Pembuat Patung Selamat Datang Bundaran HI Wafat

Reporter : Ahmad Baiquni
Selasa, 5 Januari 2016 12:32
Pembuat Patung Selamat Datang Bundaran HI Wafat
Edhi meninggal setelah berjuang melawan infeksi paru-paru.

Dream - Kabar duka datang dari Yogyakarta. Edhi Soenarso, pria pembuat sejumlah patung monumental di Ibukota menghembuskan nafas terakhir setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Jogja Intenational Hospital akibat infeksi paru-paru.

" Telah berpulang ke pangkuan Allah SWT, pematung Indonesia Empu Ageng Edhi Soenarso, malam ini (Senin) pukul 23.15 di RS Jogja International Hospital," tulis pengelola akun Facebook Institut Seni Indonesia Jogjakarta (Indonesia Institute of the Arts Jogja), diakses Dream pada Selasa, 5 Januari 2016.

Jenazah Edhi akan dimakamkan siang ini sekitar pukul 13.30 WIB di pemakaman seniman Imogiri. Sebelum dimakamkan, jenazah akan disemayamkan di rektorat ISI dan akan digelar upacara penghormatan terakhir.

Pria yang lahir di Salatiga, 2 Juli 1932 ini mulai belajar membuat patung saat menjadi tawanan KNIL di Bandung antara 1946-1949. Usai bebas, Edhi menempa kemampuannya dengan mengambil pendidikan resmi di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, yang sekarang bernama ISI.

Usai menamatkan pendidikan di ASRI pada 1955, Edhi mematangkan kemampuannya dalam membuat patung dengan melanjutkan pendidikan di Kelabhawa Visva Bharati University Santiniketan, India. Dia lulus dari universitas tersebut pada tahun 1957 dan menjalankan profesi sebagai pematung sekaligus pengajar di ISI.

Sepanjang hidupnya, Edhi menorehkan sejumlah prestasi. Karyanya menghiasi wajah Ibukota Jakarta, seperti Patung Selamat Datang di bundaran Hotel Indonesia (HI), patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, patung Dirgantara di Pancoran.

1 dari 3 halaman

Ketika Si Unyil 'Kaya', Pak Raden Justru Merana

Dream - Suyadi atau lebih dikenal sebagai Pak Raden merupakan pencipta karakter ikonik Si Unyil. Pria kelahiran Jember, 28 November 1932 ini telah membawa nuansa baru bagi dunia anak Indonesia.

Selain dikenal sebagai pencipta karakter si Unyil, pria yang selalu identik dengan kumis tebal ini juga dikenal sebagai pelukis. Pria lulusan lulusan jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung ini, bahkan sempat belajar animasi di Perancis pada tahun 1961-1963.

Sekembalinya di Indonesia, dia kemudian mulai membangun karakter si Unyil. Akhirnya, di sekitaran 1980-an karakter si Unyil pertama kali tayang di TVRI.

Meski mencipta si Unyil, ia tak mendapatkan hak cipta atas karakter bocah yang identik dengan sarung dan peci itu. Hingga usia senja hak cipta itu tak bisa didapatkannya.

Beberapa kali kabar sedih mengenai Pak Raden muncul. Dia sering dikabarkan sakit-sakitan. Ini diperparah dengan kondisi ekonominya yang berantakan.

Bahkan ia sempat melego lukisan yang pernah dibuatnya kepada Presiden Joko Widodo, yang kala itu masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Rencananya, uang dari hasil penjualan lukisan itu rencananya akan digunakan sebagai biaya pengobatan sakit kaki yang dialaminya.

Pria yang memilih hidup membujang ini sakit-sakitan sehingga terus bergantung pada kursi roda dalam aktivitas keseharian.

Di tengah penyakit yang diderita, rencananya ia masih akan mengisi gelaran Festival Dongeng Indonesia pada 30-31 Oktober 2015 di Museum Nasional, Jakarta.

Sayangn, maut tak bisa menunggu. Pak Raden, sang ayah Si Unyil dipanggil Sang Kuasa pada Jumat 30 Oktober 2015 pukul 22.30 WIB di RS. Pelni, Petamburan, Jakarta. Selamat jalan Pak Raden, semoga amal dan ibadahmu diterima oleh Yang Maha Kuasa...

(Laporan: Maulana Kautsar)

 

2 dari 3 halaman

Sartono, Pencipta Lagu Hymne Guru Berpulang

Dream - Awan duka menyelimuti Indonesia akhir pekan ini. Setelah kepergian seniman Drs Suyadi (Pak Raden), Indonesia kegilangan sosok pahlawan para guru, Sartono.

Untuk yang belum mengenalnya, Sartono adalah pencipta lagu Hymne, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

Kabar meninggalnya Sartono pun langsung ramai di jaring media sosial. Sejumlah ucapan belasungkawa mengalir deras.

" Ketua PGRI JaTim, Ichwan Sumadi: Telah berpulang pencipta lagu " Hymne Guru" Sartono (79) di Madiun, sosok yg mengangkat citra para pendidik," ujar akun @Radioelshinta dalam akun Twitternya, Minggu, 1 November 2015.

Sartono, pria kelahiran Madiun ini memulai karir sebagai guru musik pada 1978. Sartono mulai mengabdi di sebuah yayasan swasta di kota kelahirannya. Dia baru purna tugas dari sekolah tersebut pada 2002.

Lagu Hyme Guru karangan Sartono merupakan salah satu karyanya di bidang musik. Lagu ini pertama muncul bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional pada tahun 1980.

Kala itu Sartono mengikuti lomba mencipta lagu tentang pendidikan. Selain Hymne Guru, Sartono juga menghasilkan delapan lagu bertema pendidikan lainnya.

Perhatiannya dalam dunia pendidikan dan pengabdiannya sebagai guru membuahkan penghargaan dari Mendikbud Yahya Muhaimin dan Dirjen Pendidikan Soedardji Darmodihardjo pada saat menciptakan lagu " Hymne Guru" .

Sartono tutup usia di Rumah Sakit Umum Daerah Madiun, setelah menjalani perawatan sejak 20 Oktober lalu.

Sartono dinyatakan mengidap komplikasi penyakit penyumbatan pembuluh darah otak, darah tinggi, serta diabetes melitus.

3 dari 3 halaman

Gusti Noeroel, Putri Keraton yang Dicintai Soekarno Wafat

Dream - Istana Mangkunegaran, Surakarta, berduka. Gusti Raden Ayu (GRAy) Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemowardhani Soerjosoejarso atau yang karib disapa Gusti Noeroel meninggal dunia di Rumah Sakit St Carolus, Bandung, Selasa kemarin, pukul 08.20 WIB.

" Ibu meninggal di Bandung karena gerah sepuh," kata Putra pertama Gusti ‎Noeroel, KPH Sularso Basarah Soerjosoejarso, di Pura Mangkunegaran, Solo, Rabu 11 November 2015. Gusti Noeroel wafat dalam usia 94 tahun.

Jenazah telah tiba di Pura Mangkunegara pada hari Rabu sekitar pukul 08.00 WIB. Gusti Noeroel akan dikebumikan di kompleks pemakaman keluarga Mangkunegara di Astana Girilayu, Matesih, Kabupaten Karanganyar.

" Beliau tiba di Pura Mangkunegara Rabu pagi setelah diterbangkan dari Jakarta. Sebelumnya jenazah diberangkan dengan perjalanan darat dari Bandung menuju Jakarta sebelum diterbangkan ke Solo," jelas Sularso Basarah.

Semasa muda, Gusti Noeroel menjadi " rebutan" banyak tokoh nasional untuk dipersunting. Di antaranya Bung Karno, Sutan Syahrir, dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sultan Jawa itu ingin menjadikan Gusti Noeroel sebagai permaisuri.

" Beliau merasa tidak nyaman karena Ngarso Dalem (Sri Sultan) sudah punya garwo (istri). Jadi ibu tidak mau menyakiti garwo Ngarso Dalem lainnya. Untuk itu lebih baik tidak menerima pinangan itu," kata dia.

Bung Karno juga jatuh hati dengan Gusti Noeroel. Kala itu, sang Proklamator Bangsa tengah mencari istri untuk " first lady" . Namun Gusti Noeroel tak bersedia. " Saat itu Bung Karno belum sama ibu Fatma. Ibu nggak suka yang sifatnya bersuami seorang politisi kan nanti sering ditinggal-tinggal, jadi tidak nyaman," jelas Sularso Basarah.

Sularso Basarah menambahkan, selain kedua tokoh itu, ada pula Sutan Syahrir. Bahkan, saat itu Syahrir sering sekali memberikan hadiah kepada Gusti Noeroel. Begitupun sebaliknya. Namun, Gusti Noeroel tidak begitu sreg dengan aktifitas politik yang digeluti Syahrir. " Ya karena aktifitas berpolitik itu yang kurang disenangi Beliau," papar dia.

Akhirnya, cinta Gusti Noeroel berlabuh ke hati seorang perwira militer bersama, Soerjosoejarso. Mereka dikaruniai tujuh anak. Gusti Noeroel juga dikaruniai 14 cucu serta 4 cicit.

Salah satu momen mengesankan adalah saat Gusti Noeroel menari dalam acara pernikahan Putri Juliana dengan Pangeran Benhard di Kerajaan Belanda tahun 1937. Saat menari, iringan gamelan disiarkan langsung dari ndalem Pura Mangkunegaran yang disiarkan melalui siaran radio Solosche Radio Vereeniging.

Gusti Noeroel juga dikenal sangat gemar olahraga berkuda, tenis, dan renang. Bahkan, anak-anaknya pun dilatih untuk bisa berkuda. " Adik-adik saya juga dilatih untuk bisa berkuda," ujar Sularso.

Laporan: Ben Satrian

 

Beri Komentar