8 Klaster Pesantren Penyebaran Covid-19 di Jawa Tengah

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 24 September 2020 17:01
8 Klaster Pesantren Penyebaran Covid-19 di Jawa Tengah
Ada delapan klaster baru di Jateng, tiga di antaranya pondok pesantren.

Dream - Kementerian Kesehatan melaporkan adanya kenaikan klaster penyebaran Covid-19 dalam kurun waktu beberapa hari belakangan di seluruh Indnesia. Jumlah klaster saat ini sebanyak 1.146, meningkat dari sebelumnya 1.137.

" Terdapat penambahan klaster, yaitu 1.146 klaster," ujar Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Mariya Mubarika, dikutip dari Merdeka.com.

Mariya menjelaskan Jawa Tengah menjadi provinsi dengan penambahan klaster paling banyak mencapai 8 klaster. Pesantren mendominasi penambahan klaster tersebut.

Selanjutnya, Mariya mengatakan pihaknya akan memantau perkembangan klaster tersebut. Dia meminta masyarakat tidak panik dalam menghadapi pandemi Covid-19.

" Kita pantau secara ketat dan terus menerus oleh unsur-unsur kesehatan di wilayah terkait. Untuk itu, masyarakat tidak perlu panik, pemerintah menjamin tidak akan ada penularan keluar klaster," ucap Mariya.

 

1 dari 4 halaman

Klaster Baru

Ini daftar delapan klaster penularan Covid-19 baru di Jawa Tengah.

1. Pondok Pesantren Kecamatan Sumbang, Banyumas,
2. Pondok Pesantren Kelurahan Purwanegara, Kecamatan Purwokerto Utara,
3. Kelompok Warga Kelurahan Randu Acir, Kecamatan Argomulyo, Salatiga,
4. Gedung Menara Wijaya Sekretariat Daerah Sukoharjo,
5. RSUP dr Soeradji Tirtonegoro, Klaten,
6. Pondok Pesantren Kendal,
7. Puskesmas Kaliwungu, Kendal,
8. Arisan RT Pedukuhan Tlogolego, Kulon Progo.

Sumber: Merdeka.com/Intan Umbari Prihatin

2 dari 4 halaman

Terus Merugi, Hotel di Depok Kini Siap Tampung Pasien Isolasi Covid-19

Dream - Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus mempersiapkan sejumlah fasilitas untuk menampung pasien Covid-19.

Salah satunya hotel yang akan dimanfaatkan untuk tempat isolasi pasien Orang Tanpa Gejala (OTG) Covid-19.

Hal itu disambut baik oleh sejumlah pengelola hotel. Salah satu alasannya, rendahnya okupansi hotel.

Hal itu dibenarkan oleh Manajemen Hotel Sifaana Depok, April. Dia mengatakan hotelnya telah mengajukan kesediaan untuk dijadikan fasilitas isolasi pasien OTG.

" Ya, betul. Yang mengajukan dari perusahaan sekitar 3-4 hari lalu. Dari PHRI Jawa Barat mengajukan ke kita, kita isi data-datanya bersedia, gitu," ujar April, dikutip dari Merdeka.com.

 

3 dari 4 halaman

Okupansi Rendah

April menjelaskan saat ini okupansi pada hotelnya hanya sekitar 15 persen dari total kamar. Penampungan pasien OTG maupun bergejala ringan Covid-19 diharapkan dapat menutup biaya operasional hotel.

" Ini dari manajemen, kita enggak bisa jawab. Mungkin juga kondisi sekarang ini kan sepi juga, mungkin kalau dipakai itu ada pendapatan lah karyawan kita. Enggak semua (kamar) dipakai," kata April.

Menurut April, sejak pandemi Covid-19, hotel tempatnya bekerja mengalami kerugian. Manajemen hotel tetap harus membayar karyawan sementara tidak ada pemasukan dari tamu.

" Sekarang ini kan kita rugi untuk operasional, bayar karyawan. Sudah turun jauh, hancur, okupansinya cuma 15 persen sekarang," kata April.

 

4 dari 4 halaman

Tunggu Izin dari Pemerintah

Hotel Sifaana memiliki 50 kamar dengan tarif rata-rata Rp300 ribu per malam. Saat ini, kata April, pihaknya menunggu keputusan pemerintah terkait izin pemanfaatan hotel untuk penampungan pasien Covid-19.

" Sampai saat ini belum (ada keputusan). Kayak OTG itu, kita masih berani, mau. Cuma APD-nya yang sulit," ucap dia.

Sumber: Merdeka.com/Nur Fauziah

Beri Komentar