Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pengantin Muslim Malaysia (Nichola Dickinson Photography)
Dream - Khawatir dengan tingginya tingkat perceraian, Departemen Pengembangan Islam Malaysia (Jakim) berencana menerapkan program baru untuk pasangan yang baru saja menikah. Jakim ingin setiap pasangan yang baru saja menikah untuk mengikuti pelajaran khusus, seperti kursus sebelum pernikahan yang telah diterapkan di negeri jiran itu.
" Usulan ini bertujuan antara lain untuk memaksa pasangan muslim yang sudah menikah untuk menghadiri kursus dalam tiga hari dan dua malam yang berfokus pada isu-isu domestik, hubungan suami istri, dan mengasuh anak-anak," kata Zakuan Sawai, pejabat Jakim dikutip Dream.co.id dari Bernama, Kamis 26 Juni 2014.
Kekhawatiran Jakim itu bukan tanpa alasan. Sebab, berdasarkan statistik dari Departemen Pengadilan Syariah Malaysia menunjukkan tingkat perceraian pasangan muslim meningkat 2,3 kali. Dari 20.916 perceraian pada sepuluh tahun silam, menjadi 47.740 pada dua tahun lalu. Jumlah itu terus meningkat. Tahun lalu, jumlah perceraian pasangan muslim di Malaysia mencapai 49.311 kasus.
Direktur Pengembangan Keluarga, Sosial, dan Komunitas Jakim itu menambahkan, proposal untuk program ini masih dalam proses persiapan. Program ini juga masih menunggu lampu hijau dari Departemen Agama Islam setempat.
Menurut Zakuan, dalam rencana ini akan dibedakan pasangan yang sudah menikah 1 hingga 5 tahun, 6 hingga 10 tahun, 11 hingga 20 tahun, dan di atas itu. Tapi program ini akan ditekankan pada pasangan yang usia pernikahannya satu hingga lima tahun.
" Ini karena mereka masih dalam proses penyatuan di antara mereka," tutur Zakuan. Dia menambahkan, proyek percontohan program ini sedang berlangsung di kalangan pegawai negeri sipil Malaysia dan akan dilebarkan ke masyarakat umum.
Sebelumnya Malaysia telah mewajibkan pasangan yang akan menikah untuk mengikuti kursus yang diselenggarakan oleh perusahaan swasta yang ditunjuk pemerintah. Setiap calon pengantin yang lulus kursus ini mendapat sertifikat.
Tak hanya mengikuti kursus. Setiap pasangan yang akan menikah di Selangor harus menjalani tes darah untuk mengetahui kemungkinan penyakit yang diidap calon pengantin, terutama HIV. Jika ada penyakit yang diidap calon pasangan, keputusan menikah atau membatalkan tetap berada di tangan pasangan yang akan menjalani hidup bersama. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya