Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Spike (Foto: Mirror UK)
Dream - Baru-baru ini, peneliti di Sekolah Biokimia, University of Bristol, Inggris, mengklaim mereka berhasil menemukan adanya 'kantong obat' di dalam protein SARS-CoV-1, virus penyebab Covid-19.
Para peneliti menyebut, 'kantong obat; itu, merupakan titik kelemahan dari Virus Corona. Temuan itu nantinya dapat dijadikan sebagai sebuah senjata atau obat antivirus untuk menghentikan virus menginfeksi tubuh manusia.
Kepala Tim Penelitian, Profesor Christian Schaffitzel mengatakan, SARS-CoV-2 dilindungi banyak salinanan glikoprotein atau yang lebih dikenal sebagai Spike, memainkan peran penting dalam infektivitas virus.
Spike mengikat permukaan sel manusia, yang memungkinkan Virus Corona menembus sel dan mulai bereplikasi. Ketika itu terjadi, kerusakan yang lebih besar tak dapat dihindari.
Christiane dan tim akhirnya menemukan bahwa virus corona menggunakan molekul kecil yang disebut asam linoleat (LA) untuk mengikat dirinya sendiri dan menyebar.
LA adalah asam lemak bebas yang sangat diperlukan untuk banyak fungsi seluler. Tubuh manusia memang tak dapat menghasilkan LA, tapi tubuh menyerap molekul kecil melalui makan.
" Menariknya, LA memainkan peran penting dalam peradangan dan modulasi kekebalan, yang keduanya merupakan elemen kunci dari perkembangan penyakit COVID-19," katanya.
" LA juga dibutuhkan untuk menjaga membran sel di paru-paru agar kita bisa bernapas dengan baik," katanya.

Di sisi lain, Profesor Berger justru bingung dengan hasil temuan tersebut. Sebab, virus yang menyebabkan kekacauan di muka bumi saat ini, justru berpegang pada molekul ini, yang digunakannya untuk menghancurkan pertahanan tubuh manusia.
" Penemuan kami memberikan hubungan langsung antara LA, manifestasi patologis Covid-19, dan virus itu sendiri. Pertanyaannya sekarang, bagaimana mengubah pengetahuan baru ini melawan virus itu sendiri dan mengalahkan pandemi," ujarnya.
Berger berharap temuannya itu semakin memudahkan para peneliti mengembangkan obat antivirus untuk melawan COVID-19.
Sebab, kantong yang sama pernah mereka temukan di dalam rhinovirus, virus yang menyebabkan flu biasa. Dan, peneliti berhasil menghentikan penularan virus tersebut.
Sumber: Mirror UK
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya