasuk kalangan yang banyak terbantu kehadiran sosok Sudduth. Delapan tahun terakhir, Sudduth menghabiskan waktunya untuk membuka kesempatan kerja dan pelatihan bagi ratusan pria dan wanita yang kurang mampu. Dia dikenal sangat dermawan. Hampir separuh hidupnya diberikan untuk memberi kepada yang membutuhkan.
Melalui perannya Sudduth diketahui tanpa lelah memperjuangkan upah yang adil, kesetaraan gender, etnis, dan diskriminasi di tempat kerja. Dia beranggapan semua orang harus memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan kompetensi yang sama untuk bersaing di lingkungan global. Wanita keturunan Afrika ini diketahui memiliki klub non profit ICYSports yang secara sukarela memberikan pelatihan hidup dan etika bagi perempuan muda. untuk menularkan semangat positif dalam menjalani hidup.
Ibu dari dua putra dan seorang putri ini fokus meningkatkan perjuangannya pada sistem pendidikan publik, yang dinilainya sebagai investasi untuk menutup kesenjangan prestasi dan ekonomi. Hal ini disebutnya untuk membangun tenaga kerja yang terlatih dalam sejumlah pengaturan yang sesuai dengan dunia kerja berbasis pembelajaran, pelatihan industri, keterampilan berbasis pembelajaran, teknologi atau pelatihan tekini, pengalaman dan pelatihan on-the-job.
Para pengusung menyebut Sudduth memiliki kemampuan dalam negosiasi, mediasi, dan menyelesaikan masalah. Sudduth dipercaya memiliki metode terbaik untuk mengetahui apa saja yang sesuai dengan hati nurani perempuan. Dengan memastikan sosoknya mendapatkan tempat di tengah anggota dewan legislatif. Kehadirannya menjadi contoh bagi perempuan muslim yang memiliki hak kesetaraan dan keragaman karena mereka merupakan bagian dari masyarakat Amerika. (Ervina Anggraini)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya