Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bandara Soekarno-Hatta (Merdeka.com/Arie Basuki)
Dream - Pekerja di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dinilai rentan terinfeksi pernafasan akut asal Timur Tengah atau MERS. Penilaian ini didasarkan karena bandara Soekarno-Hatta menjadi arus utama keluar-masuk warga dari Timur Tengah. Untuk itu pengelola bandara diminta mewaspadai penyebaran virus ini.
" Bandara Soekarno-Hatta merupakan arus keluar masuk warga dari Timur Tengah. Maka warga Kota dan Kabupaten Tangerang sangat rentan, begitu juga pekerja," kata Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Cabang Banten Ade Rusmiati di Tangerang, Jumat 9 Mei 2014.
Kendati hingga kini, belum ada laporan warga Kota dan Kabupaten Tangerang yang positif dinyatakan menderita suspect penyakit yang sudah merenggut 100 nyawa lebih dari berbagai belahan dunia itu. Namun demikian, warga diminta agar tetap waspada. Apalagi, virus MERS belum memiliki obatnya. Jadi, tergolong berbahaya dan patut diwaspadai.
Pekerja di Bandara Soekarno-Hatta yang rawan terkena virus MERS itu yakni pramugari, ground staf, petugas trolly dan pengemudi taksi. PT Angkasa Pura II, lanjutnya, harus melakukan upaya untuk mencegah masuknya virus MERS. Meski saat ini telah dilakukan dengan pemindai temperatur tubuh.
" Walaupun sudah ada cara pemindai temperatur tubuh, namun perlu langkah-langkah lainnya karena hal itu memungkinkan adanya penderita yang lolos," ujar Ade.
Sementara Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Indri Bevy menyebut, pihaknya sudah memberikan sosialisasi kepada 32 Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dan kepala Puskesmas. Tujuannya adalah agar dapat disosialisasikan dan dipahami kepada masyarakat sebagai upaya pencegahan penularan MERS.
" Dari sosialisasi ini kita harap mereka bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat dan calon jamaah haji atau umroh," jelas Indri. Dia menambahkan, dua RSUD di Banten disiapkan untuk menampung pasien suspect penyakit MERS yakni RSUD Kabupaten Tangerang dan RSUD Serang.
Dengan kelengkapan sarana seperti ruang isolasi, tenaga medis terlatih, maka dapat dipastikan bila kedua RSUD itu siap untuk menampung pasien suspect penyakit MERS. Dari total 28 dokter spesialis paru-paru yang tergabung dalam PDPI Banten, terdapat enam dokter yang disiapkan untuk menangani pasien suspect penyakit MERS. (Sumber: Merdeka.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya