Penembakan Jet Tempur Rusia Picu Perang Dunia III?

Reporter : Eko Huda S
Kamis, 26 November 2015 18:02
Penembakan Jet Tempur Rusia Picu Perang Dunia III?
Banyak pihak khawatir penembakan itu akan memicu perang global. Apakah Perang Dunia III benar-benar akan pecah?

Dream – “ Perang Dunia III” menjadi trending topik dunia di Twitter, setelah Turki menembak jatuh jet tempur Rusia pada Selasa lalu. Banyak pihak khawatir penembakan itu akan memicu perang global. Apakah Perang Dunia III benar-benar akan pecah?

Kekhawatiran pecahnya Perang Dunia III memang bisa dipahami. Rusia adalah negara dengan kekuatan besar. Masuk ke dalam empat negara berkekuatan nuklir. Sedangkan Turki merupakan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO –yang beranggotakan Amerika Serikat dan sebagian besar negara Eropa.

Setelah insiden itu, Presiden Rusia, Vladimir Putin, memang mengeluarkan pernyataan keras. Dia menyebut Turki telah “ menusuk dari belakang”. Turki juga disebut mendukung teroris karena telah menembak pesawat Su-24 yang tengah membombardir sarang ISIS di Suriah.

Apalagi, setelah insiden itu Rusia mengerahkan kekuatan ke Suriah. Sistem rudal pertahanan udara S-400 segera dikerahkan ke Pangkalan Angkatan Udara Rusia di Khmeimim, Suriah.

Meski demikian banyak pakar yang menganalisa insiden itu tidak akan menjadi pemicu Perang Dunia III. Setidaknya itulah analisa dari lembaga pengamat pertahanan yang berbasis di London, Inggris, IHS Jane’s.

“ Implikasi langsung dari penembakan pesawat kemungkinan akan tetap terbatas pada krisis diplomatik,” demikian analisa IHS Jane’s, sebagaimana dikutip Dream dari Washington Times, Kamis 26 November 2015.

Ketegangan diplomatik memang langsung terlihat. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, yang sudah dijadwalkan berkunjung ke Turki pada Rabu kemarin langsung membatalkannya. Namun, ketegangan ini diyakini tak sampai pada perang global.

Dalam blognya, profesor dari New York University, Mark Galeotti, menulis bahwa Rusia dan negara-negara NATO sama-sama ingin masalah ini berlalu. “ Rusia tidak bisa berperang dalam diplomatik yang panas panas melawan musuh yang terlalu banyak,” tulis Galeotti, yang pernah meneliti sejarah Rusia.

Sementara peneliti dari Royal United Services Institute, London, Sarah Lain, paling banter Rusia akan melampiaskan kemarahan pada pemberontak Suriah yang berafiliasi ke Turki. Rusia diyakini tak bakal menggempur negara pimpinan Erdogan karena kedua negara ini saling membutuhkan dalam hal ekonomi.

Selama ini, Rusia menjadi negara pemasok gas utama ke Turki. Rusia bisa saja menghentikan pasokan gas ke Turki, sebagaimana dilakukan kepada Ukraina akibat perang Crimea. Tapi tentu saja cara ini tidak menguntungkan bagi negeri Beruang Merah.

“ Rusia tidak bisa benar-benar kehilangan mitra ekonomi sekarang. Rusia saat ini tidak bisa kehilangan pendapatan besar, itu akan terjadi jika menghentikan pasokan gas ke Turki,” kata Lain sebagaimana dilansir NBC News.

Tapi, dalam kasus Ukraina, Moskow telah membuktikan mereka bersedia kehilangan mitra ekonomi daripada harus “ kehilangan muka”.

Lantas bagaimana dengan NATO? Setelah insiden penembakan jet Rusia itu langsung menggelar pertemuan. Seperti yang dilakukan pemerintah Rusia. Pertemuan itu untuk menyikapi insiden ini. Dan setelah itu, Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg meminta semua pihak menahan diri.

Stoltenberg meminta Ankara dan Moskow melakukan kontak untuk menyelesaikan insiden itu. “ Diplomasi dan deeskalasi penting untuk menyelesaikan masalah ini,” katanya, sebagaimana dimuat www.voltairenet.org.

Menurut Beyza Unal, peneliti dari Catham House, lembaga think tank berbasis di London, NATO juga tak bisa serta merta turut campur dalam konflik ini. Berdasar perjanjian NATO, serangan terhadap negara anggota merupakan serangan terhadap semua peserta aliansi. Prinsip ini tertuang dalam Ayat 5 perjanjian aliansi ini.

Beysa menyebut, prinsip pada Ayat 5 itu pertama kali digunakan pada saat peristiwa pengeboman menara kembar WTC di Amerika Setikat. Namun, insiden penembakan jet Rusia oleh Turki ini dinilai tak sampai menyeret NATO dalam pusara perang.

Berdasar Ayat 5 itu, ada syarat yang harus dipenuhi. Yaitu adanya serangan ke negara anggota NATO. Namun dalam konflik ini Turki tidaklah diserang oleh Rusia. “ Saya tidak berpikir (syarat) itu meliputi pelanggaran wilayah udara,” kata Unal.

Turki memang mengklaim penembakan itu dilakukan karena jet tempur Rusia melanggar wilayah udara mereka. Meski klaim ini dibantah Rusia, yang mengaku Su-24 itu ditembak di langit Suriah.

“ Ini tidaklah mudah untuk menerapkan Ayat 5. Jika Anda melihat kasusnya di mana didasarkan pada sejarah, ada konsekuensi nyata. Anda dapat membuat klaim dengan 9/11. Tapi di sini? Saya tidak melihat apapun,” ujar Unal.  Semoga Bumi ini tetap damai. Amin. (Ism) 

Beri Komentar