Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Sejak Maret 2020, seluruh pelajar/ mahasiswa mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi, belajar dari rumah karena pandemi Covid-19. Berkumpul dalam ruang kelas yang tertutup akan sangat berisiko bagi anak-anak tertular Covid-19, sehingga keputusan untuk belajar jarak jauh masih diberlakukan hingga saat ini.
Berbagai macam permasalahan muncul dengan penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Seperti sumber daya yang tak siap, di mana para guru dan murid yang masih belum bisa memanfaatkan teknologi belajar jarak jauh dengan baik. Hal yang juga paling mendasar adalah, insfrastruktur yang tak mendukung. Masih banyak murid dan pelajar yang tak memiliki ponsel atau laptop.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun akhirnya menerapkan kurikulum darurat di mana sekolah dan guru tak dibebani materi yang banyak dan lebih fleksibel dalam memberikan materi pelajaran. Ujian Nasional juga dibatalkan.
Dalam kondisi seperti ini, menurut Profesor Arief Rachman pakar pendidikan yang juga Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco, dalam Bincang Editor bertema 'Potret Pendidikan Indonesia di Masa Pandemi' hari ini 19 Oktober 2020 di @vidiodotcom mengungkap kalau kondisi seperti sekarang memang tidak ideal tapi tak selalu buruk.
" Kita punya beberapa masalah yang muncul, tapi dampak positifnya juga ada. Seperti kini banyak sekali situ belajar online yang bisa diakses peserta didik untuk memperdalam materi. Webinar zoom bisa dipantau oleh orangtua," kata Prof Arief.
Orangtua pun bisa langsung mendampingi anak-anaknya saat belajar di rumah. Saat ini memang orangtua memegang peranan utama demi memastikan buah hati mendapatkan pendidikan meski di rumah saja.

Ia juga menyoroti para siswa yang kini bisa belajar dari mana saja dan justru membuat wawasannya bertambah luas. Termasuk mempelajari teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran.
" Hal yang penting dalam pendidikan itu adalah suasana belajar, mau si sekolah di kebun, di taman, yang penting bisa mengembangkan spiritual, kepribadian, keterampilan," pesan Prof Arief.
Penerapan PJJ artinya kesehatan anak-anak dan para siswa serta mahasiswa adalah prioritas. Demi menjaga kesehatan anak-anak, pastikan selalu menjalankan protokol kesehatan selama pandemi, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Dream - Salah satu protokol kesehatan yang selalu digaungkan demi mencegah penularan Covid-19 saat berada di ruang publik adalah selalu menjaga jarak atau social distancing. Jarak yang dianjurkan antara 1 hingga 2 meter.
Social distancing harus dilakukan bersamaan dengan mengenakan masker dan mencuci tangan pakai sabun selama 20 detik. Mungkin Sahabat Dream bertanya-tanya, seberapa efektifkah jaga jarak mencegah penularan Covid-19?

Penting diketahui kalau Covid-19 menyebar terutama di antara orang-orang yang melakukan kontak dekat untuk waktu yang lama. Penyebaran terjadi ketika orang yang terinfeksi virus tersebut batuk, bersin, atau berbicara.
Percikan (droplet) baik dari mulut atau hidung terbang ke udara dan mendarat di mulut atau hidung orang di sekitarnya. Tetesan juga bisa dihirup ke paru-paru. Dikutip dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention/ Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) Amerika Serikat, studi terbaru menunjukkan bahwa orang yang terinfeksi tetapi tidak memiliki gejala kemungkinan besar juga berperan dalam penyebaran COVID-19.
Hal itu membuat orang terinfeksi dan tak ada keluhan dapat menyebarkan virus sebelum mereka tahu bahwa mereka sakit. Untuk itu sangat penting untuk menjaga jarak setidaknya 1,5 meter.
Jaga jarak juga harus diterapkan pada orang yang dikenal dekat dan tampak sehat. Pasalnya, kita tak bisa mengetahui kondisi orang positif Covid-19 secara kasat mata. Pencegahan adalah yang utama.
Jarak sosial juga membantu meminimalisir risiko untuk bersentuhan dengan permukaan yang terkontaminasi dan orang yang terinfeksi di luar rumah. Paling aman, hindari kerumunan atau tempat ramai.
Bila terpaksa ke area yang ramai, usahakan untuk menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain setiap saat, dan kenakan masker. Masker sangat penting pada saat jarak fisik sulit dilakukan.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID-19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya